Rabu, 01 Februari 2012

R E T A K

bahkan kaca-kaca yang
menempel di sekujur tubuhku
tak pernah dapat beningkan hatimu
agar cinta terbaca
sebagai jalan bahagia
bukan kisah mata yang berkaca-kaca

lantaran telah retak
berkeping
menyusun masa lalu
bersama pusara
yang kau pahat di jantungku


Yogyakarta, 1 Februari 2011

Senin, 26 September 2011

Secangkir Kopi di Senja Kesekian

Aku menyeduh lalu mengaduk-aduk kopiku dengan perasaan yang teraduk-aduk. Bukan kenapa. Terkadang sesuatu yang mengganjal dan ganjil itu kian melesak. Memaksa hadir. Dalam setiap kesempatan yang tak pernah terencana. Dan kali ini, di sudut senja sebuah beranda. Aku hadir sendiri dengan secangkir kopi di genggaman.

Barangkali kalimat-kalimatku kadung berantakan semenjak awalan. Tak apa. Toh kalimat-kalimat itu tak pernah benar hendak kuhadir-hadirkan dari dalam sini. Ia hadir sendiri. Seperti perasaan yang mengaduk-adukku itu.

Pikiranku menyuruhku untuk berhenti dan sejenak duduk-duduk saja di sini. Menempati salah satu ruang yang selama ini terkunci. Ruang sunyi. Ya, ruang sunyi. Ruang yang menurutku menjadi tempat paling sahih untuk kembali. Ruang di mana aku bisa mengembalikan diriku seutuhnya. Tanpa sesuatu pun syarat kecuali lapang dada yang sepenuh hati.

Selepas ini, barangkali tak akan ada lagi sesuatu yang bertepi. Atas segala pertanyaan. Atas macam-macam pikiran. Atas segundah perasaan penyesalan. Hanya dibutuhkan kuat hati untuk menata-nata kembali. Lengkap dengan aksesoris yang mungkin pernah mati.

Dan, ketika tiba di ruangan ini. Sesuatu tengah berdebar dan menjentikkan nyeri. Tak apa. Barangkali ini yang diistilahkan masa inkubasi. Sebagaimana penyakit yang semestinya kita jauhi...


Sketsajagad, 26 September 2011

Rabu, 05 Januari 2011

Senja Bergetar dalam Layar

Aku berjalan dengan sepasang mata layu
memasuki toko buku
Melangkah pelan di antara timbunan kata-kata
yang menumpukkan ilmu, barisan rak yang
Memajang persembunyianmu
Ribuan buku di tempat ini begitu bernyawa
Tetapi mengapa di mataku tak lebih dari pusara?

Ini senja ke sekian yang masuk
dalam lanskap paling nadhir
Mengirimiku puisi tentang
air laut yang tiba-tiba anyir
Tersembul dari sebuah buku buah pena penyair
Tak ada yang sedih dan yang indah
Semuanya cuma kenangan sekarang
Bahkan meski begitu deras hatiku tergelincir*


Tahukah engkau, Cintaku..
Hatiku penuh dirimbuni buku-buku
Menulis rinci seturut bab-bab tentang masa lalu
Memangkas rindu
Membungkusnya dalam memar kalbu

Engkau, seperti juga buku-buku di tempat ini
Adalah jelmaan ribuan kepala yang ingin selalu aku baca
Kubawa-bawa di setiap kakiku yang
Menyimpan tikungan dari laguna ke laguna
Kuala ke kuala
Menarikku dalam rindu yang memar saban hatiku bergetar
berucap, "aku mencintaimu"
Hingga suatu ketika nanti aku mengerti
yang sendiri tak bisa kehilangan*


Yogyakarta, 5 Januari 2010

* petikan puisi Dina Oktaviani, "Hati yang Patah Berjalan"

Senin, 03 Januari 2011

Suatu Ketika di "Cakramanggilingan"

Ini waktu adalah ketika senja hendak tenggelam dalam bingkai kaca mataku. Terdiam aku. Dari kemarin hari. Dan kemarinnya lagi. Di sini. Di kedai kopi. Sederhana dan bersahaja. Tempat biasa aku memanjakan selera akan air hitam pekat nan pahit itu. Bersama teman-teman, tak jarang sendirian. Membagi waktuku hanya khusyu’ ke dalam sukmaku.

Dua hari baru mengawali tahun dua ribu sebelas. Aku belum jua bertukar dan menukar-nukar udara; masih pengap nian di sini. Dan sedikit pun aku tak beranjak memangkas sunyi. Ribuan pengetahuan bertubi-tubi terasa menyemak dan menyemut menuju kepalaku. Seakan ada kekuatan yang hendak menguasai sekaligus menumbangkanku. Seperti lembaran-lembaran catatan yang terungguh dan kemudian menyerak di lantai yang bacin dan dingin. Tetapi aku tak hendak berprasangka negatif.

Ada terasa memutar bak kaleidoskop di ruang kepala. Begitu pula ruang batin. Sesuatu yang tak jarang ingin aku enyah sebenarnya. Namun hingga waktu ke sekian tak punah-punah. Sebuah laku prosesi diri menyimak kalam-kalam Tuhan. Yang misterius dan memisteri dalam diriku.

Beberapa pengunjung kedai tampak datang dan pergi. Aku teringat salah satu pengunjung kedai ini telah lama tak muncul. Lama sekali. Aku hitung sejak aku menolak mengiyakan untuk menjadi kekasihnya. Lelaki itu suka sekali memanggilku dengan kata “perempuanku”. Sesuatu yang di luar kuasaku melarangnya, akan tetapi sungguh terasa ‘nggateli’ di telingaku. Hm, apa kabar dia ya? Semoga baik-baik saja. Sebagaimana yang pernah aku ucapkan padanya. Dia lelaki yang entah ke berapa kali, tak aku kabulkan permintaannya memintaku untuk hidupnya. Kupandangi genangan air kopi panasku yang masih mengepulkan asap tipis beserta nguar harumnya. Aku seruput pelan. Hmm, pahit. Seperti nuansaku.

Pandanganku kembali kuarahkan ke layar notebook. Aku mulai menulis kata hatiku.

.........................



Satu pertanyaan yang kembali mengusikku. Ada apa dengan cintaku?

Aku tengah merindukan kekasihku. Rindu yang berlipat-lipat, persis seperti hari-hari di belakang sana yang terlipat. Keberanianku untuk mengeja alif ba ta di sekujur lembar hidupku yang bertumpuk cerita, pada akhirnya, mengurai kemurungan yang sempurna. Menghadirkan nuansa sensitif-sedih yang berceceran di mana-mana. Ada apa dengan cintaku?

Aku memetik satu bintang, lalu kusematkan tepat di jantungku. Berharap dengan cara sederhana ini mampu sedikit mengurangi resahku yang tak memiliki alamat pasti. Berenang dan berdiam dalam diri. Mengenang segala yang bernama diri sendiri. Dan, di dalam kolam duniaku itu ada dirimu, kekasihku..

Tiba-tiba aku seperti serius dengan hatiku. Dengan kata hatiku. Ada apa dengan cintaku? Pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya secara serius. Karena kapasitasku yang terbatas ataukah aku yang malas meneroka ini semua dari awal hingga akhir? Aku yang terbiasa berkerudung sunyi...tiba-tiba merasakan jatuh cinta dan mencintai lagi. Duh?

Di luar sana, sehamparan mendung pekat datang melambat. Ingatanku tercekat. Semestinya ada yang salah di diriku dan bisa lekas kuperbaiki. Seorang pelayan menghampiri. Menemani duduk dan terlihat ingin mengajakku ngobrol seperti biasa. Kuhentikan sejenak tarian tanganku di tuts yang tengah menuliskanmu, kekasihku..

“Ndak pesan kentang, Mbak?” tanyanya begitu duduk di depanku. Sebatang rokok ia sulut tenang. Pelayan kedai yang satu ini adalah yang paling tahu minuman kesukaanku. Karena aku selalu memilih dia untuk membuatkanku kopi. Seorang lelaki dengan rambut keriting kriwil antik. Dialek ngapak tak lekang dari nada bicaranya.

“Ndak. Lagi ndak ingin aja,” kugelengkan kepala.

Sudah menjadi tradisi di sini, jika kedai sedang tak ramai pengunjung maka para pelayan yang berjumlah lebih dari tiga orang akan duduk membaur dengan pengunjung. Aku nyaris mengenal semua ‘stake holder’ kedai ini. Semuanya baik hati. Tidak hanya padaku, tapi juga ke semua orang. Lelaki yang kuceritakan duduk di depanku ini mulai mengudar cerita.

Awalnya ia bertanya kabar tentang sahabat kami, seorang sahabat yang bekerja di tempat di mana aku pemimpinnya. Ia panjangkan kalimatnya dengan kekaguman. Aku mengerti. Mereka sahabat akrab sejak masih sama-sama menuntut ilmu di sebuah pesantren tak jauh dari kedai kopi ini. Sahabat yang tengah kami ketengahkan dalam cerita ini kebetulan tengah mengisi sebuah acara bedah buku di Jombang, katakanlah sebagai pembicara tamu.
Dia terkagum dengan perkembangan sahabat kami ini yang dia katakan ‘pesat’. Hmm...ya. Aku paham maksudnya. Lalu yang tak kuduga muncul. Ia berkisah tentang dirinya sendiri. [aku terhenyak sejenak, dapatkah aku seperti laki-laki di depanku ini? Yang bisa santai dan damai berkisah tentang pribadinya kepada orang lain? Hmm..selama ini aku berpikir bahwa aku hanya dapat berkisah tentangku jika kepada kekasihku saja. Hiks!]

Ia berkisah tentang keinginan terpendamnya ambyur di dunia seni peran. Teater. Aku bertanya, tidakkah keseharian bergelut dengan meracik kopi dan memberikan yang terbaik buat pengunjung maupun pelanggan adalah seni peran tersendiri? Meski tak sehablur dalam pandangan publik. Ia mengisahkan dalam bahasa yang lancar dan tanpa beban. Ketrampilan berkomunikasi dengan beragam orang di kedai ini barangkali melatihnya demikian. Di sela-sela bercerita kadang ia musti balik ke dapur membuatkan minuman pesanan. Lalu kembali lagi ke depan tempat dudukku. Melanjutkan bercerita.

Dulu ketika masih di pesantren, ia sempat menjalani ‘ritual’ tarekat yang berujung pada ‘mursal’ sehingga ia tak betah lagi tinggal di pesantren dan memilih bekerja di kedai kopi seperti sekarang. Aku seperti menyimak biografi ketika dia menceritakan dengan alur yang sangat lancar. Tidak semrawut. Bagaimana latar belakangnya yang tidak mengenyam bangku kuliah/meja akademik membawanya pada pertanyaan-pertanyaan kritis. Tentang Tuhan dan hakikat hidup. Perbincangan yang membawaku melesat menjauhi bumi. Aku menyimak penuturan yang kuat cita rasa jujurnya itu. Persinggungan kentalnya dengan beberapa orang yang kuat dalam hal wacana/pemikiran, hingga suatu ketika, kisahnya, ia sempat berdebat dengan seorang ustadznya hingga ia dicap ‘sesat’. Dugaanku, iklim yang kebetulan pada saat itu tak membangun bagi dirinyalah yang membuatnya harus pergi dari pesantren itu. Sampai di sini aku terdiam. Tak ada yang bisa kukomentari dari ceritanya selain aku memaklumi prosesi seseorang dalam hidup dan pemikirannya. Begitu runtut. Begitu seturut. Di belahan bumi mana saja kerap aku temui. Namun tak mampu aku membuat uraian mereka satu per satu.

Dia keburu meninggalkan tempat duduk saat aku ingin berbicara. Rupanya ia memberiku kesempatan untuk melanjutkan kesendirianku. Dengan notebook yang masih menyala di meja. Aku bergumam sendiri. Selalu ada saja yang menyeret ingatanku. Gumpalan kopiku yang mengental belum segera aku tandaskan. Meski cuma tinggal separuh.

Aku jentikkan jemariku ke tuts lagi. Kalimat terakhir yang kudapati masih tertuang dan mengiang-ngiangkan kerinduan kepada kekasihku. Aku tersenyum pahit. Sembari kulayangkan pandang ke mendung pekat yang mulai merintikkan rinai. Suasana seakan memalam dengan tergesa. Membungkus senja dalam lipatan. Menaruhnya dalam laju kenangan. Melihat mendung berikut rinai yang turun dengan kelebatan yang stabil, aku menera hujan pasti tak akan sebentar. Kopiku masih separuh. Rinduku kian gaduh. Aku tak berniat menghabiskannya seluruh. Kuarahkan mataku kembali ke layar monitor. Hatiku macet.

Kuraih telepon genggamku. Baris-baris kalimat dalam pesan pendekmu begitu manis mengetuk dan mengutuk rindu. Menyejajarkanku dengan bahagia itu sendiri. Bahagia? Ya, aku bahagia ketika kusadari aku mencintaimu. Cinta yang sendiri...

Ingin sekali rasanya kuhapus semua pesan pendekmu di inboxku. Demi melayani rasa bersalahku terhadap hatiku sendiri yang berontak. Tetapi pikiran lain mencegatku. Duhai, kekasih..ada apa dengan cintaku?

Ingatan yang membungkus ruang batinku kemudian adalah, apa yang aku rasakan ini seolah begitu beratnya. Ya, seolah-olah. Ada tiga elemen yang menghuni tubuhku. Pertama, kata hati kecilku yang begitu mencintaimu hingga keegoisan cinta mengepungku [keegoisan cinta: tak peduli dunia meledak, ingin terus diberi perhatian kekasih, dirindukan kekasih, dicintai kekasih, bertemu kekasih, dilimpahi kasih sayang, meronta batin ketika merasa dilupakan, dsbnya].

Kedua, pikiran kritisku bahwa cinta pantas didudukkan pada ruang yang sebenar-benar cinta. Tak ada pamrih secuil pun dari pekerjaan mencintai. Pikiran selanjutnya adalah bagaimana posisiku, bagaimana posisi orang yang kucintai. Apakah jika aku mencinta, maka dunia menjadi lebih baik? Apakah jika aku mencinta, tidak menimbulkan luka bagi kekasih atau orang-orang yang dikasihinya? Apakah jika aku mencinta dan merasa bahagia, mampu menebarkan hal sama bagi orang lain, atau justru sebaliknya; menebarkan keburukan? Tidakkah jika aku mencinta, akan ada orang lain yang terluka? Kalimat selanjutnya yang tak ketinggalan adalah sudah seharusnya sikap “tahu diri” itu dipunyai. Bahwa dalam cinta yang ada hanya memberi. Tak berharap kembali. Tak berharap kekasih juga mencintai. Tak berharap kekasih mengingat kita sampai mati. Tak mengharap apapun dari sang kekasih. Ya, apapun itu!

Ketiga, diriku sendiri yang seutuhnya menyimak dua ujaran elemen bagian tubuhku yang bertaruh itu. Diriku yang ini ibarat loyang. Mengayak setiap yang datang dari keduanya, berharap mendapatkan “emas”. Pada saat hal ini terjadi, suhu tubuhku menjadi tidak karuan. Tidak stabil. Panas-dingin. Tidak berselera makan. Tidak dapat memejamkan mata untuk beristirahat. Sekujur tubuh terasa lemah dan lemas. Singkatnya, aku tidak berdaya.

Tiba pada ingatanku yang kesekian, ada yang terasa hampa. Sangat hampa. Aku seperti kehilangan kekasihku. Hmm, kehilangankah namanya jika tak pernah merasa memiliki? Aku kembali meminum kopiku yang tak lagi panas. Kuteguk tandas. Hujan masih menderas. Yang tampak di sepanjang lalu lintas jalan depan kedai kopi ini adalah lalu-lalang orang dan kendaraan yang gesa dan gegas. Air hujan, mengapa seakan mereka kutuk? Ah, ini pikiranku saja. Siapa tahu di luar sana ada yang bahagia dengan siraman air hujan, meski artinya kebasahan?

Kulambai tanganku memanggil si rambut kriwil. Aku memesan minuman lagi. Kali ini lemon tea panas. Aku lebih suka menamainya teh jeruk nipis panas. Tak lama berselang ia datang membawakanku minuman. Air yang menghantar panas itu mengalirkan rasa hangat di tenggorokan. Air hujan tempias terbawa angin. Menyentuh lembut wajahku. Mengembalikan ingatanku akan kekasihku. Di kedai ini kami pernah melewati senja berdua. Menikmati kopi sembari menukar kata. Menukar tatapan mata. Mencoba membahasakan jiwa. Aku tak ingat, adakah saat itu kami berselimut bahagia? Tapi aku yakin, aku bahagia.

Hmm, aku duduk sendiri di sini sekarang. Ya. Sendiri. Tanpamu. Hanya file-file yang tersimpan dari dinamisasi komunikasi dunia maya kita dapat aku baca. Kalimat-kalimat riangmu menarikan sapaan-sapaan. Berdua kita ramaikan dunia maya dalam jaringan sosial massif itu. Memberikan senyuman dan ciuman. Seakan menjarakkanku dengan waktu ke sekian yang diam dan mendiami hatiku. Aku terhenyak lagi. Di mana engkau kekasihku? Ada apa dengan cintaku?

Kalimat-kalimat dari kenyataan yang jauh-jauh hari aku duga bakal terjadi, terjadilah. Maka aku kembali pada diriku yang ketiga. Mengayak loyang lagi. Bahwa ketika mencinta maka pada saat bersamaan musti siap sakit jiwa. Siap luka. Siap tak bahagia. Siap menjadi yang dilupa. Siap hampa. Sebaliknya, pada saat bersamaan pula, musti terus memberi cinta. Mengulurkan doa-doa bagi kebahagiaan sang kekasih tercinta. Memberi dan mengikhlaskan seluruhnya, dengan rasa bahagia pula. Lalu, pikiran yang datang dari diriku yang kedua muncul; untuk apa selama ini kau menjalani ini? Pertanyaan yang sulit dijawab dan tak perlu dijawab. Diriku yang pertama pun tak mau kalah melempar tanya; tidakkah kau abaikan perasaan cinta dan kebahagiaanmu sendiri? Dijawablah oleh diriku yang ketiga; apa artinya bahagia jika ternyata tak mampu membuat orang lain bahagia? Apa artinya aku kuat, jika bagi orang lain bisa menimbulkan asam urat? Apa artinya aku mencinta jika bagi orang lain bisa menimbulkan derita? Hmm...sudahlah.

Kugeser pikiranku. Menuai ragam terka. Kembali kuketuk pintu rumah jiwaku yang sunyi. Sesunyi air laut saat badai mereda. Selalu saja ada keinginan itu. Keinginan untuk pulang. Ke rumah sunyiku yang nyaman dan tenang. Bodohnya diriku, tak pernah merasa bahwa rupanya kata-kata yang melesat dari susunan abjadku bagi kekasihku terasa menyakitkan. Membawaku ke persimpangan. Aku mencintai tapi aku juga ingin pergi. Bersebab sesuatu yang sungguh, tak aku mengerti dan pahami.

Dari rumah sunyiku yang tenang, aku tersengat oleh sebuah serangan; menyuruhku mengubur kenangan! [jangan khawatir, Sayang. Aku tak menghiraukan]

Kuhabiskan kemudian teh jeruk nipisku. Kuhembuskan kemudian ruah syukur. Sesuatu yang mendudukkanku saat ini adalah cakramanggilingan-Nya. Apa yang dapat aku tawar kepada-Nya selain tunduk dan mengikhlaskan segalanya yang kini memilih titik incinya di sudut batinku yang tersudut? Detak jantungku masih berdenyut. Prosesi ini masih akan terus berlanjut. Dengan atau tanpa pengetahuan yang runtut.

Aku rindu kekasihku. Aku ingin bertemu...

Kututup tulisanku dengan tanda titik lebih dari satu. Lalu kumatikan notebookku. Berbareng tengkuk yang menggigil dihajar dingin. Kubayar ke kasir. Kulayangkan pamit ke teman-teman yang datang kemudian. Mengisi alur yang berjalan di kedai kopi ini. Kulihat tawa mereka mengambyur dalam ruang persahabatan. Menempati sendiri-sendiri setiap inci dari cakramanggilingan yang mereka ciptakan.

Kulangkahkan kaki keluar kedai. Kustarter motorku. Tuhan, lindungi aku. Ajari aku pelan-pelan melunaskan “stuck” ini... amin.


Yogyakarta, 2 Januari 2011

Jumat, 19 November 2010

Iwan Fals - Yang Tersendiri




Tipis nian batas tahu dan pengetahuan itu.
Setipis tepung terigu yang mengajariku bahwa terbang dan terhempas itu selalu.
Semoga ini bukan karena sepimu bertemu sendiriku.
Lebih dari itu.
Ketidaktahuan menyemai cinta meresapi relung paling kalbu...

Senin, 15 November 2010

Makan Malam di Kotabaru

--teringat denganmu

Satu set meja kecil telah dipilih
Seperti memilih hati kita yang kecil
Meski berdua saja mustilah sabar menunggu
Tempat yang ternyata tak pernah bisa menampung sepi dan rindu
Ditingkah gending karawitan yang adalah wajah masa lalu
Dan dihadirkan kembali
Untuk tak menawarkan apa-apa
Lagi kecuali
Dupa dan wewangi bunga sesaji ada di bawah sudut
Meja seolah mengeja
Jiwa kita yang tersudut
Oleh ragu dan sunyi
Setengah jadi

Sungguh selalu ada yang tak sabar
Untuk mendengar
Lipatan hari yang tertempuhi dalam diam
Simpan gugusan titik-titik susah ditebak
Pada mula mana ini semua tersibak

Apa menu makan malam kita kali ini?

Kerinduan lama yang tengah kita jajaki
Menjadi kalimat “barangkali..barangkali..”
Layaknya jiwa yang terbelah dan menganak sungai
Berbatang-batang dari negeri jauh, negeri Nuh
Sejauh dendang negeri para sufi

Lalu, kitab-kitab suci yang pernah kita pegang
Terbang
Tumbuhkan padang ilalang
Menyesatkanku dengan duri onak
Tajam menimbun luka yang terkuak

Maka, usai makan malam
Di kota yang mengecil dalam ceruk mataku
dan hanya mengekalkan sesuatu yang sejatinya tak ada yang baru
Aku menuliskan sejumput kalimat
Mungkin bisa kau sematkan dalam daftar menu
Makan malammu keesokan dan keesokan hari
Lagi dan lagi
Hingga waktu tak berpihak sama sekali
Untuk kita langsungi

Aku sendiri



Raminten, awal Oktober 2010

Selasa, 21 Juli 2009

(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”

”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (Abdurrahman Wahid, 2001)


Bagi penulis yang tidak terlalu akrab dengan kehidupan pesantren, pernyataan di atas sesungguhnya menyimpan kemasygulan. Bagaimana mungkin bagi diri penulis untuk menulis sastra dengan menjadikan pesantren sebagi objeknya, sementara penulis sendiri tidak terlalu akrab dengan dunia pesantren itu sendiri?

Barangkali inilah yang pernah disebut oleh sastrawan-penyair Acep Zamzam Noor—seperti apa yang dirasakan oleh penulis—sebagai ’beban’ tersendiri ketika ingin bersastra-pesantren, menulis sastra pesantren, atau sekian embel-embel lain yang berkaitan dengan sastra-pesantren. Di sisi lain, penulis sepakat dengan ungkapan Gus Dur di atas bahwa harus ada ’pendalaman’ secara pribadi terhadap kehidupan pesantren. Dari ’pendalaman’ itulah akan muncul ’penguasaan penuh’ terhadap apa yang disebut sebagai pesantren.

Membincang sastra pesantren, sesungguhnya tak akan pernah selesai dus secara terminologis (istilah). Beberapa waktu lalu memang sempat menjadi hangat perbincangan—kalau tidak boleh disebut sebagai polemik—tentang apa sesungguhnya yang disebut ”sastra pesantren” itu? Apakah segala karya cipta sastra tentang dunia pesantren dan seisinya ataukah suatu karya sastra yang meski bukan berkisah tentang pesantren, namun ditulis oleh seorang santri dari sebuah pesantren? Penulis yakin tidak ada yang bisa dikatakan baku dari pengertian sastra pesantren. Ia akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu yang berubah.

Pesantren dan dunianya menurut hemat penulis adalah sebuah warna (dalam bahasa Gus Dur kerap disebut dengan subkultur) yang tersendiri dari elemen-elemen kehidupan negeri ini. Pesantren memiliki kehidupan yang unik, bukan saja karena ia ’berbeda’ dari kehidupan masyarakat pada umumnya, melainkan lebih dari itu, pesantren menjadi tempat yang subur bagi bersemainya nilai-nilai luhur ajaran agama. Ia menjadi benteng moral dari kebobrokan zaman yang mengalir deras di dunia luar. Tempat menjadikan nilai luhur sebagai tradisi menyehari-hari ini jugalah yang terbukti melahirkan manusia-manusia tangguh ketika menghadapi hidup di kemudian hari.

Denyut kehidupan di pesantren yang berkisar antara bilik-bilik kamar (asrama), masjid/mushola pusat sebagai tempat beribadah (beberapa mungkin juga dijadikan sebagai sarana halaqoh/belajar bersama) dan ruang-ruang kelas bagi pesantren yang menerapkan model belajar klasikal, dan kediaman pengasuh (kiai) adalah menyimpan berjuta inspirasi yang tak ada habisnya untuk dituangkan dengan tetesan pena membentuk karya sastra. Akan tetapi, dalam sejarah sastra di negeri ini penggarapan karya sastra berlatar belakang pesantren seperti dimaksud penulis di atas, belumlah lama. Tercatat baru di tahun 50-an dan 60-an, seorang bernama Djamil Suherman yang mengenyam kehidupan pesantren, aktif menggarap pesantren sebagai latar karya-karyanya berupa cerita-cerita pendek.

Di tahun-tahun belakangan ini, kita mengenal pula muncul nama orang-orang dari latar belakang pesantren yang juga menuliskan karya terkait pesantren. Ada KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang begitu menonjol dengan karya sufistik-religi (Keislaman) melalui puisi dan cerpen-cerpennya, Acep Zamzam Noor yang juga penyair, Jamal D Rahman, Ahmad Tohari, Alm. Zainal Arifin Thoha, untuk menyebut sedikit saja dari nama-nama yang akrab di hati penulis, sampai pada perkembangan sastrawan periode-periode muda sekarang yang banyak sekali jumlahnya. Mayoritas mereka adalah santri atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan di pesantren.

Nama-nama yang dikenal penulis seperti di atas, bergelut di dunia pesantren dengan kesungguhan yang tidak diragukan. Meski harus diakui bahwa pesantren (manapun) tidak pernah memasukkan kurikulum ”belajar sastra” secara khusus dalam pendidikan yang dilangsungi, namun justru mereka dengan keinginan sendiri secara mandiri bergelut dengan ruang-ruang penempaan batin yang luar biasa untuk menuliskan suatu karya. Iklim yang ada di sebuah pesantren menurut hemat penulis, menyediakan diri sepenuhnya bagi santri untuk merenung, membaca, menulis sekaligus meresapi hal-hal yang sulit sekali untuk dijelaskan dengan dunia nyata. Maksudnya, resapan-resapan atas kehidupan yang bernilai yang hanya mampu dituangkan dalam karya. Biasanya ada pula beberapa dari santri itu membentuk komunitas dalam sebuah pesantren. Tentu saja hal ini bisa terjadi bila ada dukungan penuh, misalnya dari sesepuh atau pengasuh pesantren itu sendiri. Juga hal yang tidak ketinggalan adalah minat baca-tulis santri sendiri. Seharusnya adalah hal yang niscaya terjadi di sebuah pesantren, tradisi baca-tulis ini menjadi bagian hidup santri. Bagaimana mungkin misalnya santri dapat melahirkan suatu karya tulis bila santri itu sendiri malas membaca dan menulis?

Sebagai penutup dari tulisan ini, barangkali ini menjadi kegelisahan penulis sendiri bahwa jika kita masih bingung merumuskan gagasan tentang apa itu sastra pesantren, lantas kita bisa berbuat apa? Penulis sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa pergumulan dengan sastra pesantren adalah tidak perlu mengedepankan harus menghasilkan karya sastra murni pesantren. Harus segala yang berbau pesantren. Akan tetapi lebih luas dari itu, kita perlu mengeksplorasi nilai-nilai yang ditradisikan di pesantren untuk kita ajak keluar. Bagaimana nilai pesantren tanggap terhadap perubahan zaman, bagaimana pesantren merespon kehidupan yang telah sedemikian mengglobal di luar sana. Toh, sastra sudah semestinya meluas seluas semesta ini dan bukan hanya terkungkung di pesantren an sich.
Wallahua’lam bis showab

Selasa, 12 Mei 2009

Tiga Dupa, Kusulut dalam Nadiku

requim LA

Tiga dupa
Kusulut dalam nadiku
Tempat bagi ziarah laut
Laut aksara

Kadang dengung lebah
Gaungkan mantra serupa doa
Kadang senyap merekah
Menuai sunyi yang sempurna
Sesempurna sunyi laut saat menyimpan luka

Tiga dupa
Kusulut dalam nadiku
Kususun berjenjang
Sebagai alamat keresahan yang tebal
Pertanyaan demi pertanyaan

Kadang nyala apinya seperti rinduku
Yang bergetar menaiki udara
Kadang padam seperti gigil hujan
Tersesat di rumahrumah yang setia menyimpan
Masa lalu

Pijar ya pijarlah dupaku
Kutitip sepotong harapan di pucuk cahaya
Biar ukir nafas dalam nadiku
Memandu cerita sang pejalan
Sebab harapan adalah kenyataan yang sedang dalam perjalanan*



De Sava Koffie, 1 Mei 09, 20:07

*sajak Ags Arya Dipayana

Jumat, 10 April 2009

Satu Ketika di Pantai Glagah

: Bunda

Pegang erat tanganku, Bunda
Aku tahu kakimu berat melangkahi lautan pasir
Kupastikan untukmu ringan saja
Jika kita berbareng melangkah
Pada pijakan yang enyah ragu

Pegang lebih erat lagi tanganku, Bunda
Kau tahu, aku perempuan kuat
Siap memapahmu

Kita telah tiba di pantai ini
Tak mungkin sesegera kita pergi
Di bentangan aku mau kau tunjuki cakrawala
Membatas air dan kain biru, seperti garis hidup kita yang terbatas
Menepikan senja, kala matahari lari sembunyi
Persis lanskap senja usia
Oleh sebab sakit yang mencipta sebuah dunia asing di tubuh ringkihmu
Dan menjadikan harihari di rumah kita kian asing....

Mari dudukduduk sini, Bunda
Kita buka saja pagi ini dengan segelas kopi
Yang sebentar lagi pasti dingin oleh sebab kencang angin

Rapatkan jaketmu lekas, Bunda
Panggil lagi kehangatan
Sebab aku terlampau takjub
Hangat kenangan rahim yang pernah kusinggahi
Dulu sekali

2008