<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760</id><updated>2012-01-21T05:57:19.536-08:00</updated><category term='belajar bersama..'/><category term='- - Buat Mas Hasta; Selamat Menikah ya...? Barakallahu &apos;Alaikuma...'/><category term='sketsa pantai di hatiku'/><category term='CERPEN'/><category term='hmm...'/><category term='welladallah....'/><category term='menemani makan malam kekasih..'/><category term='puisi'/><category term='Selamat jalan'/><category term='aduhai...'/><category term='menziarahi masa lalu'/><category term='kisah untuk seorang kawan; ...semoga semua baik-baik saja'/><category term='....'/><category term='Jeng Utik?'/><category term='la haula wala quwwata illa billah'/><category term='Ahlan wa Sahlan Bihudhuriki ya Baitul Kilmah'/><category term='kawan'/><category term='NUMPANG   IKLAN ....'/><title type='text'>Sketsa Jagad</title><subtitle type='html'>Hanya sketsa. Dari jagad kecil seorang Ndari...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-1858513009493323797</id><published>2011-09-26T02:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-26T02:30:37.460-07:00</updated><title type='text'>Secangkir Kopi di Senja Kesekian</title><content type='html'>Aku menyeduh lalu mengaduk-aduk kopiku dengan perasaan yang teraduk-aduk. Bukan kenapa. Terkadang sesuatu yang mengganjal dan ganjil itu kian melesak. Memaksa hadir. Dalam setiap kesempatan yang tak pernah terencana. Dan kali ini, di sudut senja sebuah beranda. Aku hadir sendiri dengan secangkir kopi di genggaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kalimat-kalimatku kadung berantakan semenjak awalan. Tak apa. Toh kalimat-kalimat itu tak pernah benar hendak kuhadir-hadirkan dari dalam sini. Ia hadir sendiri. Seperti perasaan yang mengaduk-adukku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku menyuruhku untuk berhenti dan sejenak duduk-duduk saja di sini. Menempati salah satu ruang yang selama ini terkunci. Ruang sunyi. Ya, ruang sunyi. Ruang yang menurutku menjadi tempat paling sahih untuk kembali. Ruang di mana aku bisa mengembalikan diriku seutuhnya. Tanpa sesuatu pun syarat kecuali lapang dada yang sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas ini, barangkali tak akan ada lagi sesuatu yang bertepi. Atas segala pertanyaan. Atas macam-macam pikiran. Atas segundah perasaan penyesalan. Hanya dibutuhkan kuat hati untuk menata-nata kembali. Lengkap dengan aksesoris yang mungkin pernah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika tiba di ruangan ini. Sesuatu tengah berdebar dan menjentikkan nyeri. Tak apa. Barangkali ini yang diistilahkan masa inkubasi. Sebagaimana penyakit yang semestinya kita jauhi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sketsajagad, 26 September 2011&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-1858513009493323797?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/1858513009493323797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=1858513009493323797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1858513009493323797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1858513009493323797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2011/09/secangkir-kopi-di-senja-kesekian.html' title='Secangkir Kopi di Senja Kesekian'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6594808578402829796</id><published>2011-01-05T04:28:00.000-08:00</published><updated>2011-01-05T04:28:12.978-08:00</updated><title type='text'>Senja Bergetar dalam Layar</title><content type='html'>Aku berjalan dengan sepasang mata layu&lt;br /&gt;memasuki toko buku&lt;br /&gt;Melangkah pelan di antara timbunan kata-kata&lt;br /&gt;yang menumpukkan ilmu, barisan rak yang&lt;br /&gt;Memajang persembunyianmu&lt;br /&gt;Ribuan buku di tempat ini begitu bernyawa&lt;br /&gt;Tetapi mengapa di mataku tak lebih dari pusara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini senja ke sekian yang masuk&lt;br /&gt;dalam lanskap paling nadhir&lt;br /&gt;Mengirimiku puisi tentang&lt;br /&gt;air laut yang tiba-tiba anyir&lt;br /&gt;Tersembul dari sebuah buku buah pena penyair&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tak ada yang sedih dan yang indah&lt;br /&gt;Semuanya cuma kenangan sekarang&lt;br /&gt;Bahkan meski begitu deras hatiku tergelincir*&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau, Cintaku..&lt;br /&gt;Hatiku penuh dirimbuni buku-buku&lt;br /&gt;Menulis rinci seturut bab-bab tentang masa lalu&lt;br /&gt;Memangkas rindu&lt;br /&gt;Membungkusnya dalam memar kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau, seperti juga buku-buku di tempat ini&lt;br /&gt;Adalah jelmaan ribuan kepala yang ingin selalu aku baca&lt;br /&gt;Kubawa-bawa di setiap kakiku yang&lt;br /&gt;Menyimpan tikungan dari laguna ke laguna&lt;br /&gt;Kuala ke kuala&lt;br /&gt;Menarikku dalam rindu yang memar saban hatiku bergetar&lt;br /&gt;berucap, "aku mencintaimu"&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika nanti aku mengerti&lt;br /&gt;&lt;i&gt;yang sendiri tak bisa kehilangan&lt;/i&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 5 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* petikan puisi Dina Oktaviani, "Hati yang Patah Berjalan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6594808578402829796?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6594808578402829796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6594808578402829796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6594808578402829796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6594808578402829796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2011/01/senja-bergetar-dalam-layar.html' title='Senja Bergetar dalam Layar'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-7974420945251299673</id><published>2011-01-03T01:19:00.000-08:00</published><updated>2011-01-03T01:19:37.060-08:00</updated><title type='text'>Suatu Ketika di "Cakramanggilingan"</title><content type='html'>Ini waktu adalah ketika senja hendak tenggelam dalam bingkai kaca mataku. Terdiam aku. Dari kemarin hari. Dan kemarinnya lagi. Di sini. Di kedai kopi. Sederhana dan bersahaja. Tempat biasa aku memanjakan selera akan air hitam pekat nan pahit itu. Bersama teman-teman, tak jarang sendirian. Membagi waktuku hanya khusyu’ ke dalam sukmaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari baru mengawali tahun dua ribu sebelas. Aku belum jua bertukar dan menukar-nukar udara; masih pengap nian di sini. Dan sedikit pun aku tak beranjak memangkas sunyi. Ribuan pengetahuan bertubi-tubi terasa menyemak dan menyemut menuju kepalaku. Seakan ada kekuatan yang hendak menguasai sekaligus menumbangkanku. Seperti lembaran-lembaran catatan yang terungguh dan kemudian menyerak di lantai yang bacin dan dingin. Tetapi aku tak hendak berprasangka negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada terasa memutar bak kaleidoskop di ruang kepala. Begitu pula ruang batin. Sesuatu yang tak jarang ingin aku enyah sebenarnya. Namun hingga waktu ke sekian tak punah-punah. Sebuah laku prosesi diri menyimak kalam-kalam Tuhan. Yang misterius dan memisteri dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pengunjung kedai tampak datang dan pergi. Aku teringat salah satu pengunjung kedai ini telah lama tak muncul. Lama sekali. Aku hitung sejak aku menolak mengiyakan untuk menjadi kekasihnya. Lelaki itu suka sekali memanggilku dengan kata “perempuanku”. Sesuatu yang di luar kuasaku melarangnya, akan tetapi sungguh terasa ‘nggateli’ di telingaku. Hm, apa kabar dia ya? Semoga baik-baik saja. Sebagaimana yang pernah aku ucapkan padanya. Dia lelaki yang entah ke berapa kali, tak aku kabulkan permintaannya memintaku untuk hidupnya. Kupandangi genangan air kopi panasku yang masih mengepulkan asap tipis beserta nguar harumnya. Aku seruput pelan. Hmm, pahit. Seperti nuansaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku kembali kuarahkan ke layar notebook. Aku mulai menulis kata hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.........................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!–more–&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pertanyaan yang kembali mengusikku. Ada apa dengan cintaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengah merindukan kekasihku. Rindu yang berlipat-lipat, persis seperti hari-hari di belakang sana yang terlipat. Keberanianku untuk mengeja alif ba ta di sekujur lembar hidupku yang bertumpuk cerita, pada akhirnya, mengurai kemurungan yang sempurna. Menghadirkan nuansa sensitif-sedih yang berceceran di mana-mana. Ada apa dengan cintaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memetik satu bintang, lalu kusematkan tepat di jantungku. Berharap dengan cara sederhana ini mampu sedikit mengurangi resahku yang tak memiliki alamat pasti. Berenang dan berdiam dalam diri. Mengenang segala yang bernama diri sendiri. Dan, di dalam kolam duniaku itu ada dirimu, kekasihku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku seperti serius dengan hatiku. Dengan kata hatiku. Ada apa dengan cintaku? Pertanyaan yang tak pernah kutahu jawabannya secara serius. Karena kapasitasku yang terbatas ataukah aku yang malas meneroka ini semua dari awal hingga akhir? Aku yang terbiasa berkerudung sunyi...tiba-tiba merasakan jatuh cinta dan mencintai lagi. Duh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, sehamparan mendung pekat datang melambat. Ingatanku tercekat. Semestinya ada yang salah di diriku dan bisa lekas kuperbaiki. Seorang pelayan menghampiri. Menemani duduk dan terlihat ingin mengajakku ngobrol seperti biasa. Kuhentikan sejenak tarian tanganku di tuts yang tengah menuliskanmu, kekasihku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak pesan kentang, Mbak?” tanyanya begitu duduk di depanku. Sebatang rokok ia sulut tenang. Pelayan kedai yang satu ini adalah yang paling tahu minuman kesukaanku. Karena aku selalu memilih dia untuk membuatkanku kopi. Seorang lelaki dengan rambut keriting kriwil antik. Dialek ngapak tak lekang dari nada bicaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak. Lagi ndak ingin aja,” kugelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi tradisi di sini, jika kedai sedang tak ramai pengunjung maka para pelayan yang berjumlah lebih dari tiga orang akan duduk membaur dengan pengunjung. Aku nyaris mengenal semua ‘stake holder’ kedai ini. Semuanya baik hati. Tidak hanya padaku, tapi juga ke semua orang. Lelaki yang kuceritakan duduk di depanku ini mulai mengudar cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ia bertanya kabar tentang sahabat kami, seorang sahabat yang bekerja di tempat di mana aku pemimpinnya. Ia panjangkan kalimatnya dengan kekaguman. Aku mengerti. Mereka sahabat akrab sejak masih sama-sama menuntut ilmu di sebuah pesantren tak jauh dari kedai kopi ini. Sahabat yang tengah kami ketengahkan dalam cerita ini kebetulan tengah mengisi sebuah acara bedah buku di Jombang, katakanlah sebagai pembicara tamu.&lt;br /&gt;Dia terkagum dengan perkembangan sahabat kami ini yang dia katakan ‘pesat’. Hmm...ya. Aku paham maksudnya. Lalu yang tak kuduga muncul. Ia berkisah tentang dirinya sendiri. [aku terhenyak sejenak, dapatkah aku seperti laki-laki di depanku ini? Yang bisa santai dan damai berkisah tentang pribadinya kepada orang lain? Hmm..selama ini aku berpikir bahwa aku hanya dapat berkisah tentangku jika kepada kekasihku saja. Hiks!]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkisah tentang keinginan terpendamnya ambyur di dunia seni peran. Teater. Aku bertanya, tidakkah keseharian bergelut dengan meracik kopi dan memberikan yang terbaik buat pengunjung maupun pelanggan adalah seni peran tersendiri? Meski tak sehablur dalam pandangan publik. Ia mengisahkan dalam bahasa yang lancar dan tanpa beban. Ketrampilan berkomunikasi dengan beragam orang di kedai ini barangkali melatihnya demikian. Di sela-sela bercerita kadang ia musti balik ke dapur membuatkan minuman pesanan. Lalu kembali lagi ke depan tempat dudukku. Melanjutkan bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika masih di pesantren, ia sempat menjalani ‘ritual’ tarekat yang berujung pada ‘mursal’ sehingga ia tak betah lagi tinggal di pesantren dan memilih bekerja di kedai kopi seperti sekarang. Aku seperti menyimak biografi ketika dia menceritakan dengan alur yang sangat lancar. Tidak semrawut. Bagaimana latar belakangnya yang tidak mengenyam bangku kuliah/meja akademik membawanya pada pertanyaan-pertanyaan kritis. Tentang Tuhan dan hakikat hidup. Perbincangan yang membawaku melesat menjauhi bumi. Aku menyimak penuturan yang kuat cita rasa jujurnya itu. Persinggungan kentalnya dengan beberapa orang yang kuat dalam hal wacana/pemikiran, hingga suatu ketika, kisahnya, ia sempat berdebat dengan seorang ustadznya hingga ia dicap ‘sesat’. Dugaanku, iklim yang kebetulan pada saat itu tak membangun bagi dirinyalah yang membuatnya harus pergi dari pesantren itu. Sampai di sini aku terdiam. Tak ada yang bisa kukomentari dari ceritanya selain aku memaklumi prosesi seseorang dalam hidup dan pemikirannya. Begitu runtut. Begitu seturut. Di belahan bumi mana saja kerap aku temui. Namun tak mampu aku membuat uraian mereka satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia keburu meninggalkan tempat duduk saat aku ingin berbicara. Rupanya ia memberiku kesempatan untuk melanjutkan kesendirianku. Dengan notebook yang masih menyala di meja. Aku bergumam sendiri. Selalu ada saja yang menyeret ingatanku. Gumpalan kopiku yang mengental belum segera aku tandaskan. Meski cuma tinggal separuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jentikkan jemariku ke tuts lagi. Kalimat terakhir yang kudapati masih tertuang dan mengiang-ngiangkan kerinduan kepada kekasihku. Aku tersenyum pahit. Sembari kulayangkan pandang ke mendung pekat yang mulai merintikkan rinai. Suasana seakan memalam dengan tergesa. Membungkus senja dalam lipatan. Menaruhnya dalam laju kenangan. Melihat mendung berikut rinai yang turun dengan kelebatan yang stabil, aku menera hujan pasti tak akan sebentar. Kopiku masih separuh. Rinduku kian gaduh. Aku tak berniat menghabiskannya seluruh. Kuarahkan mataku kembali ke layar monitor. Hatiku macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih telepon genggamku. Baris-baris kalimat dalam pesan pendekmu begitu manis mengetuk dan mengutuk rindu. Menyejajarkanku dengan bahagia itu sendiri. Bahagia? Ya, aku bahagia ketika kusadari aku mencintaimu. Cinta yang sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali rasanya kuhapus semua pesan pendekmu di inboxku. Demi melayani rasa bersalahku terhadap hatiku sendiri yang berontak. Tetapi pikiran lain mencegatku. Duhai, kekasih..ada apa dengan cintaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan yang membungkus ruang batinku kemudian adalah, apa yang aku rasakan ini seolah begitu beratnya. Ya, seolah-olah. Ada tiga elemen yang menghuni tubuhku. Pertama, kata hati kecilku yang begitu mencintaimu hingga keegoisan cinta mengepungku [keegoisan cinta: tak peduli dunia meledak, ingin terus diberi perhatian kekasih, dirindukan kekasih, dicintai kekasih, bertemu kekasih, dilimpahi kasih sayang, meronta batin ketika merasa dilupakan, dsbnya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pikiran kritisku bahwa cinta pantas didudukkan pada ruang yang sebenar-benar cinta. Tak ada pamrih secuil pun dari pekerjaan mencintai. Pikiran selanjutnya adalah bagaimana posisiku, bagaimana posisi orang yang kucintai. Apakah jika aku mencinta, maka dunia menjadi lebih baik? Apakah jika aku mencinta, tidak menimbulkan luka bagi kekasih atau orang-orang yang dikasihinya? Apakah jika aku mencinta dan merasa bahagia, mampu menebarkan hal sama bagi orang lain, atau justru sebaliknya; menebarkan keburukan? Tidakkah jika aku mencinta, akan ada orang lain yang terluka? Kalimat selanjutnya yang tak ketinggalan adalah sudah seharusnya sikap “tahu diri” itu dipunyai. Bahwa dalam cinta yang ada hanya memberi. Tak berharap kembali. Tak berharap kekasih juga mencintai. Tak berharap kekasih mengingat kita sampai mati. Tak mengharap apapun dari sang kekasih. Ya, apapun itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, diriku sendiri yang seutuhnya menyimak dua ujaran elemen bagian tubuhku yang bertaruh itu. Diriku yang ini ibarat loyang. Mengayak setiap yang datang dari keduanya, berharap mendapatkan “emas”. Pada saat hal ini terjadi, suhu tubuhku menjadi tidak karuan. Tidak stabil. Panas-dingin. Tidak berselera makan. Tidak dapat memejamkan mata untuk beristirahat. Sekujur tubuh terasa lemah dan lemas. Singkatnya, aku tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba pada ingatanku yang kesekian, ada yang terasa hampa. Sangat hampa. Aku seperti kehilangan kekasihku. Hmm, kehilangankah namanya jika tak pernah merasa memiliki? Aku kembali meminum kopiku yang tak lagi panas. Kuteguk tandas. Hujan masih menderas.  Yang tampak di sepanjang lalu lintas jalan depan kedai kopi ini adalah lalu-lalang orang dan kendaraan yang gesa dan gegas. Air hujan, mengapa seakan mereka kutuk? Ah, ini pikiranku saja. Siapa tahu di luar sana ada yang bahagia dengan siraman air hujan, meski artinya kebasahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulambai tanganku memanggil si rambut kriwil. Aku memesan minuman lagi. Kali ini lemon tea panas. Aku lebih suka menamainya teh jeruk nipis panas. Tak lama berselang ia datang membawakanku minuman. Air yang menghantar panas itu mengalirkan rasa hangat di tenggorokan. Air hujan tempias terbawa angin. Menyentuh lembut wajahku. Mengembalikan ingatanku akan kekasihku. Di kedai ini kami pernah melewati senja berdua. Menikmati kopi sembari menukar kata. Menukar tatapan mata. Mencoba membahasakan jiwa. Aku tak ingat, adakah saat itu kami berselimut bahagia? Tapi aku yakin, aku bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, aku duduk sendiri di sini sekarang. Ya. Sendiri. Tanpamu. Hanya file-file yang tersimpan dari dinamisasi komunikasi dunia maya kita dapat aku baca. Kalimat-kalimat riangmu menarikan sapaan-sapaan. Berdua kita ramaikan dunia maya dalam jaringan sosial massif itu. Memberikan senyuman dan ciuman. Seakan menjarakkanku dengan waktu ke sekian yang diam dan mendiami hatiku. Aku terhenyak lagi. Di mana engkau kekasihku? Ada apa dengan cintaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat dari kenyataan yang jauh-jauh hari aku duga bakal terjadi, terjadilah. Maka aku kembali pada diriku yang ketiga. Mengayak loyang lagi. Bahwa ketika mencinta maka pada saat bersamaan musti siap sakit jiwa. Siap luka. Siap tak bahagia. Siap menjadi yang dilupa. Siap hampa. Sebaliknya, pada saat bersamaan pula, musti terus memberi cinta. Mengulurkan doa-doa bagi kebahagiaan sang kekasih tercinta. Memberi dan mengikhlaskan seluruhnya, dengan rasa bahagia pula. Lalu, pikiran yang datang dari diriku yang kedua muncul; untuk apa selama ini kau menjalani ini? Pertanyaan yang sulit dijawab dan tak perlu dijawab. Diriku yang pertama pun tak mau kalah melempar tanya; tidakkah kau abaikan perasaan cinta dan kebahagiaanmu sendiri? Dijawablah oleh diriku yang ketiga; apa artinya bahagia jika ternyata tak mampu membuat orang lain bahagia? Apa artinya aku kuat, jika bagi orang lain bisa menimbulkan asam urat? Apa artinya aku mencinta jika bagi orang lain bisa menimbulkan derita? Hmm...sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugeser pikiranku. Menuai ragam terka. Kembali kuketuk pintu rumah jiwaku yang sunyi. Sesunyi air laut saat badai mereda. Selalu saja ada keinginan itu. Keinginan untuk pulang. Ke rumah sunyiku yang nyaman dan tenang. Bodohnya diriku, tak pernah merasa bahwa rupanya kata-kata yang melesat dari susunan abjadku bagi kekasihku terasa menyakitkan. Membawaku ke persimpangan. Aku mencintai tapi aku juga ingin pergi. Bersebab sesuatu yang sungguh, tak aku mengerti dan pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah sunyiku yang tenang, aku tersengat oleh sebuah serangan; menyuruhku mengubur kenangan! [jangan khawatir, Sayang. Aku tak menghiraukan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhabiskan kemudian teh jeruk nipisku. Kuhembuskan kemudian ruah syukur. Sesuatu yang mendudukkanku saat ini adalah cakramanggilingan-Nya. Apa yang dapat aku tawar kepada-Nya selain tunduk dan mengikhlaskan segalanya yang kini memilih titik incinya di sudut batinku yang tersudut? Detak jantungku masih berdenyut. Prosesi ini masih akan terus berlanjut. Dengan atau tanpa pengetahuan yang runtut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu kekasihku. Aku ingin bertemu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup tulisanku dengan tanda titik lebih dari satu. Lalu kumatikan notebookku. Berbareng tengkuk yang menggigil dihajar dingin. Kubayar ke kasir. Kulayangkan pamit ke teman-teman yang datang kemudian. Mengisi alur yang berjalan di kedai kopi ini. Kulihat tawa mereka mengambyur dalam ruang persahabatan. Menempati sendiri-sendiri setiap inci dari cakramanggilingan yang mereka ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kaki keluar kedai. Kustarter motorku. Tuhan, lindungi aku. Ajari aku pelan-pelan melunaskan “stuck” ini... amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 2 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-7974420945251299673?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/7974420945251299673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=7974420945251299673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7974420945251299673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7974420945251299673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2011/01/suatu-ketika-di-cakramanggilingan.html' title='Suatu Ketika di &quot;Cakramanggilingan&quot;'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-265445723403112358</id><published>2010-11-19T01:05:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T01:05:28.381-08:00</updated><title type='text'>Iwan Fals - Yang Tersendiri</title><content type='html'>&lt;iframe width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/9zYlnlduoU4?fs=1" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipis nian batas tahu dan pengetahuan itu.&lt;br /&gt;Setipis tepung terigu yang mengajariku bahwa terbang dan terhempas itu selalu.&lt;br /&gt;Semoga ini bukan karena sepimu bertemu sendiriku.&lt;br /&gt;Lebih dari itu.&lt;br /&gt;Ketidaktahuan menyemai cinta meresapi relung paling kalbu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-265445723403112358?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/265445723403112358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=265445723403112358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/265445723403112358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/265445723403112358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2010/11/iwan-fals-yang-tersendiri.html' title='Iwan Fals - Yang Tersendiri'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/9zYlnlduoU4/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3116900884683677801</id><published>2010-11-15T00:03:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T00:07:34.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menemani makan malam kekasih..'/><title type='text'>Makan Malam di Kotabaru</title><content type='html'>--teringat denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu set meja kecil telah dipilih&lt;br /&gt;Seperti memilih hati kita yang kecil&lt;br /&gt;Meski berdua saja mustilah sabar menunggu&lt;br /&gt;Tempat yang ternyata tak pernah bisa menampung sepi dan rindu&lt;br /&gt;Ditingkah gending karawitan yang adalah wajah masa lalu&lt;br /&gt;Dan dihadirkan kembali&lt;br /&gt;Untuk tak menawarkan apa-apa&lt;br /&gt;Lagi kecuali&lt;br /&gt;Dupa dan wewangi bunga sesaji ada di bawah sudut&lt;br /&gt;Meja seolah mengeja&lt;br /&gt;Jiwa kita yang tersudut&lt;br /&gt;Oleh ragu dan sunyi&lt;br /&gt;Setengah jadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh selalu ada yang tak sabar&lt;br /&gt;Untuk mendengar&lt;br /&gt;Lipatan hari yang tertempuhi dalam diam&lt;br /&gt;Simpan gugusan titik-titik susah ditebak&lt;br /&gt;Pada mula mana ini semua tersibak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa menu makan malam kita kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan lama yang tengah kita jajaki&lt;br /&gt;Menjadi kalimat “barangkali..barangkali..”&lt;br /&gt;Layaknya jiwa yang terbelah dan menganak sungai&lt;br /&gt;Berbatang-batang dari negeri jauh, negeri Nuh&lt;br /&gt;Sejauh dendang negeri para sufi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kitab-kitab suci yang pernah kita pegang&lt;br /&gt;Terbang&lt;br /&gt;Tumbuhkan padang ilalang&lt;br /&gt;Menyesatkanku dengan duri onak&lt;br /&gt;Tajam menimbun luka yang terkuak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, usai makan malam&lt;br /&gt;Di kota yang mengecil dalam ceruk mataku&lt;br /&gt;dan hanya mengekalkan sesuatu yang sejatinya tak ada yang baru&lt;br /&gt;Aku menuliskan sejumput kalimat&lt;br /&gt;Mungkin bisa kau sematkan dalam daftar menu&lt;br /&gt;Makan malammu keesokan dan keesokan hari&lt;br /&gt;Lagi dan lagi&lt;br /&gt;Hingga waktu tak berpihak sama sekali&lt;br /&gt;Untuk kita langsungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Raminten, awal Oktober 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3116900884683677801?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3116900884683677801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3116900884683677801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3116900884683677801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3116900884683677801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2010/11/makan-malam-di-kotabaru.html' title='Makan Malam di Kotabaru'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-5519745722962184230</id><published>2009-07-21T22:17:00.000-07:00</published><updated>2009-07-21T22:22:16.070-07:00</updated><title type='text'>(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”</title><content type='html'>”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Abdurrahman Wahid, 2001&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis yang tidak terlalu akrab dengan kehidupan pesantren, pernyataan di atas sesungguhnya menyimpan kemasygulan. Bagaimana mungkin bagi diri penulis untuk menulis sastra dengan menjadikan pesantren sebagi objeknya, sementara penulis sendiri tidak terlalu akrab dengan dunia pesantren itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali inilah yang pernah disebut oleh sastrawan-penyair Acep Zamzam Noor—seperti apa yang dirasakan oleh penulis—sebagai ’beban’ tersendiri ketika ingin bersastra-pesantren, menulis sastra pesantren, atau sekian embel-embel lain yang berkaitan dengan sastra-pesantren. Di sisi lain, penulis sepakat dengan ungkapan Gus Dur di atas bahwa harus ada ’pendalaman’ secara pribadi terhadap kehidupan pesantren. Dari ’pendalaman’ itulah akan muncul ’penguasaan penuh’ terhadap apa yang disebut sebagai pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membincang sastra pesantren, sesungguhnya tak akan pernah selesai dus secara terminologis (istilah). Beberapa  waktu lalu memang sempat menjadi hangat perbincangan—kalau tidak boleh disebut sebagai polemik—tentang apa sesungguhnya yang disebut ”sastra pesantren” itu? Apakah segala karya cipta sastra tentang dunia pesantren dan seisinya ataukah suatu karya sastra yang meski bukan berkisah tentang pesantren, namun ditulis oleh seorang santri dari sebuah pesantren? Penulis yakin tidak ada yang bisa dikatakan baku dari pengertian sastra pesantren. Ia akan berkembang dengan sendirinya seiring waktu yang berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren dan dunianya menurut hemat penulis adalah sebuah warna (dalam bahasa Gus Dur kerap disebut dengan subkultur) yang tersendiri dari elemen-elemen kehidupan negeri ini. Pesantren memiliki kehidupan yang unik, bukan saja karena ia ’berbeda’ dari kehidupan masyarakat pada umumnya, melainkan lebih dari itu, pesantren menjadi tempat yang subur bagi bersemainya nilai-nilai luhur ajaran agama. Ia menjadi benteng moral dari kebobrokan zaman yang mengalir deras di dunia luar. Tempat menjadikan nilai luhur sebagai tradisi menyehari-hari ini jugalah yang terbukti melahirkan manusia-manusia tangguh ketika menghadapi hidup di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denyut kehidupan di pesantren yang berkisar antara bilik-bilik kamar (asrama), masjid/mushola pusat sebagai tempat beribadah (beberapa mungkin juga dijadikan sebagai sarana halaqoh/belajar bersama) dan ruang-ruang kelas bagi pesantren yang menerapkan model belajar klasikal, dan kediaman pengasuh (kiai) adalah menyimpan berjuta inspirasi yang tak ada habisnya untuk dituangkan dengan tetesan pena membentuk karya sastra. Akan tetapi, dalam sejarah sastra di negeri ini penggarapan karya sastra berlatar belakang pesantren seperti dimaksud penulis di atas, belumlah lama. Tercatat baru di tahun 50-an dan 60-an, seorang bernama Djamil Suherman yang mengenyam kehidupan pesantren, aktif menggarap pesantren sebagai latar karya-karyanya berupa cerita-cerita pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun-tahun belakangan ini, kita mengenal pula muncul nama orang-orang dari latar belakang pesantren yang juga menuliskan karya terkait pesantren. Ada KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang begitu menonjol dengan karya sufistik-religi (Keislaman) melalui puisi dan cerpen-cerpennya, Acep Zamzam Noor yang juga penyair, Jamal D Rahman, Ahmad Tohari, Alm. Zainal Arifin Thoha, untuk menyebut sedikit saja dari nama-nama yang akrab di hati penulis, sampai pada perkembangan sastrawan periode-periode muda sekarang yang banyak sekali jumlahnya. Mayoritas mereka adalah santri atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan di pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama yang dikenal penulis seperti di atas, bergelut di dunia pesantren dengan kesungguhan yang tidak diragukan. Meski harus diakui bahwa pesantren (manapun) tidak pernah memasukkan kurikulum ”belajar sastra” secara khusus dalam pendidikan yang dilangsungi, namun justru mereka dengan keinginan sendiri secara mandiri bergelut dengan ruang-ruang penempaan batin yang luar biasa untuk menuliskan suatu karya. Iklim yang ada di sebuah pesantren menurut hemat penulis, menyediakan diri sepenuhnya bagi santri untuk merenung, membaca, menulis sekaligus meresapi hal-hal yang sulit sekali untuk dijelaskan dengan dunia nyata. Maksudnya, resapan-resapan atas kehidupan yang bernilai yang hanya mampu dituangkan dalam karya. Biasanya ada pula beberapa dari santri itu membentuk komunitas dalam sebuah pesantren. Tentu saja hal ini bisa terjadi bila ada dukungan penuh, misalnya dari sesepuh atau pengasuh pesantren itu sendiri. Juga hal yang tidak ketinggalan adalah minat baca-tulis santri sendiri. Seharusnya adalah hal yang niscaya terjadi di sebuah pesantren, tradisi baca-tulis ini menjadi bagian hidup santri. Bagaimana mungkin misalnya santri dapat melahirkan suatu karya tulis bila santri itu sendiri  malas membaca dan menulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup dari tulisan ini, barangkali ini menjadi kegelisahan penulis sendiri bahwa jika kita masih bingung merumuskan gagasan tentang apa itu sastra pesantren, lantas kita bisa berbuat apa? Penulis sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa pergumulan dengan sastra pesantren adalah tidak perlu mengedepankan harus menghasilkan karya sastra murni pesantren. Harus segala yang berbau pesantren. Akan tetapi lebih luas dari itu, kita perlu mengeksplorasi nilai-nilai yang ditradisikan di pesantren untuk kita ajak keluar. Bagaimana nilai pesantren tanggap terhadap perubahan zaman, bagaimana pesantren merespon kehidupan yang telah sedemikian mengglobal di luar sana. Toh, sastra sudah semestinya meluas seluas semesta ini dan bukan hanya terkungkung di pesantren &lt;span style="font-style:italic;"&gt;an sich&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahua’lam bis showab&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-5519745722962184230?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/5519745722962184230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=5519745722962184230' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5519745722962184230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5519745722962184230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2009/07/sekali-lagi-membincang-tentang-sastra.html' title='(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-7710957053897720807</id><published>2009-05-12T02:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T02:53:58.365-07:00</updated><title type='text'>Tiga Dupa, Kusulut dalam Nadiku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;requim LA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga dupa&lt;br /&gt;Kusulut dalam nadiku&lt;br /&gt;Tempat bagi ziarah laut&lt;br /&gt; Laut aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang dengung lebah&lt;br /&gt;Gaungkan mantra serupa doa&lt;br /&gt;Kadang senyap merekah&lt;br /&gt;Menuai sunyi yang sempurna&lt;br /&gt;Sesempurna sunyi laut saat menyimpan luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga dupa&lt;br /&gt;Kusulut dalam nadiku&lt;br /&gt;Kususun berjenjang&lt;br /&gt;Sebagai alamat keresahan yang tebal&lt;br /&gt;Pertanyaan demi pertanyaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang nyala apinya seperti rinduku&lt;br /&gt;Yang bergetar menaiki udara&lt;br /&gt;Kadang padam seperti gigil hujan&lt;br /&gt;Tersesat di rumahrumah yang setia menyimpan&lt;br /&gt; Masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pijar ya pijarlah dupaku&lt;br /&gt;Kutitip sepotong harapan di pucuk cahaya&lt;br /&gt;Biar ukir nafas dalam nadiku&lt;br /&gt;Memandu cerita sang pejalan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebab harapan adalah kenyataan yang sedang dalam perjalanan*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;De Sava Koffie, 1 Mei 09, 20:07&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*sajak Ags Arya Dipayana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-7710957053897720807?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/7710957053897720807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=7710957053897720807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7710957053897720807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7710957053897720807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2009/05/tiga-dupa-kusulut-dalam-nadiku.html' title='Tiga Dupa, Kusulut dalam Nadiku'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6835268022505708429</id><published>2009-04-10T17:57:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T18:21:55.717-07:00</updated><title type='text'>Satu Ketika di Pantai Glagah</title><content type='html'>: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegang erat tanganku, Bunda&lt;br /&gt;Aku tahu kakimu berat melangkahi lautan pasir&lt;br /&gt;Kupastikan untukmu ringan saja&lt;br /&gt;Jika kita berbareng melangkah&lt;br /&gt;Pada pijakan yang enyah ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegang lebih erat lagi tanganku, Bunda&lt;br /&gt;Kau tahu, aku perempuan kuat&lt;br /&gt;Siap memapahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah tiba di pantai ini&lt;br /&gt;Tak mungkin sesegera kita pergi&lt;br /&gt;Di bentangan aku mau kau tunjuki cakrawala&lt;br /&gt;Membatas air dan kain biru, seperti garis hidup kita yang terbatas&lt;br /&gt;Menepikan senja, kala matahari lari sembunyi&lt;br /&gt;Persis lanskap senja usia&lt;br /&gt;Oleh sebab sakit yang mencipta sebuah dunia asing di tubuh ringkihmu&lt;br /&gt;Dan menjadikan harihari di rumah kita kian asing....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari dudukduduk sini, Bunda&lt;br /&gt;Kita buka saja pagi ini dengan segelas kopi&lt;br /&gt;Yang sebentar lagi pasti dingin oleh sebab kencang angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapatkan jaketmu lekas, Bunda&lt;br /&gt;Panggil lagi kehangatan&lt;br /&gt;Sebab aku terlampau takjub&lt;br /&gt;Hangat kenangan rahim yang pernah kusinggahi&lt;br /&gt;Dulu sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6835268022505708429?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6835268022505708429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6835268022505708429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6835268022505708429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6835268022505708429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2009/04/satu-ketika-di-pantai-glagah.html' title='Satu Ketika di Pantai Glagah'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-123304327818755806</id><published>2009-02-20T23:34:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T23:47:04.164-08:00</updated><title type='text'>Loge; Potret Resistensi Perempuan Sumba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SZ-vuittxNI/AAAAAAAAAR4/0WzGcW-zsY0/s1600-h/LOGE.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SZ-vuittxNI/AAAAAAAAAR4/0WzGcW-zsY0/s320/LOGE.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305152100193125586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Loge&lt;br /&gt;Penulis  : Mezra E. Pellondou&lt;br /&gt;Penerbit : Frame Publishing, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, April 2008, 80 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra, dalam hal ini novel, kerap dipakai sebagai pemajang realitas yang tersamar, tak terkecuali realitas perempuan. Di sisi lain, kerap dijadikan sebagai realitas yang dibayangkan dalam bentuk narasi fiksi. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui sastra, sebuah potret resistensi perempuan seakan menemukan wadahnya meski sederhana. Seperti realitas yang mengisi lembar hidup perempuan berkalung adat. Menyorongkan realitas sosial dalam simbol bahasa sastra yang enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun silam, kita mengenal karya sastra yang populer mengangkat sosok perempuan berlatar belakang belenggu adat. Perjodohan dan kawin paksa adalah serangkaian tema yang menggenang di ingatan masyarakat. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siti Nurbaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; terbitan Balai Pustaka salah satu contohnya. Mengisahkan bagaimana perempuan dalam genggaman patriarki masyarakat adat, tetap harus tunduk dengan kehendak di luar dirinya. Tak peduli meski pendidikan si perempuan terbilang modern yang sejatinya bisa dijadikan alat perlawanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang hampir senada ada dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Loge&lt;/span&gt;. Tetapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Loge&lt;/span&gt; lebih berliku dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siti Nurbaya&lt;/span&gt; oleh sebab peristiwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;incest&lt;/span&gt; dan hubungan terlarang lain yang terjadi. Buku yang sangat tipis untuk ukuran sebuah novel ini mengangkat sosok perempuan bangsawan Sumba bernama Rambu Humba. Sebuah narasi besar melilit kehidupannya. Tidak saja persoalan perjodohan secara adat yang telah membuatnya tidak merdeka, tetapi bencana besar tengah mengintainya pada akhir cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambu Humba menjalani cinta terlarang. Bukan saja karena laki-laki yang secara sadar dicintai dan dipilihnya menjadi suami adalah Loge, seorang hamba sahaya milik keluarganya yang jelas-jelas melanggar norma keluarganya dan terlarang, tetapi lebih dari itu, ternyata Loge adalah kakak kandungnya dari ibu yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Loge adalah budak keluarga bangsawan itu, yang dengan paksa telah dilubangi hidupnya oleh ayah Rambu, bangsawan Umbu Bira, hingga melahirkan Loge tanpa seorang pun tahu. Meski hidupnya hancur, budak perempuan itu tak memiliki pilihan selain tetap tinggal dan mengabdi di rumah besar bangsawan itu. Sambil terus menjaga rahasia yang meremukkannya, bertahun-tahun pula ia menjadi budak yang terus disembelih keperempuanannya. Rahasia besar itu menuai petaka karena Rambu Humba dan Loge yang telah lama menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi, melakukan kawin lari tanpa mengetahui bahwa mereka sesungguhnya saudara kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat masih sangat kokoh mencengkeram Rambu Humba, meski perempuan bangsawan yang mencintai tanah dan patuh serta hormat pada adat itu sesungguhnya mengenyam pendidikan tinggi dan modern di sebuah universitas negeri di Kupang. Tergambar dari pengakuannya, ”... Kami berdua adalah orang-orang modern yang begitu rasional, tetapi mengapa ya adat tidak bisa menghempaskan kami begitu saja? Di sini, di Sumba ini kami berdua tetap manusia-manusia tradisional yang harus menjunjung teguh adat ...” (hlm. 37). ”Sebagian besar laki-laki dan perempuan Sumba, memegang adat leluhurnya dan selalu membawa langkah mereka kembali ke tanah leluhur ini, walaupun seringkali mereka menyangkalinya ..., cintaku pada tanah dan penghormatanku pada adat, sama bahkan sebanding dengan penyangkalanku terhadap keberadaanku ini, penolakanku serta pemberontakanku...” (hlm. 38). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belenggu adat yang kian menekan, tak pelak melahirkan pemberontakan. Dua perempuan dalam novel ini memiliki karakter kuat dan radikal. Rambu Humba yang akhirnya memutuskan sendiri kelangsungan hidupnya bersama laki-laki yang dipilihnya dan Kalli, ibu Loge, seorang budak yang mengakhiri novel ini dengan melabrak dan melawan Umbu Bira dengan pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Loge&lt;/span&gt; ini sekali lagi meneguhkan persoalan adat yang masih membelit perempuan. Perempuan tetap menjadi warga kelas dua (meski perempuan itu bangsawan bahkan mengenyam pendidikan tinggi sekalipun). Nilai-nilai normatif adat beserta pengagungan terhadap leluhur tidak memberikan kuasa bagi perempuan mengarahkan laju kehidupannya. Ia tetap sebagai mansusia yang harus tunduk terhadap tangan-tangan yang menyetir langkah kakinya. Dan, novel ini berhasil meracik narasi fiksi dan memotret perempuan yang melakukan resistensi radikal akan sistem lokalitas dalam ranah adat yang menjerat kaku perempuan Sumba, negeri yang dikenal dengan sebutan bumi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sandelwood&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-123304327818755806?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/123304327818755806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=123304327818755806' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/123304327818755806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/123304327818755806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2009/02/loge-potret-resistensi-perempuan-sumba.html' title='Loge; Potret Resistensi Perempuan Sumba'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SZ-vuittxNI/AAAAAAAAAR4/0WzGcW-zsY0/s72-c/LOGE.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-2873426000748484264</id><published>2008-11-23T18:30:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T19:31:26.306-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='belajar bersama..'/><title type='text'>Bila Perempuan Pesantren Bertemu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sekuel satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan di siang terang tanah itu dibuka dengan perkenalan. Masing-masing peserta wajib menggambarkan siapa dirinya. Bola karet menjadi media untuk digilirkan dengan cara dilempar menuju sasaran. Tersebutlah nama, asal, hal yang paling disukai, dan tidak disukai dalam hidup ini. Bagi beberapa orang bisa jadi itu hal yang tidak rumit. Tetapi bagi sebagian yang lain, hal itu bisa jadi sama rumitnya dengan membuat satu keputusan. Bukankah hal terberat (sekaligus terhebat?) dalam hidup ini adalah membuat keputusan? Belum lagi jika keputusan itu didahului oleh serangkaian proses memilih? Dan menggambarkan diri sendiri dalam satu menit adalah pekerjaan tak ringan di sebuah pertemuan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya masing-masing diminta untuk “membelah diri” sesuai urutan yang dikehendaki fasilitator. Kadang diminta membentuk barisan berdasar ukuran fisik yang paling tinggi, hidung yang paling mancung, dsbnya. Sontak salah seorang berucap; “wah, ini rasis!”. Si fasilitor kemudian mengatakan; “Kita akan belajar tentang hal ihwal itu, teman-teman...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 orang bertemu dalam acara bertajuk “Belajar Bersama Perempuan Pesantren dan Majelis Taklim”. Dua entitas terdiri dari kalangan pesantren dan majelis taklim Kulonprogo dan Magelang (bukan majelis ta'lim lho, tapi majelis taklim). Meskipun saya bukan berasal dari kategori keduanya, tapi saya diikutkan. Mungkin sebagai pemandu sorak saja. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan dan perkenalan dengan banyak orang adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika bertemu dengan banyak teman dari kalangan pesantren. Tak terkecuali dengan Mbak Cicik Farha dan KH. Husein Muhammad, aktivis perempuan; aktif di gerakan sensitif gender utamanya berbasis pesantren. Dan saya merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan beliau keduanya, meski tidak sempat merenggang waktu untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngangsu kaweruh&lt;/span&gt; dengan mereka lebih panjang lagi. Kedua orang yang saya sebut terakhir ini, sama-sama merintis pendidikan mengkader ulama perempuan/perempuan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SSob4LxFq6I/AAAAAAAAAQM/McRGK5N5_-s/s1600-h/P1130114.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SSob4LxFq6I/AAAAAAAAAQM/McRGK5N5_-s/s320/P1130114.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272056965835893666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KH. Husein Muhammad&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan ulama dimaksud di sini bukan seperti ulama perempuan biasa sebagaimana yang ada di tipi-tipi itu. Yang hanya pemberi catatan kaki atas sinetron atau tayangan cerita berbasis "kopiah-kerudung-tasbih-sorban-baju putih" dalam spektrum hitam putih yang dangkal. Yang hanya karena mengkalim diri Islam dan hapal satu-dua ayat-ayat Tuhan yang didapat dari sembarang sumber lantas berhak mengkapling-kapling surga dan lapangan kebaikan lainnya; sesuatu yang tidak mendidik masyarakat. Pendidikan kader dimaksud lebih dari itu, mencetak perempuan ulama yang matang dalam sisi wacana keilmuan, sensitif jender, dan tentunya peresapan nilai moral yang rahmatan lil 'alamin. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Bersambung ....)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SS4ToZFBOPI/AAAAAAAAAQk/ZkFh98T7CM0/s1600-h/P1120876.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SS4ToZFBOPI/AAAAAAAAAQk/ZkFh98T7CM0/s320/P1120876.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273173798345062642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(saya dan Mbak Cicik Farha)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-2873426000748484264?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/2873426000748484264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=2873426000748484264' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/2873426000748484264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/2873426000748484264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/11/bila-perempuan-pesantren-bertemu.html' title='Bila Perempuan Pesantren Bertemu'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SSob4LxFq6I/AAAAAAAAAQM/McRGK5N5_-s/s72-c/P1130114.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-7316092161689383024</id><published>2008-10-26T18:34:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T18:40:48.304-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menziarahi masa lalu'/><title type='text'>Soliloqui dengan Nada Dasar C Minor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SQUbRzgdn7I/AAAAAAAAAP8/CGQZKmN47bM/s1600-h/Ndary+Termenung.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SQUbRzgdn7I/AAAAAAAAAP8/CGQZKmN47bM/s320/Ndary+Termenung.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261641732350386098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; : &lt;i&gt;terkenang Hendrie&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma bunga yang kau bawa menusuk hidung dari palung waktu&lt;br /&gt;Telepon rumah yang terdiam di dekat pediangan&lt;br /&gt;Ibu yang tersenyum diamdiam kemudian menanyakan&lt;br /&gt;Kabarku yang tak pernah bersapa lagi di bariton saban Jumat siang&lt;br /&gt;Ruang kenangan yang lengang&lt;br /&gt;Pelita yang meredupkan bayangan&lt;br /&gt;Berlangsung di sini&lt;br /&gt;Menjungkalkan segala angan&lt;br /&gt;Ketika,&lt;br /&gt;Tibatiba aku telah terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu menyendu sudah seramah langkah&lt;br /&gt;Perjalanan yang bertabur&lt;br /&gt;Sesat peta terburai&lt;br /&gt;Dan,&lt;br /&gt;Aku yang masih harus menata&lt;br /&gt;Dari segala seluruh segala&lt;br /&gt;Terengah di padang savana&lt;br /&gt;Seumpama seorang salik limbung mencari Tuhannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringan tubuh ingin kubawa terbang menuju muara cahaya&lt;br /&gt;Mendekap kejora nirwana&lt;br /&gt;Meski jauh tapi sempat kueja untuk membaca rasarasa&lt;br /&gt;Seperti bulu mata lentik milik ibu&lt;br /&gt;Yang menemuiku dan mengeratkan pergelangan tangan siang itu&lt;br /&gt;Agar tak terjatuh di titian&lt;br /&gt;Aku yang urung berlindung di dekapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah tak kutemui kerinduan di bidang&lt;br /&gt;Wajahwajah tak bertuan dan sidangsidang&lt;br /&gt;Kau yang tak jemu menitikkan cinta&lt;br /&gt;Mengeriapkan jiwajiwa pecinta dan penimba&lt;br /&gt;Jalan dunia mana musti dibuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya bisa kuakhiri sajaksajakku&lt;br /&gt;Menghentikan rajutan cinta yang tak jadijadi&lt;br /&gt;Bukankah dengan sengaja kita pernah samasama nyanyikan tembang&lt;br /&gt;Nicky Astria, ”Matahari dan Rembulan”?&lt;br /&gt;”...&lt;i&gt; ingin kuhentikan tetapi siasia&lt;/i&gt; ...”&lt;br /&gt;”...&lt;i&gt; ingin kuhentikan tetapi siasia&lt;/i&gt; ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai sahabatku yang agung,&lt;br /&gt;Aku takut  ini melebihi sekutu setan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;be inspirited by ”Nothing Else Matters” Metallica&lt;br /&gt;Sketsahati, 16 Oktober 2008&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-7316092161689383024?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/7316092161689383024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=7316092161689383024' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7316092161689383024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7316092161689383024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/10/soliloqui-dengan-nada-dasar-c-minor.html' title='Soliloqui dengan Nada Dasar C Minor'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SQUbRzgdn7I/AAAAAAAAAP8/CGQZKmN47bM/s72-c/Ndary+Termenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6730434848982710223</id><published>2008-10-26T18:32:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T18:34:51.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='....'/><title type='text'>Gedung Pala (Ingatan yang Berebut Ruang)</title><content type='html'>: korban ’65&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakimu tersangkut debu&lt;br /&gt;Dibawa terbang kumbang&lt;br /&gt; Sayap yang kau bangun dari titik sunyi&lt;br /&gt; Telah hilang separuh pergelangan&lt;br /&gt; Dibabat bayonet, parang, badik, juga laras panjang&lt;br /&gt; (tanpa proses peradilan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kakiku tersesat di rimbun buku waktu&lt;br /&gt;Tak kenal gelaran peta&lt;br /&gt;Mungkin sengaja ditimbun rezim orde baru&lt;br /&gt;Yang mengalpa sejarah dalam bukubuku&lt;br /&gt;Prahara Petruk jadi Ratu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kepalaku tersiksa ditikam ingatan&lt;br /&gt; Sayat sembilu&lt;br /&gt; Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan kerabat yang suka menarikan kehidupan&lt;br /&gt; Telah hilang dibalik layar hitam, tak munculmuncul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lupa jalan pulang&lt;br /&gt;Ingatan yang berebut ruang&lt;br /&gt;Di pinggir rel stasiun ini jiwaku terhimpit satusatu&lt;br /&gt;Ruang ingatan telah dimusnahkan&lt;br /&gt;Sejarah telah dilenyapkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6730434848982710223?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6730434848982710223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6730434848982710223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6730434848982710223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6730434848982710223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/10/gedung-pala-ingatan-yang-berebut-ruang.html' title='Gedung Pala (Ingatan yang Berebut Ruang)'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6450272881651538930</id><published>2008-10-05T22:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-05T22:34:42.860-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='la haula wala quwwata illa billah'/><title type='text'>Lebaran Titik - Titik ...</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Miris hati tatkala membaca laporan media massa beberapa waktu lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Idul fitri yang sejatinya indah musti tertoreh duka. Nyaris 500 nyawa melayang sia-sia sebagai korban kecelakaan lalu lintas sepanjang lebaran ini. Dan ratusan orang lainnya terluka berat dan ringan. Beberapa jam lalu saya melintasi jalanan utara Nagung, selatan SMK, usai terjadi tabrakan. Saya terlambat mendapatinya. Hanya tersisa kerumunan orang dan polisi serta sebuah mobil pick-up yang mengangkut dua buah sepeda motor rusak (mungkin korban kecelakaan). Mirisnya, aspal yang dilindas ban motor saya, penuh darah yang tak sempurna ditaburi pasir yang sekenanya. Ah,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadang, diri lebih kerap tercekat menyaksi ini. Ada apa? Kenapa? selalu saja. Setiap kali hiruk-pikuk liburan lebaran berikut aktivitas yang menyertainya terutama penggunaan jalan raya berkendara musti memakan korban? Apakah penggunanya? Apakah manajemen pengelolaan jalan raya di tangan pengelola sekaligus pengambil kebijakan? Aih, saya nyaris tak tahu lagi ...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebahagiaan yang layak dicecap siapa saja di lebaran mengapa tak lepas dari selimut duka? Ada beberapa coretan yang menggaris luka di hati saya lebaran kali ini. Saya pikir, tahun-tahun yang silam hal-hal semacam bakalan lepas. Tetapi rupanya &lt;em&gt;fainna ma'al yusri&lt;/em&gt; belum &lt;em&gt;yusro.&lt;/em&gt; Atau saya saja yang belum bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di hari lebaran kurang dua hari silam, di sebuah warung sayur-mayur dekat rumah saya, saya terlibat obrolan dengan beberapa ibu-ibu rumah tangga yang sibuk memilih-milih bahan masakan untuk menu buka puasa, rata-rata menurut saya 'istimewa' karena paling tidak mereka berbelanja banyak sekali dan tidak ketinggalan menu daging atau ikan yang menurut ukuran saya 'mahal'. Tak dinyana, dari arah sudut berdiri seorang anak kecil, perempuan, sangat lusuh, kurus kering, terlihat sekali kemelaratan di tubuhnya. Terdiam di pojokan. Tidak mendekat ke arah kerumunan ibu-ibu yang dengan gembira sibuk memilih aneka belanjaan sembako lainnya. Rupanya si anak perempuan itu sudah dari tadi di situ. Ketika ditanya sang pemilik warung, "mau beli apa?" ia menjawab "mau jual beras". Lalu si pemilik warung menimbang beras yang dibawanya, ada dua kilo. Dibayar. Kemudian gadis kecil itu menghilang. Saya tahu ia pasti disuruh orang tuanya. Saya berpikir, sungguhkah keluarga mereka tak ada uang di hari itu? Saya juga tahu, keluarga mereka cukup 'kekurangan', orang tuanya memiliki anak banyak yang masih kecil-kecil. Secara mendadak, saya urungkan niat saya untuk berbelanja. Saya pulang ke rumah dengan hati menangis. Saya teringat semuanya. Saya teringat masa lalu. Masa kanak-kanak saya. Saya teringat orang-orang yang kurang beruntung itu. Teringat sanak saudara saya. Teringat kerabat-kearabat saya. Saya juga teringat kakak perempuan gadis kecil itu yang duduk di bangku SLTA, saat sepekan sebelumnya saya mengisi di kelas sekolahnya; pesantren kilat Ramadhan. Ketika itu saya memang sengaja memberi perhatian kepada anak kelas tiga SLTA itu. Di saat saya bicara di depan kelasnya, perhatian saya tak bisa lepas ke gadis remaja itu. Parahnya, ingatan saya selalu tak lepas dari riwayat keluarganya. Saya lantas menduga-duga sendiri, berapa ya kira-kira uang saku sekolah gadis itu? Ah. Benar-benar tak saya duga ketika di suatu siang, dua hari menjelang lebaran, adik perempuannya berhasil memaku hati saya di warung itu. Menyisakan perih karena saya tak bisa melakukan apa-apa .....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya yakin, itu hanya salah satu dari salah banyak di negeri ini. Dan lebaran kali ini pun bagi saya masih tak jauh dari nuansa yang direkam Sitor Situmorang &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Lebaran, Bulan Di Atas Kuburan" &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6450272881651538930?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6450272881651538930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6450272881651538930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6450272881651538930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6450272881651538930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/10/miris-hati-tatkala-membaca-laporan.html' title='Lebaran Titik - Titik ...'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6104307750221167543</id><published>2008-09-23T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T20:31:35.511-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ahlan wa Sahlan Bihudhuriki ya Baitul Kilmah'/><title type='text'>Berteduh di Baitul Kilmah; “Rumah Kata”</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SNmxnYw5weI/AAAAAAAAANE/uuUtleLeUSQ/s320/P1120441.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249422130897600994" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;Ini dia...yang ngegemesin! ARE, si Mahwi junior. Eit, siapa sangka lelaki kecil ini adalah santri pertama&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Baitul Kilmah&lt;/strong&gt;. &lt;span style="color:#33cc00;"&gt;&lt;em&gt;he he he&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi, pesan pendek masuk ke telepon genggam saya. Kang Aguk (Aguk Irawan MN) mengundang untuk hadir dalam ‘lounching’ Pesantren Kreatif miliknya. Dinamainya &lt;em&gt;Baitul Kilmah&lt;/em&gt; atau Rumah Kata. Sesuai penamaannya, komunitas ‘ber-pesantren kreatif’ itu hendak dijadikan rumah bagi kata-kata. Seolah hendak melengkapi jajaran ’Rumah’ yang hadir sebelumnya di Jogja; Rumah Lebah, Rumah Poetika, Rumah Kata hadir meramaikan khasanah komunitas sastra berikut dunia tulis-menulisnya, khususnya di kota Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu sore, 21 September 2008, saya berlima datang dari &lt;em&gt;Lumbung Aksara&lt;/em&gt;. Tapi sebenarnya diri saya sendiri bukan ingin menyimak acara itu secara serius. Saya justru ingin sekali bertemu dengan istri dan anaknya Kang Aguk yang saya duga tengah di Jogja. Rupanya dugaan saya meleset. Dua perempuan cantik-nya Kang Aguk itu masih berada di Cirebon sampai lebaran nanti. Mengingatnya, jadi mengingatkan saya akan waktu silam. Perkenalan saya dengan Kang Aguk sesungguhnya tidak bermula atau terkait dengan sastra. Saat itu tahun 2001. Dia masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Ketika itu mungkin dia tengah berlibur dan sering bolak-balik Indonesia-Mesir. Sedikit saya hanya pernah berjumpa namanya melalui tulisan-tulisan yang saya lupa mengulas apa. Yang jelas saya sempat tidak asing dengan namanya. Kebetulan sekali saya bersahabat dekat dengan seorang perempuan satu pondokan dengan saya. Di kemudian hari perempuan itu menjadi istrinya Kang Aguk. Kedekatan persahabatan saya dengan perempuan itulah yang mengantar saya kenal dengan Kang Aguk yang waktu itu masih berstatus pacarnya. Tetapi saat itu saya mudah lupa. Saya baru teringat kembali saat keduanya akhirnya menikah di akhir tahun 2005. Sayang sekali saya tak dapat menghadiri pernikahan mereka di Cirebon, tempat istrinya itu. Siapa nyana sekarang saya bisa kenal dekat dengan Kang Aguk sebagai akibat dari bertemunya kegemaran terhadap kata-kata, terhadap sastra? Yang beda cuma satu; Kang Aguk tidak suka minum kopi sedang saya suka sekali. He he he ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir dalam kesempatan buka puasa bersama itu penyair, sastrawan, santri, wartawan dari berbagai tempat. Nyaris sedikit yang saya tahu dan kenal; Mas Joni Ariadinata dari &lt;em&gt;Horison&lt;/em&gt;, beberapa kawan dari &lt;em&gt;KUTUB&lt;/em&gt; (Hei, Salman. Kau tak tampak ada. Ke mana gerangan?), pondok pesantren Mlangi cs,  Indrian Koto – Sukma, Iman Romansha, Mahwi Air Tawar, dan banyak lagi. Oya, ada beberapa yang saya ajak berkenalan; santri-santri pondok pesantren Langitan Tuban. Mereka tengah mengadakan liputan untuk majalah pondok. Kebetulan pula mereka adalah adik kelas/adik angkatan meski sangat jauh, dengan Kang Aguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SNmwhHiwfiI/AAAAAAAAAM0/onChl65XNy8/s320/P1120446.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249420923684027938" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;&lt;em&gt;Tampak Mas Joni tengah memberi taushiyah (hehe), didampingi Kang Aguk&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari kata sambutan yang tak sempat saya simak serius, beberapa bagian hilang dari ingatan saya (uhh, payah ya!), Kang Aguk selaku pengasuh pesantren (eit, dia diberi julukan Kyai Haji Aguk el-Mishry, sementara Mas Joni dijuluki Ustadz. Hehe) menyampaikan bahwa hadirnya Baitul Kilmah atau Rumah Kata ini sejatinya hendak menjadikan sebuah komunitas seperti pesantren, tetapi yang dimaksud adalah pesantren kreatif, mewadahi aktivitas menulis, belajar bahasa Arab dan belajar menerjemah. Dipaparkannya kondisi sastra di negeri ini, terutama tulisan sastra terjemahan dari bahasa Arab yang masih sangat lemah. Ke depan, diharapkan dari hadirnya Baitul Kilmah ini bisa dijadikan tempat belajar dan bersemai terkait penerjemahan. Baitul Kilmah, ungkapnya, pernah mencoba menerapkan pembelajaran/kursus gratis bahasa Arab kepada beberapa pastur dalam waktu 15 jam. Dan hasilnya lumayan. Untuk itu, Rumah Kata sedianya akan terbuka 24 jam bagi siapa saja yang ingin belajar. Tidak dipungut biaya, katanya. Hanya menyediakan tempat seadanya nan kecil (karena di sebuah perumahan). Di lantai dua ada beberapa ruang yang mirip pondokan pesantren, tempat belajar para santri. Eit, tapi saya belum tahu berapa santri yang menghuni pesantren baru ini. Mungkin, santrinya pada &lt;em&gt;ngalong&lt;/em&gt; kali ya.. he he he&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Acara sambutan, peresmian dsb.nya dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan tadarus puisi. Namanya juga tadarus puisi, ya mirip di &lt;em&gt;Lumbung Aksara&lt;/em&gt; lah. Ada pembacaan puisi. Kesempatan pertama diberikan kepada Lurah LA untuk membaca puisi, dan kesempatan kedua oleh Mahwi ditunjuklah saya, tetapi saya menolak. Saya sedang tidak ingin baca puisi. Beruntung adzan maghrib sebagai tanda berbuka puasa berkumandang. Selamatlah saya dari penunjukan itu karena saya bisa beralasan sedang makan. Yang agak bikin tersenyum adalah hampir semua peserta pembaca puisi di tempat itu membaca puisi-puisi yang ada di LONTAR edisi terbaru. Kebetulan si Zur membawa LONTAR ke sana. Bahkan, puisi saya yang ada di LONTAR dibacakan sama Indrian Koto, sementara saya ngacir ke bagian dalam rumah untuk sembahyang maghrib. He he he, (Koto celingukan mencari saya ya?). Di akhir acara saya dan Zur pamit. Indrian sempat mengajak untuk datang di TBY, tapi saya menjawab tak bisa. Yup, jadi ingat SMS Zaki tempo hari. Undangan untuk hadir di acara &lt;em&gt;Malam Sastra 1000 Bulan&lt;/em&gt; itu di TBY. Sayang sekali, kami harus pulang ke Wates. Kami berdua masih agak lapar. Jadilah, sejenak mampir di Wates. Maem bakmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SNmxFwCd7KI/AAAAAAAAAM8/hUhrh66kqxU/s320/P1120453.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249421553029737634" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;Usai buka puasa bersama, beberapa terlibat obrolan dengan Sang Pengasuh, Kiai Aguk&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap pendirian sebuah komunitas, pastilah terselip sebuah, dua buah, tiga buah dan seterusnya, harapan! Tak terkecuali &lt;em&gt;Baitul Kilmah&lt;/em&gt; ini. Semoga, berkah Ramadhan mampir di Baitul Kilmah. Membuat komunitas ini berbeda dari yang sudah ada, sebagai napas menyemarakkan jagat kepenulisan sastra di Indonesia. &lt;em&gt;Allahumma Amin&lt;/em&gt;. Yeah....!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6104307750221167543?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6104307750221167543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6104307750221167543' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6104307750221167543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6104307750221167543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/09/berteduh-di-baitul-kilmah-rumah-kata.html' title='Berteduh di Baitul Kilmah; “Rumah Kata”'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SNmxnYw5weI/AAAAAAAAANE/uuUtleLeUSQ/s72-c/P1120441.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6787754363541617604</id><published>2008-09-22T20:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T20:46:55.967-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aduhai...'/><title type='text'>Ke Mana Perempuan Musti Berumah Ramah?</title><content type='html'>Sepekan lalu, sebuah undangan meminta saya untuk mengisi sebuah pelatihan bagi perempuan pesisir di kawasan wisata pantai Glagah Indah, 25 menit berkendaraan motor dari rumah. Tema yang disodorkan kepada saya adalah “Hak-Hak Reproduksi Perempuan”. Jumlah peserta 25 orang, seluruhnya perempuan usia produktif yang tergolong ekonomi menengah ke bawah. Menurut keterangan panitia penyelenggara dan pengakuan peserta, tiap peserta diberi uang akomodasi sebesar Rp30.000,00 (tigapuluh ribu rupiah) per hari. Pelatihan diadakan selama 4 hari berturut-turut. Alhasil, tiap orang jika mengikuti pelatihan terus selama 4 hari tanpa absen akan memeroleh Rp120.000,00 (seratus duapuluh ribu rupiah). Belum termasuk ilmu-ilmu yang didapat selama pelatihan yang kaya dari berbagai sumber. Juga suntikan modal usaha dari sponsor sebagai &lt;i&gt;follow-up&lt;/i&gt; pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir. Sesuatu yang menjadi pokok dari setiap pelatihan-pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa hari kemudian, saya menyaksikan berita di televisi. 21 perempuan tewas terinjak-injak, kehabisan napas, ketika antrian sesak ratusan orang berujung petaka itu berlomba saling ’berebut’ kesempatan untuk memeroleh Rp30.000,00 (tigapuluh ribu rupiah). Sebagian lain mengalami luka-luka dan sedang dirawat di rumah sakit. Mereka yang tewas itu adalah perempuan-perempuan golongan ekonomi lemah (dan dilemahkan)—&lt;i&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt;. Sebagian besar berkategori usia produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tragedi itu terjadi ketika Pak Haji (seseorang yang berpunya) membuat acara pembagian zakat yang dilakukan sendiri oleh keluarganya (tidak melalui lembaga berkompeten umumnya, semacam amil). Walhasil, menyeruaklah tragedi yang memilukan itu. &lt;i&gt;Innalillah tsumma na’udzubillah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Teringat ucapan Prof. Sunyoto Usman dalam perbincangan di Trijaya FM terkait hal itu, posisi lembaga-lembaga keagamaan dalam hal ini ada di mana? Seharusnya lembaga keagamaan berperan di sini. Saya seolah-olah tengah menangkap siapa yang dimaksud oleh Profesor itu. Termasuk ketika beliau melanjutkan ucapannya dengan ”bukan malah lembaga keagamaan itu sibuk ngurus politik”. Sang penyiar Trijaya menimpali, ”justru sesungguhnya &lt;i&gt;khittah&lt;/i&gt; mereka di sini ya, Prof....terlibat di persoalan ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awal dari kasus ini barangkali adalah kehendak mewujudkan ’adegan’ filantropi yang keliru menggunakan cara. Ya, terserahlah. Semua orang, masing-masing kepala, berhak mengemukakan segudang kacamata pengetahuannya. Bagaimana mekanisme yang sebaiknya dilakukan. Toh, hanya persoalan teknis. Intinya ya, teknis yang tak dikuasai yang menjadi sebab dari tragedi itu. Apa pun dan bagaimanapun teknis yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali ke pengantar tulisan saya di atas, persoalan kemiskinan secara meluaslah yang menurut saya pangkalnya. Lebih khusus lagi kemiskinan (dan pemiskinan terhadap) perempuan. Tidak bijak memang kalau saya lalu menggunakan atau membandingkan kasus meraih uang Rp30.000,00 gratis antara perempuan-perempuan pesisir peserta pelatihan dengan perempuan-perempuan yang antri di Pasuruan itu. Saya hanya miris, merasakan ironi yang hebat. Antara dua entitas perempuan; satu di Kulonprogo, satunya di Pasuruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengulas tentang kemiskinan dan perempuan, seolah mengurai satu-satu benang kusut masai. Susah sekali dan kerap dibikin susah oleh tangan-tangan misoginis yang tak ingin nasib itu bisa diselesaikan. Membicarakannya seolah hanya menghabiskan waktu sia-sia. Apalagi jika yang terjadi hanya debat kusir yang tidak ada nilai produktifnya sama sekali. Seperti mengarahkan telunjuk. Menuding pihak siapa yang harus bertanggung jawab. Tak akan ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perempuan adalah entitas terbesar bangsa ini. Perempuan juga merupakan entitas yang terbesar yang ditindas hak-hak serta kemerdekaannya. Ujungnya kemudian mudah ditebak; bodoh dan miskin. Anehnya, perempuan selalu menjadi tombak yang paling ujung bagi pemenangan setiap pemilihan umum. Tanpa secuil pun haknya diperhatikan dan dipenuhi. Hanya dijadikan sapi perahan suara. Ketika misalnya perempuan memilih untuk tidak memilih, pasti akan dikenai sanksi sosial yang kian menjerembabkan hidupnya. Sesuatu yang ironi mengingat aspirasinya tidak pernah diiyakan tetapi suaranya dipaksakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;i&gt;Affirmatif action&lt;/i&gt; dengan 30 persen kuota perempuan pun pada satu ranah, masih belum menjanjikan perbaikan nasib perempuan negeri ini. Pembuat kebijakan masih buta pengarusutamaan gender. Posisi kawan-kawan wakil perempuan masih kerap diabaikan. Belum lagi sebagian mereka masih ada yang berfungsi sebagai karamel, pemanis buatan. Kasus salah seorang kawan, yang tanpa ’kapabilitas’ di ranah politik, dia dicalonkan maju sebagai wakil perempuan di DPR RI. Dia memberikan pengakuan di hadapan saya, bahwa dia tak tahu apa-apa soal politik, soal mekanisme undang-undang (persoalan hukum). Tetapi dia mau dicalonkan menjadi anggota legislatif. Sebuah partai politik yang tengah berseteru rupanya tengah memanfaatkan kawan saya ini. Alih-alih berjuang atau memberi tempat layak perempuan berjuang, ia hanya dijadikan syarat agar 30 persen kuota perempuan terpenuhi; artinya lolos verifikasi. &lt;i&gt;Hati saya tambah miris&lt;/i&gt;. Belum lagi jika diitambah isu baru-baru ini di mana UU Pemilu akan diubah, sesuatu yang mengancam &lt;i&gt;affirmatif action&lt;/i&gt; itu. Ah, betapa jauh dan rumitnya &lt;i&gt;ngrasani&lt;/i&gt; politik yang tak memihak kepentingan narasi besar perempuan sebagai ”ibunya kehidupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berangkat dari tema hak-hak reproduksi perempuan, sesungguhnya akan terlihat betapa lebar nian persoalan yang mencakup akomodasi hidup bagi kepentingan reproduksi perempuan. Tanpa kecuali dalam bidang ekonomi. Negara adalah pihak pertama yang harus mampu memenuhi kesejahteraan perempuan, bagian dari rakyatnya. Perempuan akan terbebani menjalani fungsi reproduksinya—sesuatu yang vital bagi kelangsungan umat manusia—manakala kebutuhan ekonomi dan perlindungan akan hak-haknya tercampakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya baru bisa bermimpi; negeri ini menjadi negeri yang ramah terhadap perempuan. Antusias dalam penegakan hak-hak perempuan. Angka kematian ibu dan bayi bisa berkurang atau terhapus sama sekali. Biaya kesehatan dan pendidikan yang murah lagi terjangkau. Biaya periksa kehamilan dan persalinan secara gratis dan bermutu. Serta adanya jaminan masa depan kesejahteraan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi apa lacur, komunitas bernama perempuan itu masih dipinggirkan aspirasinya. Dikebiri hak-haknya. Pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap eksistensi perempuan berikut problematikanya, sibuk ngurusi partai politik yang isinya berantem melulu gara-gara peletakan nomor urut pencalegan yang tak sesuai yang diingini, hingga kantor KPU menjadi arena baru pertempuran Bratayuda karena ada yang memalsukan tanda tangan. Memalukan! Toko-tokoh yang seharusnya mengayomi masyarakat sibuk lobi-lobi meraih dukungan massa demi kemenangan pilkada, melanggengkan tampuk kekuasaan yang empuk dan mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Satu hal itu yang tak lepas menjadi otokritik terhadap lembaga yang menaungi &lt;i&gt;jam’iyyah&lt;/i&gt;. Paling tidak dilihat sepintas dari daerah Pasuruan. Basis massa warga Nahdhiyyin. Boleh saja ada yang mengatakan bahwa ini persoalan bersama yang tidak saja kaum Nahdhiyyin yang musti terlibat persoalan. Tetapi, mengingat Pasuruan adalah kantong yang tidak kecil, lembaga keagamaan yang menaungi kaum Nahdhiyyinlah yang mau tidak mau mendapat sorotan. Ke mana saja mereka. Ngapain saja mereka. Hingga warganya bertemu dengan tragedi semacam itu? Ironisnya, data menunjukkan tidak hanya baru sekali ini, tragedi itu terjadi. Ah, mungkinkah nyawa seseorang telah menjadi sedemikian kaburnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak baik saling menyalahkan ... begitu ucap seseorang. Ya, dalam konteks teknis. Tetapi dalam skala lebih luas, ini adalah otokritik. Syukur-syukur dianggap menjadi bara yang membuat tenaga. Atau apa pun namanya. Yach ... usaha untuk menuai mimpi. Daripada hanya tertinggal sebagai gumaman tidak jelas juntrungnya. Daripada hanya sekadar merasa prihatin dan simpati.&lt;br /&gt; Nestapa seakan masih akan berkepanjangan menimpa perempuan. Tragedi Pasuruan sebelumnya, kasus penembakan warga Alas Tlogo oleh TNI akibat berebut lahan (persoalan ekonomi) sudahkah terselesaikan sampai hari ini? Adakah hal yang mendekati keadilan bisa dienyam oleh pihak yang menjadi korban? Atau justru menambah tumpukan amnesia sosial dari wajah negeri ini? Betapa memilukan, seorang perempuan yang tengah mengandung tunas kehidupan harus menemui ajal di tangan peluru, ditumbangkan secara dini dan keji? Ah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, kemiskinan hanya akan tampak sebagai bidang garapan orang-orang yang memiliki kedermawanan tinggi dan mempunyai misi pemberdayaan, jumlahnya aduhai sedikit sekali. Atau kemiskinan masih akan menjadi bidang garapan yang diusung oleh LSM-LSM. Melulu. Syukur-syukur kalau mereka serius. Kalau justru menjual kemiskinan kepada &lt;i&gt;foundation&lt;/i&gt;? Niscaya kemiskinan komunal akan menjadi wabah yang kian merebak dan pelan-pelan membawa kapal bernama Indonesia akan karam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, adakah perempuan bisa berlindung di rumah besar bernama Indonesia ini dengan ramah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bermimpi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6787754363541617604?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6787754363541617604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6787754363541617604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6787754363541617604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6787754363541617604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/09/ke-mana-perempuan-musti-berumah-ramah.html' title='Ke Mana Perempuan Musti Berumah Ramah?'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-1989860494828593229</id><published>2008-09-08T20:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T20:43:22.657-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='welladallah....'/><title type='text'>Kuis Ramadhan di TV Identik dengan Judi</title><content type='html'>Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menilai kuis Ramadhan yang ditayangkan di sejumlah stasiun televisi, identik dengan judi yang diharamkan dalam Islam.&lt;br /&gt;"Kalau tidak hati-hati, puasa kita akan dikotori dengan judi melalui kuis Ramadhan dengan hadiah mirip mimpi itu," kata Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar di Surabaya, Kamis, 13 September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, kuis Ramadhan mengandung unsur judi, karena ada kewajiban membayar biaya tertentu dari pihak peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kewajiban membayar itu dapat dilakukan langsung atau tidak langsung, seperti membayar melalui pulsa telepon ’premium call’ yang membuat penyelenggara akan menerima sejumlah uang tertentu dari para peserta," katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, hadiah diambilkan dari sebagian jumlah uang yang terkumpul dari pemasukan "premium call" itu, sehingga hukumnya haram meski diberi nama apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Letak unsur judinya terlihat pada harga yang lebih dari tarif SMS biasa. Misalnya, tarif SMS adalah Rp250 (pascabayar) dan Rp350 (prabayar), namun untuk mengirim SMS kuis tertentu menjadi Rp1.000 (pascabayar) dan Rp1.100 (pra bayar)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila biaya pengiriman SMS Rp250 untuk setiap pengiriman, katanya, keuntungan "provider" adalah Rp750 atau Rp850 dan hal itu dapat dibagi dua antar penyelenggara dengan provider, sehingga keuntungan penyelenggara kuis SMS adalah Rp375.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalkan, peserta kuis SMS mencapai lima juta orang, maka keuntungan bersih penyelenggara kuis SMS adalah Rp 1,875 miliar, sehingga dapat digunakan membeli mobil dan beberapa sepeda motor untuk hadiah," katanya menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lima juta orang peserta SMS itu tidak mendapat apa-apa dari Rp 1.000 yang mereka keluarkan, karena pemenang hanya dua atau tiga orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sama halnya dengan sebuah perjudian massal yang melibatkan lima juta orang di tempat yang berjauhan," katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama, juga terjadi pada kuis dengan menggunakan "premium call". Pasalnya, "premium call" itu bisa memberikan pemasukan kepada pihak yang ditelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila fasilitas itu digunakan menjawab kuis, maka ada uang yang masuk ke penyelenggara kuis, karena untuk menjawab kuis dibutuhkan waktu 3 menit. Bila dengan tarif lokal 1, koneksi telepon seperti itu hanya bertarif Rp195, tapi untuk sambungan 3 menit bisa menghabiskan Rp3.000," katanya menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 September 2007 13:50:38&lt;br /&gt;(www.nu.or.id/antara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan pencomot: &lt;i&gt;jane yo ora mung kuis Ramadhan thok.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-1989860494828593229?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/1989860494828593229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=1989860494828593229' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1989860494828593229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1989860494828593229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/09/kuis-ramadhan-di-tv-identik-dengan-judi.html' title='Kuis Ramadhan di TV Identik dengan Judi'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-5201165090830507976</id><published>2008-09-05T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T01:14:00.297-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NUMPANG   IKLAN ....'/><title type='text'>”Ngaji” Sederhana Ramadhan Ala Perempuan</title><content type='html'>&lt;div align="full"&gt;&lt;br /&gt;Galibnya, sambil menantikan saat-saat menjelang buka puasa, sebagian orang (kebanyakan anak-anak muda) memiliki aktivitas &lt;em&gt;ngabuburit&lt;/em&gt;, aktivitas keluar rumah. Sebagian lain memilih aktivitas yang dinilai ”lebih relijius”, seperti menyimak pengajian menjelang buka puasa. Galibnya pula, pengajian-pengajian yang disuguhkan media elektronik entah televisi entah radio, nyaris seragam baik dalam hal materi maupun penyampaian. Terlebih materinya; seputar puasa, dan hal-hal umum keseharian kaitannya dengan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika ”menu” pengajian itu mengupas hal yang lain? Yang selama ini harus diakui kerap luput dari kancah ”obrolan Ramadhan”?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya bersama kawan-kawan perempuan di Lembaga Konsultasi dan Pemberdayaan Perempuan (LKP2) Masyita Fatayat KP mencoba mendekatkan ke sana. Ramadhan 1929 H tahun ini, kami menjalin kerja sama dengan 107,2 Rosala FM Wates Kulonprogo dalam gelaran ”Senja Ramadhan”. Hadir sekali sepekan, setiap Jumat sore selama bulan Ramadhan di radio ini, kurang lebih 30 menit menjelang tanda berbuka puasa (maghrib), kami mencoba mengudara untuk memperdengarkan sesuatu yang ’tidak biasanya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumat&lt;/strong&gt; di Ramadhan &lt;strong&gt;pertama&lt;/strong&gt; adalah sdr. Ibah Muthi’ah, Ketua Umum Fatayat NU KP, akan mengupas persoalan &lt;em&gt;Gender dalam Perspektif Islam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumat kedua&lt;/strong&gt; diisi oleh sdr. Sumi Hadiana, anggota DPRD Kulonprogo dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, akan mengupas persoalan &lt;em&gt;Kiprah Perempuan di Politik Praktis dalam Paradigma Islam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumat ketiga&lt;/strong&gt; mengetengahkan persoalan &lt;em&gt;Peran Keteladanan Perempuan dalam Pendidikan&lt;/em&gt;, yang akan dibawakan oleh sdr. Isnani Nurhalimah, aktivis perempuan yang sekaligus staf pengajar di MAN Wates 2 Kulonprogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jumat keempat&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;Jumat terakhir&lt;/strong&gt; menghadirkan perbincangan khusus dengan sdr. Kurnia Widyastuti, aktivis Fatayat NU KP yang mengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perbincangan khusus dengan pembawa acara saya sendiri itu akan mengorek cerita pengalaman pribadi seorang perempuan muslim (dalam hal ini sdr. Kurnia Widyastuti) ketika menuntut ilmu di negeri Barat; Amerika Serikat setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...menarik, bukan? So, jangan lewatkan mantengin Rosala FM di Jumat sore selama Ramadhan. &lt;em&gt;Sugeng Midangetaken&lt;/em&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SALAM PENCERAHAN&lt;/strong&gt; !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-5201165090830507976?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/5201165090830507976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=5201165090830507976' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5201165090830507976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5201165090830507976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/09/ngaji-sederhana-ramadhan-ala-perempuan.html' title='”Ngaji” Sederhana Ramadhan Ala Perempuan'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3100578049796448080</id><published>2008-08-01T19:57:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T20:31:46.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hmm...'/><title type='text'>Cerita dari Pernikahan</title><content type='html'>Kadang saya ingin sekali menghindari bercerita atau menulis kisah tentang pernikahan. Saya belum menikah. Jadi, saya sedikit khawatir cerita saya nantinya justru menjadi bermasalah. He he.. Tetapi barangkali, orang membincang tentang pernikahan adalah hal yang biasa-biasa saja. Pun semoga demikian dengan yang ingin saya tuliskan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan di bulan Juli kemarin dan awal Agustus ini, beberapa kawan dekat saya telah menjemput takdir indah di hidupnya masing-masing bersama seseorang yang selama ini mungkin sangat diimpi-impikan. Iffa Maskanah dengan rekan sekerjanya di Jambi, Mbak Musrifah dengan seorang Kyai muda harapan bangsa, Mas Hasta Indriyana dengan kekasihnya, Rohmi Astuti dengan Kang Boni (yang ini pasangan KKN, bukan “Kuliah Kerja Nyata”, tapi K yang “Kolusi” itu loh..sebab mereka berdua sama-sama di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lumbung Aksara&lt;/span&gt;, he he), Purwanto dengan gadis tetangganya, Mbak Maya dengan pujaannya, Mbak Ipung dengan pacarnya, Mbak Hanah dengan Mas-nya, dan Uul dengan cinta terakhirnya. Weleh-weleh…musim kawin ni ye??? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barakallahu ‘alaikuma wa ‘alaikum bi barakatillah. Mahmakuma bi as-sakinah mawaddah wa ar-rahmah. Jami’an Abadan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah menikah. Dan saya belum tahu bagaimana rasanya menikah. Atau bagaimana menjalani sebuah pernikahan. Terlebih di zaman yang semakin menggila seperti sekarang ini. Aih, saya tak ingin membincangkannya jauh-jauh. Saya takut teringat tulisan Puthut EA perihal pernikahan; “sial atau beruntung kau?” Hiiii..saya begidik jika mengingatnya. Bukan kenapa, hanya merasa tak nyaman saja ketika membaca kalimat yang seakan tak ada espektasi itu. Bukankah pernikahan itu memiliki pemaknaan yang jauh lebih agung dari sekadar “sial atau beruntung” yang seakan-akan seperti judi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan bukan hanya sekadar menyempurnakan agama dengan mengikuti sunah rasul. Bukan sekadar beribadah. Bukan sekadar persoalan resminya sebuah jalinan. Bukan sekadar hidup bersama dengan seseorang yang harus dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar mencapai garis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;finish&lt;/span&gt; dari cita-cita yang pernah diukir bersama semasa pacaran (belum menikah). Bukan sekadar keinginan menimang si kecil. Bukan sekadar menyatukan dua keluarga berbeda. Bukan sekadar bagaimana memperkecil dan menghindari disharmoni. Bukan sekadar mempersunting dan memperbunting (atau dipersunting dan diperbunting), apalagi sekadar menuju puncak subversif naluri sepasang manusia. Wah wah wah..ternyata banyak kadarnya ya…? he he he. Ketika ada pernyataan “bukan sekadar ini bukan sekadar itu”, pastinya di belakangnya akan diteruskan dengan kalimat “melainkan adalah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin nyaris semua pasangan memiliki terusannya sendiri dengan kata “melainkan adalah....” itu. Toh, semua pasangan, terutama kawan-kawan dekat saya itu orang-orang dewasa semuanya. Akan tidak menarik kalau saya tambah jauh meneruskan kalimat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang sesungguhnya membawa saya tergerak untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; tentang ini adalah telpon dari seorang kawan laki-laki saya dari pulau seberang. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak berusia 8 bulan. Beberapa bulan lalu secara tiba-tiba dia datang ke rumah saya. Mampir katanya, setelah menghadiri sebuah event nasional di Jakarta. Dalam telponnya dia menanyakan kepada saya, apa pendapat saya jika lelaki hendak beristri dua (poligami). Tawa saya langsung meledak begitu mendengarnya. Bukan kenapa, hanya sedikit kaget saja, sembari dalam hati berjaga-jaga semoga kawan saya ini tidak ada maksud untuk meminta saya menjadi istri keduanya, atau istri kedua siapa pun. Ha ha ha. Dia minta pendapat saya disertai dalil-dalil. Awalnya saya menolak karena saya membaca sesuatu yang akan tidak ada titik temu antara saya dan dia. Tapi kawan saya ini terus mendesak. Dengan diplomatis saya mengatakan kepadanya; “Hei, Bung. Bisa jadi keyakinan atas tafsiran saya sangat tidak bisa diterima karena dianggap salah oleh orang lain, begitu pula sebaliknya, keyakinan orang lain terhadap tafsirannya bisa jadi sangat tidak bisa saya terima karena saya anggap salah.” Dari situ sesungguhnya saya berharap kawan saya itu bisa membaca maksud saya. Selanjutnya saya mengatakan bahwa perbincangan seperti ini akan sangat panjang. Dan sayang jika harus menghabiskan pulsa, meski seluler kami sama-sama Flexi yang katanya murah-meriah. Tapi dia terus meminta saya mengutarakan apa yang ada dalam pikiran saya. Dia menyimaknya dengan serius. Saya tidak sebutkan dalil-dalil yang dia minta itu. Arah bicara selanjutnya bisa saya tebak dengan pasti. Kawan saya itu lantas membacakan sebuah ayat yang sangat saya hafal; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fankihu ma thoba lakum minan nisa’i matsna wa tsulatsa wa ruba’a&lt;/span&gt;. Selesai di situ. Persis seperti tebakan saya, pasti ia akan membacanya hanya berhenti di situ lantas menerjemahkan (bukan menafsirkan). Padahal ada terusannya; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fain khiftum anla ta’dilu fawahidah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia berpanjang lebar terlebih dulu, akhirnya saya hanya memberi satu pancingan jawaban, bahwa saya lebih melihat konteks yang melatari ayat itu diturunkan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;asbabunnuzul&lt;/span&gt;). Saya lebih melihat ke persoalan semangat atau ruh—bukan badaniah—dari ayat itu, yakni &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;persoalan kemanusiaan&lt;/span&gt; tentang bagaimana menangani kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mustadh’afin&lt;/span&gt; yang terdapat dalam kasus anak yatim-piatu saat itu. Bagaimana dalam ajaran Islam yang saya yakini itu sesungguhnya tidak mengenal konsep ”Panti Asuhan” bagi yatim-piatu seperti yang kita kenal sekarang. Tuhan mengenalkan dan menganjurkan konsep ”keluarga”. Bagaimana anak yatim-piatu yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mustadh’afin&lt;/span&gt; itu dimasukkan menjadi bagian ”keluarga”. Ada pengakuan, ada perlindungan akan keamanan, penghargaan terhadap kemanusiaannya, ada penjagaan terhadap hak-haknya (termasuk hak atas harta benda warisan orang tuanya yang meninggal). Dan itu akan mudah diwujudkan dalam bingkai ”keluarga”. Bandingkan dengan konsep ”Panti Asuhan” seperti yang kita kenal. Meski semangat yang ada barangkali ada semangat kekeluargaan, tetapi bandingkan dengan jika si yatim-piatu ”resmi” menjadi bagian dari ”keluarga”. Pasti ”kekeluargaan” yang terbangun jauh berbeda. Konsep menikahi perempuan lebih dari satu dalam konteks turunnya ayat itu menjadi jelas; menjaga kehidupannya. Bukan karena kuatir terjatuh dalam zina demi melihat moleknya si perempuan, seperti yang dijadikan senjata pelaku poligami kebanyakan; sesuatu yang urusannya badaniah semata, sementara di sisi lain tak jarang menempatkan perempuan sebagai ”biang” karena kemolekannya. Jika kemudian zaman telah berbeda, bagaimana mungkin pemaknaan akan poligami—yang oleh DR. Quraish Shihab disebut sebagai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pintu darurat dengan syarat yang berat&lt;/span&gt;—menjadi ditelan mentah-mentah unsur penggampangannya atas nama ”kepentingan” yang dipelintir sedemikian rupa? Parahnya, kebanyakan pelaku poligami (khususnya di negeri ini) kerapkali menjual ayat Tuhan sekenanya. Seolah-olah dengan begitu dirinya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sok&lt;/span&gt; agamis. Walhasil, semangat dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rahmatan lil ’alamin&lt;/span&gt; yang notabene inti ajaran cinta Tuhan menjadi sempit karena telah direduksi demi kepentingan-kepentingan tertentu. Pola-pola &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mu’asyaroh bil ma’ruf&lt;/span&gt; sebagai jiwa terdalam dalam persahabatan agung dengan pasangan pernikahan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mitsaqon gholidhon&lt;/span&gt;, akan sulit tercapai kalau tidak boleh dikatakan mustahil melalui poligami. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mu’asyaroh bil ma’ruf&lt;/span&gt; mensyaratkan ”ketersalingan” menentukan hal yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ma’ruf&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ma’ruf&lt;/span&gt; sangat berbeda hakikatnya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thoyyib&lt;/span&gt;, meski artinya sama-sama baik), sementara ”ketersalingan” yang termaktub dalam yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ma’ruf&lt;/span&gt; itu tidak mungkin dilakukan oleh pelaku poligami. Karena ”ketersalingan” itu pula berarti menuntut sebuah relasi kuasa yang seimbang. Bagaimana mungkin relasi kuasa yang seimbang ada dalam sistem poligami? Bagaimana mungkin ma’ruf bisa disenyawakan hakikinya dalam pernikahan poligami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya sampaikan satu hal itu saja kepada kawan saya itu. Berharap kawan saya itu akan melangkahkan sendiri pikirannya. Sama sekali saya tidak menyinggung persoalan Sang Nabi yang menikah dengan berpoligami adalah setelah berpuluh tahun istri pertamanya meninggal dunia (bandingkan dengan lelaki sekarang yang belum seratus hari saja sejak istrinya meninggal, telah menikah lagi, apalagi jika berpoligami yang tak perlu menunggu istrinya meninggal? Lagi-lagi kerap dipakai alasan untuk menghindari syahwat yang meledak), dan hal ini umumnya diabaikan oleh para pelaku poligami. Saya juga tidak menyinggung sama sekali bagaimana Sang Nabi sangat tersinggung dengan rencana sang menantu—Ali bin Abi Thalib—ketika akan menikah lagi seraya mengatakan; ”kalau engkau menyakiti hati anakku sama saja dengan engkau menyakiti hatiku”. Sang khulafaurrasyidin menyakiti hati Sang Nabi? Cerita dari mana? (Meski akhirnya Ali pun poligami setelah Sang Nabi wafat, tetapi setidaknya realitas seorang Nabi yang manusiawi tidak dinafikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak membincangkan konsep adil sedikit pun kepada kawan saya itu, meski saya tahu itu hal mendasar bagi orang yang berpoligami. Saya tidak menyinggung soal poligami yang rentan terhadap kekerasan terhadap perempuan dan siapa yang paling menderita karena menjadi korban? Apalagi berkeras menyatakan bahwa poligami adalah satu bentuk pelecehan terhadap perempuan. Saya tidak bicarakan itu sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya obrolan itu selesai begitu saja dan telepon telah ditutup, saya jadi teringat dengan kawan laki-laki saya yang juga pernah bertandang ke rumah saya beberapa bulan lalu. Kawan saya yang satu itu curhat soal istrinya, soal rumah tangganya. Dia menceritakan tengah dalam proses perceraian dengan sang istri yang telah memberinya seorang anak berumur tiga tahun. Istrinya terbukti selingkuh. Dan, anehnya, justru sang istrilah yang menggugat cerai di pengadilan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wuzz&lt;/span&gt;, jauh dalam hati saya ikut prihatin dan merasa tak enak ketika persoalan rumah tangga seseorang musti saya ketahui apalagi disampaikan secara langsung oleh yang bersangkutan. Tetapi saya berusaha ber-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;positif thinking&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, mungkin nilai penting persahabatan mewujud di sini. Berbagi. Dan kedatangannya beserta telinga saya yang mau mendengarnya, barangkali mampu sedikit membuatnya lega. Ya, semoga saja. Saya lantas tergoda untuk mengaitkan cerita perceraiannya dengan poligami seperti yang kawan saya tanyakan di telepon itu (meski tak ada kaitannya). Bahwa, alangkah pernikahan itu begitu ini, alangkah pernikahan itu begitu itu. Akhirnya, saya tak pernah bisa menjawab apa-apa ketika kawan-kawan saya itu meminta sekadar nasihat atau masukan terkait persoalan dalam perjalanan pernikahan mereka. Saya tiba-tiba merasa asing melihat dunia sekeliling. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan perempuan yang pernah mengutarakan keinginannya ingin menikah secepatnya dengan sang pacar, suatu ketika menanyakan kepada adik saya via telepon genggam; “Menurutmu gimana Mbak, jika pacar menanyakan tentang masa lalu kita? Terutama masa lalu dengan pacar kita sebelum-sebelumnya? Contohnya apa saja yang pernah dilakukan?” Adik saya menjawab ketus; “kayak nggak bisa menghargai privasi orang saja!!!” Yup, barangkali, itu juga salah satu dari titik berangkat bagi seseorang yang menjalin hubungan istimewa—apalagi sampai jenjang pernikahan—yakni dengan mengedepankan penghargaan terhadap pasangan. Penghargaan dalam hal apa pun. Dan sikap penghargaan ini tak bisa dimunculkan begitu saja, tetapi harus terus-menerus dipelajari seiring proses yang mengiringi. Penghargaan terhadap ciptaan Tuhan, bahwa tidaklah Tuhan itu menciptakan makhluk bernama lelaki-perempuan. Tetapi Tuhan itu menciptakan makhluk bernama MANUSIA. (Hmm, sok bijak yah…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak kawan akhirnya selalu tiba pada pertanyaan yang hanya bisa saya jawab dengan senyum; “Kapan sampean menikah?” Ketika pertanyaan itu menjadi bernada serius buru-buru saya jawab; “Belum punya pacar, belum ketemu, belum ditemu, belum diketemukan, belum dipertemukan, belum saatnya mungkin”. Aih aih aih…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja di antara tiga kawan dekat saya di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lumbung Aksara&lt;/span&gt; yang paling tidak dalam delapan bulan ke depan, masing-masing dalam waktu yang berbeda, akan melangsungkan pernikahan dengan pasangannya masing-masing, sedikit tergugah setelah membaca blog saya ini atau setidak-tidaknya mau tersenyum. He he he…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hallah&lt;/span&gt;…! Saya hanya ingin menyampaikan kepada mereka bahwa saya salut dengan orang-orang yang memiliki cinta, masih bisa jatuh cinta, dan membawanya ke hadapan Tuhan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mistaqon gholidhon&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Make U’r Wish Come True&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Ceileee..ceilatun..ceilaaani..ceiluuuuna! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat Menikah, Selamat Memetik Puisi dari Pohon-Pohon Tuhan&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ditemani Robin Mcauley; “Teach Me How To Dream”&lt;br /&gt;Kamar gadis, 2 Agustus 2008, 00:36 WIB&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3100578049796448080?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3100578049796448080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3100578049796448080' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3100578049796448080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3100578049796448080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/08/cerita-dari-pernikahan.html' title='Cerita dari Pernikahan'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-1774637529472090086</id><published>2008-07-26T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T20:40:41.043-07:00</updated><title type='text'>Latah Ala Selebriti</title><content type='html'>Secara tidak sengaja beberapa saat lalu, saya sempatkan menyaksikan tayangan dialog di televisi. Dua stasiun televisi berbeda menayangkan dialog seputar politik yang sama—seputar fenomena artis atau selebriti tanah air—yang  hendak maju dalam karier politik. Entah sebagai legislatif entah eksekutif (karena hampir pasti tak ada yang hendak maju sebagai yudikatif). Beberapa artis yang masuk presensi daftar hadir di dunia politik populer sebut saja Aji Massaid (Partai Demokrat), Rano Karno (Partai Golkar), Dede Yusuf (PAN), pelawak Komar Empat Sekawan (Partai Demokrat), Wanda Hamidah (PAN), Nurul Arifin (Partai Golkar), Rieke Dyah Pitaloka (semula PKB, belakangan PDI-P), Edo Kondologit (PDI-P), Marissa Haque (semula PDID-P dan sempat nyalon Wabup Banten, dan kini isunya ditarik oleh Suryadarma Ali masuk PPP), Syaiful Jamil (nyalon Wawali Serang), alm. Sophan Sophiaan (semula PDI-P, belakangan PNBK), Eros Djarot (PNBK), Sys NS (Partai Demokrat), dll yang mungkin tak banyak saya tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artis masuk panggung politik sebenarnya bukan fenomena. Tetapi sudah menjadi hal yang biasa. Pada tahun-tahun jauh, seorang Djamaluddin Malik yang pelopor industri perfilman Indonesia, telah meniti panggung politik dengan duduk di senayan sebagai wakil rakyat dari Partai Nahdhatul Ulama (ketika NU menjadi partai politik, tahun 1955). Dua kawannya sesama pegiat seni, Asrul Sani dan Usmar Ismail, juga melenggang ke Senayan sebagai wakil dari seniman. Pada saat itu hampir tak ada artis atau seniman yang melirik dunia politik mengingat konstelasi negeri yang baru merayakan euphoria menjadi ”negara baru” masih acakadut untuk dirasuki elemen-elemen lain. Intinya, petani khusyuk dengan pertanian, politikus khusyuk dengan perpolitikan, dan artis khusyuk dengan dunia kesenian. Saya sangat tertarik ketika menyimak sejarah atau kisah tentang Djamaluddin Malik dari sebuah buku tentang NU. Tetapi tidak akan saya tuliskan di sini kecuali bahwa ”gejolak” modernisme di kalangan NU sejatinya telah jauh hadir di negeri ini oleh seorang Djamaluddin Malik. Ini adalah hal yang ironi, mengingat dalam denyut percakapan burung di negeri ini sejauh saya dengar, NU selalu dipojokkan dengan sesuatu yang lekat dengan tradisional—yang di vis a vis-kan dengan kemodernan—bahkan dalam segala hal. Dan ketika itu, seorang Djamaluddin Maliklah dan kedua kawannya itulah yang sesungguhnya fenomenal. Djamaluddin Malik yang dirangkai dalam tiga sekawan dengan Asrul Sani dan Usmar Ismail (seniman dan sastrawan kenamaan) kemudian mendirikan LESBUMI (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), sebuah lembaga kesenian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;underbouw&lt;/span&gt; partai Nahdhatul Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang aktor kenamaan menjadi gubernur California; Arnold S., bahkan aktor kenamaan di sana ada yang menjadi presiden Amerika Serikat. Sejauh ini, memang belum ada bukti signifikan akan keberhasilan mereka membawa kesejahteraan rakyat. Tetapi saya hanya melihat sepintas, ada keberhasilan mereka menjadi seorang yang lebih dari sekadar pejabat, yakni menjadi pemimpin. Sementara di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu panjang untuk membuktikan kiprah mereka di mata rakyat. Anggapan saya selama ini belum jauh dari bahwa mereka, para selebriti negeri ini yang ”mendadak politikus”, tak lebih dari sekadar memburu jabatan, menjadi pejabat, dan bukan menjadi pemimpin! Pejabat dan pemimpin memiliki analog dengan pengajar dan pendidik. Kedua item tersebut memiliki makna berbeda meski kursinya bisa jadi sama. Dan, ketika bicara tentang pejabat di negeri ini mudah sekali ditebak, nggak ada vigur yang pro rakyat. Salah satu unsur kasarnya karena sistem kepejabatan telah membentuk watak sedemkian rupa manusia Indonesia untuk selalu minta ”dilayani rakyat” dan bukan melayani rakyat. Jabatan menjadi semacam profesi dan juga hobi untuk mengedepankan kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu. Walhasil, tujuan utama jabatan politik di negeri ini tak pernah jauh dari kepentingan. Problem rakyat yang musti dientaskan sesuai amanah Undang-Undang, dikebiri habis-habisan. Dan, lagi-lagi rakyat yang musti menjadi tumbal sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal artis yang ”mendadak politikus”, tak ada label haram memang dari MUI. Tetapi, apa sih sesungguhnya yang disumbangkan dari mereka? Saya kok tidak melihat apapun kecuali bahwa mereka, kalau tidak dimanfaatkan parpol pengusungnya, mereka mencari tambahan popularitas atas dasar kepentingan tertentu pula. Saya tidak pernah menganggap para artis itu bisa menjadi pemimpin. Ingat, menjadi pemimpin, bukan pejabat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sejenak menengok ke belakang, tipikal figur pemimpin negeri ini dilahirkan dari situasi perjuangan dan pergerakan yang telah menjadi jiwa hidup di tengah kondisi rakyat yang mensesaki isi kepala untuk senantiasa diatasi. Sangat sering turun bersama rakyat, mengorganisir rakyat, mendidik rakyat (mendidik, bukan mengajar, apalagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;minteri&lt;/span&gt;). Para pemimpin itu, tidak sedikit yang hidup jauh dari latar belakang mewah, melatih hidup dalam keprihatinan yang menjiwa, merasakan kepedihan nasib bangsa sembari terus mengolah pikir mencari jalan keluar yang bernas. Mereka tidak lahir dari dunia ”pasar” dan selebritas meski tidak lantas kemudian menjauhi. Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Tidak usah jauh-jauh, kita bisa hidup di sebuah negara berdaulat itu saja sudah cukup, berkat jasa para pemimpin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak ada yang ideal di negeri ini. Tetapi, pemimpin yang mendekati ideal menurut saya adalah yang lahir dari pergerakan dengan sekian kapabilitas untuk menyelami dan merasakan keprihatinan nasib rakyat yang mayoritas masih bodoh dan miskin ini sehingga style kepemimpinannya sungguh-sungguh pro rakyat, waktunya lebih banyak dekat dengan rakyat dan bukan dekat dengan pejabat. Seorang yang gusar jika di rumahnya masih ada harta yang belum disedekahkan, seorang yang berjiwa seperti Umar bin Khattab ketika menyaksikan rakyatnya tak bisa makan. Dan, jiwa-jiwa kepemimpinan seperti itu tidak bisa didapatkan kecuali dari pembelajaran yang panjang dari sebuah proses pergerakan bersama rakyat, bukan pembelajaran dari dunia selebritas yang hiruk pikuknya di negeri ini kian memuakkan. Weh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-1774637529472090086?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/1774637529472090086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=1774637529472090086' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1774637529472090086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1774637529472090086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/07/latah-ala-selebriti.html' title='Latah Ala Selebriti'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-4271792265717963638</id><published>2008-07-05T03:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T03:40:44.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='- - Buat Mas Hasta; Selamat Menikah ya...? Barakallahu &apos;Alaikuma...'/><title type='text'>Memetik Dawai di suatu Petang</title><content type='html'>: mas hasta indriyana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali&lt;br /&gt;Langkah kaki terlalu kecil bersijingkat&lt;br /&gt;Untuk sampai di hadapanmu, kekasih puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali&lt;br /&gt;Tak lumat benar ritus&lt;br /&gt;Dudukduduk di sini sambil&lt;br /&gt;Berangan kau bisa dijelang &lt;br /&gt;Memunguti puisi&lt;br /&gt;Yang jenak kau simpan rapi di bukubuku&lt;br /&gt;Mengangkuti kalimatkalimat&lt;br /&gt;Tak jadijadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali&lt;br /&gt;Lautan kelewat kecil, diseberangi&lt;br /&gt;Bagi samudera syair yang kembang di rambutmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, dan bertanyalah padaku&lt;br /&gt;Mengapa secangkir teh hangat tersaji, di sini&lt;br /&gt;Menuruni lembah tanahtanah rekah&lt;br /&gt;Kemarau dari tahuntahun jauh&lt;br /&gt;Teruntai turun, Wonosari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku menangkup jazirah&lt;br /&gt;Ketika di petang ini kembali kupetik dawaidawai&lt;br /&gt;Kuronce cantik dalam keranjang&lt;br /&gt;Keranjang puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngestiharjo-Wates, 5 Juli 2008&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-4271792265717963638?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/4271792265717963638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=4271792265717963638' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4271792265717963638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4271792265717963638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/07/memetik-dawai-di-suatu-petang.html' title='Memetik Dawai di suatu Petang'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-7740417992587717020</id><published>2008-06-26T03:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T03:19:34.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;...LINTAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ujung mata gugur&lt;br /&gt;di sehampar hurup, babad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang surya garang sengat batok kepala&lt;br /&gt;hancurkan sebuah nama dari namanama, alpa&lt;br /&gt;katakata, istimewa sungguh&lt;br /&gt;mengikat naluri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ketika gerak hati tiba&lt;br /&gt;singgahlah di telapak tanganku&lt;br /&gt;ejalah dingin&lt;br /&gt;melingkari catatan kenangan&lt;br /&gt;tumpul di ujung lembar garis tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika kota-kota kecil&lt;br /&gt;menggelar peta di kerudungku&lt;br /&gt;mata anak kecil tertambat&lt;br /&gt;jatuh&lt;br /&gt;serupa hurup yang tak jelas terbaca&lt;br /&gt;oleh kaca mata&lt;br /&gt;angin sergap ia&lt;br /&gt;pecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;loronglorong susur hurup&lt;br /&gt;hurup&lt;br /&gt;hurup&lt;br /&gt;hurup&lt;br /&gt;ajaib dalam magis mantra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau masih tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pijit tungkai cahya&lt;br /&gt;biar redam sementara&lt;br /&gt;kau baca babad beranak pinak, di pipi kenyal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, kuterbayang sayu&lt;br /&gt;berumah di atas rambutmu pirang&lt;br /&gt;menakar berapa harga hurup yang kau tuang&lt;br /&gt;dalam surat salah alamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lampu merah&lt;br /&gt;jalanan basah&lt;br /&gt;debu&lt;br /&gt;keringat&lt;br /&gt;sapaansapaan&lt;br /&gt;selamat jalan&lt;br /&gt;selamat tinggal&lt;br /&gt;pos polisi&lt;br /&gt;masjid&lt;br /&gt;patung kuda&lt;br /&gt;warung bakmi&lt;br /&gt;tukang beca&lt;br /&gt;gedung yang menyimpan uanguang&lt;br /&gt;kau mau aku meremas semuanya&lt;br /&gt;menjadi sebaris hurup&lt;br /&gt;untuk selimut tidur malammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terminal dalam bingkai hurupmu&lt;br /&gt;adalah lintas yang asing&lt;br /&gt;tak kukenal&lt;br /&gt;sungguh&lt;br /&gt;getas lagu pengamen&lt;br /&gt;merambahi hujan aspal di hurup, hurupmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau menjulang&lt;br /&gt;bersama truk pengangkut kelapa&lt;br /&gt;melintasi alamat hurup&lt;br /&gt;mengejar kuburan babad yang tak sempat kuselamatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Virgo, 26 Juni 08&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-7740417992587717020?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/7740417992587717020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=7740417992587717020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7740417992587717020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7740417992587717020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/lintas_26.html' title=''/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6884173950843753896</id><published>2008-06-11T18:07:00.000-07:00</published><updated>2008-06-11T18:17:29.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah untuk seorang kawan; ...semoga semua baik-baik saja'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Seperti Layang-Layang Anakku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jikalau lelaki memiliki kekuatan untuk mencintai dan perempuan memiliki kekuatan untuk memilih, mengapa keduanya tidak berlaku di hidupku?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hubunganku dengan ayahnya Rafi, suamiku, memburuk beberapa bulan belakangan. Tak ada kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing kami; baik kekuatan untuk mencintai atau kekuatan untuk memilih. Kalimat yang terus berdengung di telinga itu seperti kapal terbang yang landas menjauh. Puncaknya ketika aku memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuaku di Situbondo Jawa Timur 1 bulan lalu. Hingga kini, suamiku tak pernah sekalipun mencari tahu, menyusul atau sekadar menelpon Rafi anak kami yang kubawa bersamaku untuk menyatakan rasa rindu seorang ayah terhadap anak semata wayangnya. Bahkan komunikasi antara kami tak terjadi sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu rembulan merah samar bergerak turun ke arah barat. Langit cerah bukan main. Sebuah keganjilan di musim penghujan. Seperti keganjilan rumah tanggaku yang kian tak cerah hingga memancing sebuah keputusan penting kuambil. Kurapikan seluruh isi kamar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;seperti kurapikan isi hatiku agar tidak berantakan&lt;/span&gt;). Kuambil tas koper berukuran paling besar. Kumasukkan dan kutata pakaianku dan pakaian anakku berikut dokumentasi penting milikku. Aku seolah tengah berjaga-jaga dari setiap kemungkinan; entah kemungkinan manusia entah kemungkinan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku gemetar tatkala kuraih buku Nikahku. Kutimang-timang sebentar. Kubuka lembarannya dengan perasaan yang berjumpalitan. Terpampang dua gambar bersisihan; aku dan suamiku. Aku teringat sebulan sebelum wisuda sarjana, suamiku melamar. Aku menerimanya dengan pertimbangan kami telah cukup lama berpacaran: sejak Ospek mahasiswa baru. Sebulan kemudian, usai perayaan wisuda, kami menikah dan aku diboyongnya ke sini, sebuah dusun kecil di ujung selatan kabupaten ini. Dan awalnya kami bahagia, terlebih ketika buah cinta kami lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda ... Bunda ...? hu hu hu ....”, tiba-tiba Rafi terbangun dari tidur, memanggilku, dan menangis. Kutenangkan Rafi dalam pelukku. Kuusap kepalanya lembut. Mulutnya bergerak-gerak mencari sesuatu di dadaku. Meski umur Rafi baru 1,5 tahun aku sudah menyapihnya, menyadari ASI-ku yang telah kering (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sekering air mataku&lt;/span&gt;) terhitung sejak badai itu menerjangku. Rafi terus merengek minta menyusu. Aku bangkit untuk mengambil botol susu di atas meja dekat pintu. Pada saat bersamaan, pintu terkuak dan wajah pias itu muncul. Mata kami beradu. Ia meraih botol susu dariku dan detik selanjutnya Rafi sudah tenang bersama botol susu dalam rengkuhan ayahnya. Dadaku berdesir, terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, besok aku dan Rafi berniat jenguk ibu di Situbondo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa semendadak ini?” Suamiku seperti kaget dan menyimpan tanya. Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang sudah disadarinya ada, terkait dengan kurang harmonisnya kami. Aku merasakan suamiku hendak memperpanjang percakapan. Tapi buru-buru kuberi isyarat ”tunda, jangan sekarang, ada anak kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu reaksi suamiku selanjutnya. Tapi tak ada apa-apa. Kucium kening anakku. Suamiku lalu membopong Rafi yang sudah lelap, dipindah ke kamar sebelah. Aku duduk di bibir ranjang. Suamiku masuk. Menutup pintu dan mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau tengah menyiapkan rencana tertentu di Situbondo?” Tanya suamiku memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menenangkan diri” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian kuijinkan ke Situbondo. Tapi kuharap kau tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu berpisah denganku.” Aku tergeragap. Tak kukira lelaki yang kucintai ini akan mengatakan sesuatu yang menurutku tak seharusnya keluar. Aku berpikir suamiku sengaja menutup arah pembicaraan yang sehat dengan kalimat barusan. Dia tahu bahwa aku mudah putus asa dengan kalimat terakhirnya. Aku seperti harus memunguti kembali kepingan benteng pertahanan yang rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau tahu, dari dulu aku tidak pernah tidak mencintaimu. Dan memilikimu seperti sekarang adalah hal teristimewa yang pernah ada dalam hidupku,” suamiku mulai merayuku. Dan sungguh, ini membuatku sebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi pilihanku di jalan ini, seharusnya tak perlu kau usik. Dari dulu kau tahu aku tak pernah mundur selangkah pun demi sebuah tujuan. Aku hanya butuh pengertianmu sebagai seorang istri. Aku mencintaimu, Bunè ...” Sejurus kemudian suamiku meraihku, sesuatu yang tak pernah dilakukannya kepadaku sejak badai itu. Sejenak aku nervous. Malam itu, diajaknya aku mengenyahkan segala yang bernama ingatan, menaiki kembali tangga pelangi, menuju titik paling subversif naluri sepasang manusia. Usai ingatan kembali pulih menyiramku, aku berbisik, “Mas, bisa antar kami ke agen travel besok pagi, ’kan?” Suamiku tak menjawab. Tersungkur dalam puas tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya aku bangun kesiangan. Tak kudapati suamiku di samping tidurku. Saat kutelepon dijawabnya tengah ke luar kota, katanya rapat mendadak untuk konsolidasi partai politik yang tengah diceburinya. Pesta demokrasi telah diambang mata. Aku mengeluh. Inilah detik yang aku cemaskan. Suamiku ternyata tak berubah. Keindahan semalam hanya tipuan belaka. Kini ia menjadi kayu bakar kering yang bersiap mendekati api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ruang hatiku seketika meredup. Tak ada rasa. Tak ada suka. Tak ada duka. Tak ada apa-apa. Sambil berkemas untuk berangkat ke agen travel yang akan mengantar kami ke Situbondo, kukemasi air mataku yang hendak tumpah. Rafiku muncul, berucap terbata-bata karena memang belum lancar bicara dan menceritakan kejadian semalam kenapa ia menangis. Ia bermimpi bermain layang-layang. Tapi kemudian layang-layang itu putus dan diterbangkan angin. Ia merengek minta dibelikan layang-layang. Kubujuk anakku untuk beli layang-layang nanti saja setiba di rumah Eyangnya Situbondo. Lelaki kecilku itu melonjak kegirangan begitu tahu kami akan pergi ke rumah Eyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pilihan. Ya, sebuah pilihan. Pilihan yang tidak pernah ada dalam peta perjalanan kami sebenarnya. Dan keyakinanku mengatakan bahwa jika pilihan itu diambil, maka kami akan oleng. Karena perjalanan itu menjadi tak ada kaca spion, tak ada rem yang kuat, dan tak ada gas yang fleksibel. Maka aku mencoba sejenak menepikan lajuku di sebuah pinggir jalan. Berteduh sambil melihat kembali peta bekal perjalananku sendiri. Menata kembali rencana. Aku harus membuat pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ini seperti jarak yang dibentangkan antara dua tempat yang tak terbilang jauhnya. Seperti sebuah lagu yang terdengar tak pernah merdu. Seperti layang-layang anakku yang diterbangkan angin. Aktivitas suamiku seperti angin yang membuatnya lepas dari kami. Tersangkut awan, mungkin menyimpan madu buatnya, tapi racun buat kami; aku dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala dengung itu tak lagi lamat. Menjadi sekawanan lebah, berpadu dengan angin kencang, bergemuruh, membentuk badai dan bersiap menghantam bidukku, aku harus tanggap darurat untuk menyelamatkannya. Aku tak peduli meski layang-layang yang tengah dimainkan anakku terombang-ambing di kejauhan awan. Aku kian tak peduli meski aku hanya sendiri, sementara rombongan angin itu membadai pasti. Aku sungguh tak peduli meski aku kalah melawan pertarungan yang tak imbang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Secara sepihak dan mendadak, suamiku melayangkan gugatan cerai dan pengadilan mengabulkan permohonannya. Rafi direlakan berada dalam pengasuhanku. Semua terjadi begitu cepat. Sisi kewarasanku nyaris tak dapat menangkapnya. Dan sejauh itu pula suamiku tak bergeming atas diriku. Mungkin ia kelewat senang karena kini ia lebih leluasa bergerak bersama angin, menggelindingkan bola api yang telah membakarnya dan akan membuat kebakaran semakin besar di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kutemani anakku yang tengah memainkan layang-layang. Berulangkali ia coba namun gagal. Tubuhnya yang kecil tak memungkinkannya memainkan layang-layang, hingga Eyangnya datang membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku terdiam getir mengingat semuanya. Kugigit bibirku kuat-kuat. Memandangi anakku dan layang-layangnya yang menjauh. Tiga bulan sudah kini aku dan Rafi meninggalkan rumah ayahnya. Dan aku belum memberi tahu mantan suamiku setelah perceraian itu, bahwa tadi pagi, dokter yang memeriksaku menyatakan aku positif berbadan dua. Ya! anak keduaku akan lahir tanpa ayah yang menyandingnya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dikawani oleh lengkingan “Carrie”-nya EUROPE; Ngestiharjo, Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6884173950843753896?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6884173950843753896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6884173950843753896' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6884173950843753896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6884173950843753896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/seperti-layang-layang-anakku-jikalau.html' title=''/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3119258043543495593</id><published>2008-06-09T19:20:00.001-07:00</published><updated>2008-06-09T19:22:41.249-07:00</updated><title type='text'>Untuk Sahabat</title><content type='html'>: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iis Kholisoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas air kukecipakkan jemari&lt;br /&gt;Mencelupkan baitbait puisi&lt;br /&gt;Yang karam di kedalaman tanah yang tak lagi merdeka dan menghilang ke entah&lt;br /&gt;Mungkin tersangkut bebatuan dasar yang ditimbun penguasa&lt;br /&gt;Mungkin benarbenar hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkemaslah!&lt;br /&gt;Lapangkan rindumu dan lunaskan segera&lt;br /&gt;Batu karang itu akan menangkupkan keluhmu&lt;br /&gt;Tak guna sedan sedu&lt;br /&gt;Buang dan buang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada yang dikerjakan&lt;br /&gt;Agar kehidupan berjalan wajar&lt;br /&gt;Bukan begitu, Jeng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rumah Iis, Pandeglang 2004&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3119258043543495593?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3119258043543495593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3119258043543495593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3119258043543495593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3119258043543495593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/untuk-sahabat.html' title='Untuk Sahabat'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3042504297189421236</id><published>2008-06-09T19:11:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T19:19:02.147-07:00</updated><title type='text'>Jangan Kau Diamkan Diammu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku yang tak wasis membaca sapamu&lt;br /&gt;Leleh di inbox telepon genggamku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rembulan merekah merah semangka&lt;br /&gt;Pernah kau eja untukku&lt;br /&gt;”Ndari; nama rembulan”&lt;br /&gt;Tapi malam ini awan hitam berarak&lt;br /&gt;Menjalin kusut pada lingkar rembulan&lt;br /&gt;Mataku denyar kabut&lt;br /&gt;Telingaku hanyut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau yang masih diam&lt;br /&gt;Dedah hatiku&lt;br /&gt;Menjadi denyut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah sedikit mengerti ketidakmengertianku&lt;br /&gt;Yang gagal menangkap runcing cahaya&lt;br /&gt;Meski getar rindumu hadir kurasa, lamat&lt;br /&gt;Menganyam temali telepati&lt;br /&gt;Kabarkan sebuah pengertian yang tak kunjung kumengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau yang masih diam&lt;br /&gt;Mengajak aku berputus asa&lt;br /&gt;Menuliskanmu&lt;br /&gt;Di alamat batinku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngestiharjo, 20 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3042504297189421236?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3042504297189421236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3042504297189421236' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3042504297189421236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3042504297189421236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/jangan-kau-diamkan-diammu.html' title='Jangan Kau Diamkan Diammu'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3400899438672250551</id><published>2008-06-08T21:15:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T22:10:03.107-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jeng Utik?'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selamat jalan'/><title type='text'>Ïn Memoriam ; TRI WAHYUNI - - “Utik”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SEy6BcuuWSI/AAAAAAAAAJU/atbPR1vEQoE/s1600-h/P1060510.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SEy6BcuuWSI/AAAAAAAAAJU/atbPR1vEQoE/s400/P1060510.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209743403015624994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Foto Utik (almarhumah) kuminta berpose membaca LONTAR di depan gedung NU Wates saat acara Temu Sastra Tiga Kota, 13 Januari 2008. Gambarnya kuambil sesaat sebelum acara dimulai dan hari itu terakhir kali kami berjumpa fisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap yang bernyawa pasti akan mati”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pagi, seorang sahabat, kawan, adik, Mbak, teman seperjuangan-sepergerakan, juga mungkin kekasih; Utik “Tri Wahyuni” berpulang kehadirat-Nya.&lt;br /&gt;Kecelakaan di Daendles kawasan Trisik Galur Sabtu sore, 7 Juni 2008 sekitar pukul 15.00 WIB itu mengantarkan nyawanya sehari kemudian di PKU Muhammadiyah Jogja.&lt;br /&gt;Ya. Kadang kami harus akui bahwa kami semua selalu saja tak siap dengan sebuah kehilangan; apa pun dan siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Jeng…?&lt;br /&gt;Semoga kasih dan baktimu abadi sepanjang masa.&lt;br /&gt;Semoga kau sentausa dalam rengkuhan-Nya.&lt;br /&gt;Doa kami semua mengiringimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khusnul Khotimah&lt;br /&gt;Allahumma Amin&lt;br /&gt;Allahumma Amin&lt;br /&gt;Allahumma Amin&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3400899438672250551?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3400899438672250551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3400899438672250551' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3400899438672250551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3400899438672250551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/n-memoriam-tri-wahyuni-utik.html' title='Ïn Memoriam ; TRI WAHYUNI - - “Utik”'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SEy6BcuuWSI/AAAAAAAAAJU/atbPR1vEQoE/s72-c/P1060510.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-8426472217651417627</id><published>2008-06-01T18:38:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T19:15:32.868-07:00</updated><title type='text'>Baca-Baca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SENVrrlOdCI/AAAAAAAAAIk/RjnWsbYlh1s/s1600-h/Cover+Novel+Nirzona.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SENVrrlOdCI/AAAAAAAAAIk/RjnWsbYlh1s/s400/Cover+Novel+Nirzona.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207099803092022306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;N I R Z O N A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : NIRZONA&lt;br /&gt;Penulis  : Abidah El Khalieqy&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta&lt;br /&gt;Tebal  : x + 332 hlm; 12 x 18 cm&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sebuah Zona yang Nir; Kisah di Balik Manusia Barak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca Aceh dalam novel ini, adalah membaca berjilid-jilid buku tebal penderitaan rakyatnya  yang tak kunjung sudah. Negeri (yang konon) Darussalam ini, selama kurang lebih 30 tahun terjebak dalam konflik dan kekerasan. Pemberlakuan DOM dengan dalih ”menjaga keamanan” dari pihak yang menuntut ”pemerintahan sendiri” (GAM), tak kurang membelit ranah kehidupan rakyat Aceh senantiasa dalam ketegangan. Bahkan, membawa kenestapaan komunal yang panjang bagi mereka yang merasakan sejarah Aceh yang getir oleh perang dan perang. Menyisakan luka tak tersembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum usai kepayahan menanggungkan derita, mahaduka Tsunami 8,9 SR seolah mendaulat derita menjadi kian sempurna. Tercatat korban tewas mencapai 126.602 jiwa dan 93 ribu jiwa hilang tak berimba. Belum tak terhitung raibnya tempat tinggal serta harta benda. Hingga November 2007, korban selamat dan menjadi pengungsi yang tinggal di barak, berjumlah 4.149 keluarga atau lebih dari 200 ribu jiwa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 5 januari 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah tentang Negeri Serambi, Negeri Sulamtaque. Negeri yang hanya memperdengarkan lagu kepedihan dari sejarah Aceh yang kian erat mengikat ruang kepala. Sebuah lagu duka yang direkam dan diputar oleh seorang tokoh, penghuni barak, bernama Sidan. Sebelum tragedi Tsunami menggulung tanah leluhurnya, ibunya tinggal sendirian tak bersanak di pesisir pantai Aceh. Sang ayah, layaknya lelaki di kampung Sidan, telah hilang ”diciduk” orang-orang berambut cepak dan tak diketahui lagi keberadaannya. Sidan mencoba bertahan merangkai masa depan dengan meneruskan kuliah di Kampus Putih, Yogyakarta. Namun, Aceh yang membara telah membakar seluruh isi dada dan kepalanya. Sosok Sidan yang menjadi Aktivis, seperti menyimpan bahan bakar yang menyulut darah mudanya demi menyaksikan derita tanah leluhurnya yang tak kunjung reda. Dan ketika bumi mengguncang Aceh di 26 Desember 2004, tak pelak memuntahkan badai tsunami pula di kepalanya. Ibunya yang sendirian, hilang tersaput air maha bah dan lenyap ke laut. Masa depan bersama kekasih pun semakin kusut. Sidan memutuskan pulang! Meski terseok-seok di antara kehidupan barak (yang mau berak pun harus antri!), tinggal tanpa handai taulan, jauh dari kekasih, Sidan mencoba tetap berjuang agar tetap hidup. Hanya semangat dan pejumpaan melalui SMS dengan sang kekasih yang menguatkannya setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang mengisi ruang antara bencana tsunami dan perjanjian Helsinki ini, melukiskan betapa di antara keduanya ada sebuah zona selain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;warzone&lt;/span&gt; yang menghias wajah Negeri Serambi, yakni sebuah ”zona yang nir”, seperti ruang tanpa waktu atau waktu tanpa ruang, seperti negeri tak berdaratan; negeri Atas Angin tak berbatas awan. Seperti tubuh tanpa kepala. Setelah rumah tak berkampung, nirkota. Wilayah tak berpeta usai bencana yang membawa mahaduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya yang aktif menyalakkan feminisme, Abidah sang novelis lebih subversif dalam NIRZONA. Akan tetapi, Abidah juga masih kuat menyelipkan nafas-nafas setali tiga uang dengan feminisme, yakni ”pemberontakan”. Kritikan terhadap bias gender hingga tentang nasib perempuan Aceh yang selalu menjadi korban, bahkan ketika Perda Syariat diberlakukan. Perempuan-perempuan malang yang tak ada tempat kembali pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membaca Aceh dalam novel ini, melimpah ruah keusilan dan kepedulian sang dua tokoh utama, sepasang kekasih Sidan-Firda terhadap sejarah sebuah negeri yang hampir kolaps. Tidak hanya Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh (BRR, yang akan habis masa kerjanya April 2009) pasca-Tsunami yang menjadi ’sasaran tembak’ kritikan pedas oleh sang tokoh novel, tetapi juga LSM baik lokal maupun internasional yang mencoba membantu membangun kembali Aceh. Keberadaan mereka seperti melengkapi meriuhnya ”bisnis bencana” yang semakin memiriskan hati. Sebuah ironi yang tak rahasia lagi. Konsentrasi pembangunan kembali yang melulu fisik, seolah melupakan hal paling mendasar dari peradaban manusia, tak terkecuali rakyat Aceh yang tidak saja membutuhkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trauma healing&lt;/span&gt; secara berkelanjutan, namun juga bekal SDM yang harus dipersiapkan sedini mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dibentangkan jarak Aceh-Jogja tak menyurutkan kekritisan sekaligus kemesraan tokoh novel. Ruang bertemu dan berdialog sepasang kekasih ini hanya melalui dunia maya, ditingkahi kekurangsempurnaan dari kemajuan teknologi; sinyal bengkok alias tak ada sinyal dan kehabisan pulsa di saat kerinduan begitu menghantam. Meski hanya melaui SMS puitis yang riuh bersahutan, kritikan pedas terus terlontar terhadap berbagai kalangan, terutama entitas yang selama ini kuat ’mencengkeram’ dan menjadi momok paling mengerikan di negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-8426472217651417627?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/8426472217651417627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=8426472217651417627' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8426472217651417627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8426472217651417627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/06/baca-baca.html' title='Baca-Baca'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SENVrrlOdCI/AAAAAAAAAIk/RjnWsbYlh1s/s72-c/Cover+Novel+Nirzona.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-879186518363452594</id><published>2008-05-21T02:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-21T02:14:09.185-07:00</updated><title type='text'>Baca Buku, Yuk?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koto Gadang Masa Kolonial;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerita dari Sebuah Nagari yang Unik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koto Gadang adalah nama sebuah wilayah perkampungan kecil. Di Sumatera Barat lazim disebut ”nagari”. Nagari Koto Gadang. Terletak di Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam Sumatera Barat. Di seberang Ngarai Sianok, di kaki bukit gunung Singgalang yang bersandingan dengan gunung Merapi. Terbayang betapa sejuknya aroma khas pegunungan dan lembah kehijauan yang menyelimuti wilayah ini. Siapa sangka wilayah sekecil ini, pada masa lalu, menyimpan kecantikan yang memesona. Dari nagari kecil yang taat mempertahankan adat ini, lahirlah tokoh sekaliber Haji Agus Salim (mantan Menteri Luar Negeri masa Soekarno), Sutan Syahrir (mantan Perdana Menteri), Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabaui (Imam Besar Masjidil Haram di Makah), Abdul Muis (anggota Voolksraad, juga terkenal sebagai sastrawan-penulis), Rohanna Kudus (wartawan perempuan pertama di Indonesia sekaligus pejuang kesetaraan gender di Sumatera), Dr. Syaaf (ahli penyakit mata, orang Sumatera pertama yang meraih gelar Doktor di Belanda), Prof. Dr. Emil Salim (mantan menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup masa Orde Baru). Dan masih banyak tokoh lain yang akan terlalu banyak untuk ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koto Gadang Masa Kolonial&lt;/span&gt; ini secara umum mengetengahkan kisah sejarah emas dari nagari kecil ini saat masa kolonial/penjajahan Belanda berlangsung. Rentang waktu yang ditulis di buku ini adalah tahun 1800 M – 1942 M. Koto gadang menjadi daerah pertama yang menyatakan ”membuka diri” terhadap pengaruh luar; dalam hal ini adalah pengaruh penjajah Belanda. Tidak ada penjelasan mengapa mereka begitu ”membuka diri” terhadap Belanda di mana, pada saat yang bersamaan, hampir seluruh rakyat di berbagai wilayah berjibaku menghalau Belanda dengan revolusi fisik, mengangkat senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, satu alasan pasti yang dapat dikemukakan adalah perjuangan melawan koloni bisa dilakukan dengan cara mengetahui tata cara mereka dalam mengarungi kehidupannya. Pada saat itu ’peradaban’ yang dimiliki koloni jauh di atas rakyat Indonesia. Sehingga penduduk Koto Gadang berpikiran bahwa dengan ”mendekatkan diri” lepada Belanda maka mereka akan mendapatkan keuntungan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, Nagari Koto Gadang menjadi nagari unik karena satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia yang memiliki sekolah desa berbahasa Belanda pada masa kolonialisme. Sebagian besar penduduk Koto Gadang pandai berbahasa Belanda dan melek pendidikan. Tidak heran jika kemudian banyak penduduk dari nagari ini yang berkiprah di area publik dengan kesohor sebagai intelektual. Pada tahun 1920-an, dari 500 jiwa penduduknya, nyaris seperempatnya adalah tamatan perguruan tinggi, belum termasuk yang sarjana muda atau setingkat diploma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koto Gadang Masa Kolonial&lt;/span&gt;, kita akan dipertemukan dengan hal yang romantik sekaligus ”radikal” untuk ukuran waktu itu. Sebagai sesuatu hal yang niscaya dari meleknya terhadap peradaban dus adanya pendidikan, perempuan Koto Gadang pun tidak luput dari entitas yang menyejarah. Tersebutlah Daina, gadis yang berkarir di luar Koto Gadang dengan menjadi asisten pos di Kota Medan. Dia bertemu rekan kerjanya, Pomo, seorang Jawa. Keduanya jatuh cinta dan memutuskan menikah. Akan tetapi, adat Koto Gadang pada waktu itu tidak membolehkan orang Koto Gadang menikah dengan orang luar. Termasuk perempuan (padahal kaum laki-laki Koto Gadang banyak yang menikah dengan perempaun luar secara diam-diam). Daina telah bulat membuat keputusan penting dalam hidupnya. Pernikahan Daina yang dilangsungkan di Medan sampai juga beritanya di Koto Gadang. Konon, menggegerkan dan menggerahkan tetua adat hingga dihimpunlah warga dalam sebuah rapat. Akhirnya kerapatan nagari memutuskan Daina harus dijatuhi hukuman adat berupa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buang Tingkarang&lt;/span&gt;, yakni dibuang selamanya dari warga adat Koto Gadang. Tidak diakui lagi menjadi bagian dari mereka. Bahkan, berkomunikasi dengan keluarga pun tidak diperbolehkan (bahkan, jika ini dilanggar, keluarga dimaksud pun akan dijatuhi hukuman yang sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Daina tak bergeming. Justru suara-suara di luar Koto Gadang ramai sekali. Tak luput dari orang Koto Gadang sendiri yang ada di Jawa (ayahnya Haji Agus Salim) mengungkap kasus tersebut di media massa yang pada muaranya sama, yakni memprotes tindakan adat terhadap Daina. Hingga tersebutlah perempuan-perempuan Koto Gadang yang terhimpun dalam organisasi perempuan Amai Setia yang nota bene pada waktu itu tergolong organisasi pergerakan perempuan modern, melakukan resistensi dengan membuat petisi; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Petisi Hadisah&lt;/span&gt; yang ditandatangani tujuh perempuan menuntut adat mencabut larangan perempuan menikah dengan lelaki luar Koto Gadang. Alhasil, meski secara gradual adat mulai berubah. Dengan persyaratan-persyaratan tertentu (orang luar itu harus ber-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ninik mamak&lt;/span&gt; pada orang Koto Gadang terlebih dulu), orang Koto Gadang boleh menikah dengan orang non-Koto Gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Membincang buku ini, pada bagian lain, tampak model perlawanan terhadap kolonialisme, yakni tidak dengan konfrontasi fisik, tetapi melalui lembaga resmi; Volksraad (semacam DPR) di mana Yahya Datuk Kayo sang tetua Koto Gadang menjadi anggota aktif di dalamnya. Ingin tahu apa kiprah Yahya Datuk Kayo dalam hal ini? Baca sendiri buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koto Gadang; Masa Kolonial&lt;/span&gt;, terbitan LKiS Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hehe..ini promosi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-879186518363452594?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/879186518363452594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=879186518363452594' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/879186518363452594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/879186518363452594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/05/baca-buku-yuk.html' title='Baca Buku, Yuk?'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-8023631520240205960</id><published>2008-05-20T03:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T03:55:59.029-07:00</updated><title type='text'>Gumaman dari Sastra Balik Desa; Semarang 16-18 Mei 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtud5RIiI/AAAAAAAAAH8/glK5vLPnGuA/s1600-h/P1090374.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtud5RIiI/AAAAAAAAAH8/glK5vLPnGuA/s400/P1090374.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202411533376758306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat elektronik masuk ke alamat e-mailku. Adin, dari komunitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hysteria&lt;/span&gt; Undip Semarang mengabari bahwa puisiku yang pernah dimuat di majalah sastra Hysteria beberapa waktu lalu, akan masuk dalam buku antologi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mencari Rumah; Antologi Puisi Hysteria 2004-2007&lt;/span&gt;. Karenanya, aku diundang untuk membacakan puisiku di acara mereka bertajuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sastra Balik Desa dan Temu Penyair Tujuh Kota&lt;/span&gt; 16-18 Mei 2008 di dusun Gebyok Patemon Gunung Pati Semarang. Aku berangkat bersama Chyto mewakili komunitas kami, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lumbung Aksara&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtYzPJ6-I/AAAAAAAAAH0/Iizg9eFHy7Q/s1600-h/P1090372.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtYzPJ6-I/AAAAAAAAAH0/Iizg9eFHy7Q/s400/P1090372.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202411161148582882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perjalanan ke Semarang (Hari Pertama)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat siang jam 11 kami berdua berangkat dari Jogja dengan bus Ramayana. Benar kata orang, perjalanan menuju tempat yang belum pernah dikunjungi terasa lama. Bus nge-tem beberapa kali di beberapa terminal (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aku tak mengingat bus singgah di terminal mana saja&lt;/span&gt;). Kami turun di Alun-Alun Ungaran. Hmm, Chyto berseloroh bahwa tempat ini lebih cocok disebut lapangan volley daripada Alun-Alun, mengingat tempatnya yang kecil, kira-kira 50 x 50 M dan keseluruhan berlantai semen. Masakan Alun-Alun sama sekali tak ada rumputnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami lanjutkan dengan naik angkot jurusan Unnes. Sepanjang perjalanan mengingatkan aku pada jalanan ke waduk Sermo ataupun ke daerah pegunungan lain di Kulonprogo. Naik turun dengan kanan-kiri penuh kehijauan dan sejuk. Benar-benar menentramkan. Tiba-tiba ada sedikit penyesalan kenapa aku ke tempat ini tidak naik sepeda motor saja? Dan kami tiba di kampus Unnes sekitar jam empat sore. Kami mampir sebentar di warteg depan kampus Unnes. Chyto terlihat kelaparan daripada aku. Usai mengganjal perut sekadarnya, kami menunggu jemputan panitia di depan kopma kampus. Setelah cukup lama menunggu, hampir satu jam, akhirnya jemputan datang. Gema Yudha dan Bagong menjemput kami. Chyto dibonceng Bagong, aku mbonceng Gema. Sepanjang perjalanan menuju lokasi sekitar 5 KM, kami ngobrol. Betul-betul lokasi yang hebat; kami menuju dusun Gebyok Gunung Pati. Aku pernah membaca cerita tentang kampung ini di majalah GONG. Sebuah kampung yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open&lt;/span&gt; terhadap kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dilangsungkan di sana. Dan secara geografis sangat aku suka. Desa yang sejuk, rimbun, asri, bersih, tanah merah yang penuh kebun buah, serta penduduk yang ramah. Kampung ini, konon, pemasok buah durian terbesar di Semarang. Tapi saat itu belum musim buah apapun, kecuali aku melihat sendiri buah Maja (Mojo, legenda Mojopahit-Majapahit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Lokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami sampai di sekretariat pantitia. Kami musti regristasi. Ada tiga perempuan dan beberapa laki-laki panitia di tempat itu. Aku dan Chyto yang mengajak kenalan mereka duluan (?) setelah sebelumnya kami hanya dipersilakan untuk registrasi. Selanjutnya kami diberi tahu rumah penduduk yang akan menjadi tempat kami home selama di sana. Aku dan Chyto sempat berpandangan beberapa saat. Mbak-mbak panitia itu hanya memberi tahu tempat tapi tidak menunjukkan bahkan mengantarkan. Alih-alih mengantarkan ke tempat dimaksud, mereka keluar dari ruangan itu untuk setidaknya mengacungkan jari tangan tanda menunjukkan arah atau rute saja, tidak. Padahal saat itu hanya kami, peserta yang ada di situ (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;artinya menurut kami tidak begitu merepotkan jika mereka musti mengantar&lt;/span&gt;) sedang kami orang baru yang tidak tahu arah. Kami sempat bingung, maksudnya apa? Kami harus menuju rumah orang yang masih asing tanpa bekal denah atau peta, sendiri. Padahal nantinya kami akan menginap di situ. Bukan kami tidak berani atau keberatan jika musti mencari lokasi ’penginapan’ sendiri. Sama sekali tidak. Tapi kami hanya menilai, seharusnya sisi ’resepsionist’ atau ’servis’ yang seharusnya (bukan selayaknya) dilakukan sebagai panitia menjadi hal yang tak ditawar lagi; diperhatikan. Sudah seharusnya panitia mengatur hal ini. Mengantarkan peserta ke lokasi yang ditentukan dan memperkenalkan (istilah Jawanya; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kulonuwun&lt;/span&gt;) kepada sang tuan rumah bahwa ”ini peserta acara kami” dan sebagainya sebagaimana tradisi yang ada di pedesaan. Bukankah kalimat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung&lt;/span&gt; tidak pernah dipersoalkan? Yang pasti aku secara pribadi kecewa dengan sikap panitia yang demikian ini. Jadi terasa tidak ada jalinan emosional yang lekat antara panitia, peserta, dan penduduk selaku tuan rumah yang rumahnya kami tempati. Bukan hanya itu, saat registrasi pun, kami seolah hanya seperti tamu undangan yang menulis nama, alamat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;etc&lt;/span&gt; lalu tanda tangan dan selesai. Kami tak diberi jadual, atau konfirmasi hal-hal lain yang mengingatkan bahwa kami adalah peserta yang memiliki hak dan kewajiban demi suksesnya penyelenggaraan. Bahasa Jawanya, kami merasa ”di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;cul&lt;/span&gt;-ke”. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;eit, tapi semoga ini hanya sesuatu yang bakalan dianggap tidak penting, huwehehehe...&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saat itu ada anak kecil warga sana yang justru antusias dengan kedatangan kami dan bersedia mengantar menuju rumah penduduk dimaksud. Akhirnya kami sampai di tujuan setelah beberapa kali belokan jalan dengan berjalan kaki sekitar 1 KM. Kami memperkenalkan diri kepada tuan rumah (Mbak Sumana dan Mas Darsono beserta Putri, anak semata wayangnya). Mereka sangat ramah dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open&lt;/span&gt; dengan kami, begitu juga Melani dan Nining, dua peserta lain yang satu rumah dengan kami namun lebih dulu tiba. Aku dan Chyto ditempatkan dalam satu kamar yang nyaman dan lega. Kami peserta berempat langsung akrab. Melani dan Nining berasal dari komunitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kias&lt;/span&gt; IKIP PGRI Semarang. Selepas maghrib, oleh tuan rumah kami dihidangkan bakso. Duh, aku selalu sungkan dengan sikap tuan rumah yang baik seperti itu, di manapun dan siapapun. Semoga Yang Maha Kuasa membalasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usai isya’, kami berempat bareng menuju ke lokasi tempat dilangsungkannya acara yang sudah dibuka siang hari tadi. Di tengah-tengah jalan tanjakan, kami melihat sesuatu yang unik; warung kopi! Aku dan Chyto singgah sebentar, kebetulan ada mas Raudal TB dan kami bertiga berbincang sebentar. Mas Raudal datang lebih dulu bersama Mbak Ida dan Tsabit. Sesaat acara terdengar akan dimulai, kami beranjak. Kami bertemu Adin, sang penanggung jawab sekaligus ketua panitia. Berbincang sebentar sambil menuju lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKrbvsfzMI/AAAAAAAAAHU/E5diChQ0rh8/s1600-h/P1090403.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKrbvsfzMI/AAAAAAAAAHU/E5diChQ0rh8/s400/P1090403.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202409012714261698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di halaman depan nan lapang milik Bapak Karsono, acara itu digelar. Dikelilingi ornamen bambu pancang berjumlah tujuh (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;barangkali representasi dari Temu Penyair Tujuh Kota&lt;/span&gt;) dan beberapa dian kecil berminyak tanah. Acara pertama dibuka dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;performance art&lt;/span&gt; Mas Lawu Arta yang kolaborasi dengan anak-anak penduduk dusun Gebyok. Aku kurang paham dengan muatan pementasannya karena tak menyimak serius. Kira-kira mengangkat kerukunan dalam dolanan anak. Semua begitu sederhana. Tapi keriangan anak-anak tidak dapat disembunyikan. Warga dusun pun tak ketinggalan antusias menyaksikan pementasan yang berlangsung di halaman tanpa panggung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKseCVVsrI/AAAAAAAAAHk/C_JES3ut_kU/s1600-h/P1090198.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKseCVVsrI/AAAAAAAAAHk/C_JES3ut_kU/s400/P1090198.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202410151588770482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara dilanjutkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lounching&lt;/span&gt; buku puisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mencari Rumah&lt;/span&gt;. Pembedahnya mas Raudal dan yang lain aku lupa namanya. Tapi sepertinya dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt; dan dosen Undip. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh penyair tujuh kota. Aku berkesempatan membacakan puisiku. Aku sungguh tidak pede. Aku merasa puisiku jelek apalagi jika harus dibacakan di sana. Tapi sudahlah. Dan acara itu selesai pukul setengah sebelas malam (bagiku masih cukup sore untuk sebuah acara sastra dus pementasannya). Beberapa peserta meninggalkan lokasi. Aku dan Chyto masih bertahan di tempat. Tentu saja kami tak ingin melewatkan malam yang indah itu di situ. Bagi kami dan kawan-kawan komunitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lumbung Aksara&lt;/span&gt; yang lain, setiap mengikuti sebuah acara sastra, terkadang malah lebih ’mengena’ jika ada obrolan di luar acara formal. Jadilah malam itu kami berbincang dengan peserta dari Bandung dan Semarang.  Foto-foto, minum kopi dengan camilan kacang dan uwi (sebangsa talas) rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi-pagi kami sudah dikejar-kejar oleh tuan rumah (Mbak Sumana) untuk sarapan pagi yang sudah disiapkannya. Duh? Sungkan banget. Tapi memang mekanismenya seperti itu. Berdasar konfirmasi panitia, setiap peserta disediakan makan oleh induk semangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tengah bersiap ketika tiba-tiba aku dan Chyto teringat Zaki Zarung dan menelponnya. Dia tengah berada di Demak, mengisi sebuah acara di pondok pesantren semalam; diskusi membedah film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;teringat Zaki pernah cerita hal itu padaku, aku tersenyum kecil&lt;/span&gt;). Zaki masih akan melanjutkan perjalanannya ke Jepara sebelum kembali ke Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ngobrol dengan Zaki di telepon sekitar setengah jam sebelum akhirnya aku dan Chyto jalan-jalan menyusuri jalanan kampung, mampir warung sekadar jajan makanan ringan. Foto-foto. Kami bertemu Gema dan Bagus di sebuah ujung jalan yang ada semacam posko kecil yang bangunannya antik (kuno). Rupanya itu perpustakaan umum. Buku-buku tertata rapi dan di dindingnya terdapat gambar-gambar dan lukisan anak-anak. Ada juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gelaran&lt;/span&gt; deklit sekadarnya untuk tempat duduk. Kami berempat ngobrol sebentar sambil jalan menuju lokasi. Aku dan Chyto mampir sebentar di rumah panitia. Kami bertemu Joxum, Mas Ary, Meinar, dan Bre dari komunitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pawon&lt;/span&gt; Solo. Juga bertemu dengan Sunlie Thomas Alexander dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rumah Lebah&lt;/span&gt; Jogja. Kami bercanda dan foto-foto. Chyto bercanda dengan Sunlie. Cerpenis satu itu memang tak bisa diam. Ada saja yang dilakukannya. Membuat semua orang tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menit berikutnya kami berbarengan menuju lokasi rumah penduduk. Sambil jalan, kami menenteng gelas berisi kopi hangat. Dan Chyto menjepret, memotret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi diskusi waktu itu diisi oleh Mas Budi Hernowo (pengasuh rubrik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kantin Banget&lt;/span&gt; harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;), Pak Yudiyono KS dosen sastra Undip, Yopi Umbara dari Bandung, Mas Sukandar dari penerbit Interlude Jogja dan dimoderatori oleh mas Mulyo Hadi (pemeran guru SMP di film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gie&lt;/span&gt;). Tema kali itu tentang ”Infrastruktur Kesusastraan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesi kedua acara digelar di luar rumah, di halaman berumput Jepang. Asyik banget lesehan di sana. Angin pegunungan sejuk dan duduk-duduk di bawah rerimbunan pohon adalah surga. Tema yang diangkat tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Polarisasi Sastra; Aku melu Sopo, Bos&lt;/span&gt;?. Sayang sekali Sitok Srengenge dan Saut Situmorang yang sedianya mengisi sebagai pembicara tak bisa hadir. Akhirnya diganti oleh Wowok dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Komunitas Sastra Indonesia&lt;/span&gt; (KSI) dan Aulia Muhammad dari Suara Merdeka. Acara berlangsung cukup seru dan agak sedikit ’panas’ oleh adu argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKsD8HiaqI/AAAAAAAAAHc/A-Airf7nRJc/s1600-h/P1090341.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKsD8HiaqI/AAAAAAAAAHc/A-Airf7nRJc/s400/P1090341.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202409703243672226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam harinya acara kembali dilangsungkan di halaman depan rumah Pak Karsono seperti malam sebelumnya. Diisi oleh pementasan teater dari komunitas teater &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lingkar&lt;/span&gt; Jawa Tengah. Pementasan parodi atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sampakan&lt;/span&gt; terhalang gerimis. Aku dan Chyto cuek saja, tetap berada di depan arena sementara yang lain memilih berteduh. Kami hanya menggunakan tikar sebagai payung. Hujan yang gerimis itu hanya sebentar. Dan acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Malam itu yang kutahu nama hanya Gema, Faisal Kamandobat, Dian Hartati, Thendra, Lanang Wibisono dan juga Chyto. Usai itu kami hendak pulang, tapi akhirnya kami mampir sekretariat panitia. Lagi-lagi kami terlibat ”forum” kecil dalam lingkaran kecil. Aku, Chyto, Mas Ary, Bre, Meinar, Nining, Melani, empat orang yang aku lupa namanya dari Kudus, juga ada Sunlie, Dwicipta, Faisal, Thendra. Jam setengah dua dini hari kami pulang ke penginapan. Sampai di sana, kami berempat (aku, Chyto, Nining, dan Melani) menyempatkan makan. Kasihan Mbak Sumana yang sudah masak makanan banyak dan lezat (semur ikan kembung) jika kami tak menyantapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtAe0qAjI/AAAAAAAAAHs/YiVEefj4b7M/s1600-h/P1090223.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtAe0qAjI/AAAAAAAAAHs/YiVEefj4b7M/s400/P1090223.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202410743351870002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 2 masing-masing sudah berangkat tidur. Seseorang tiba-tiba menelponku. Kami bicara setengah jam. Kalau tidak penting karena sesuatu hal, sudah pasti aku tak akan mengangkat telpon itu. Aku tak enak hati sama Chyto yang berbaring di sampingku (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;seandainya hanya aku sendiri di kamar itu mungkin kami akan bicara hingga berjam-jam&lt;/span&gt;). Yup, tahu diri lah. Aku termasuk yang tidak suka asyik sendiri berbincang di telepon sementara ada entitas lain di sekitarku yang sudah pasti akan sangat terganggu dengan suaraku meski selirih apapun aku bersuara, bahkan jika berbisik sekalipun. Apalagi orang itu tengah beristirahat untuk tidur. Lain persoalan jika aku benar-benar tengah sendiri. Aku tidak ingin ”memanjakan diri” atau ”dimanjakan” dengan fasilitas teknologi bernama telepon genggam dengan segala ”aji mumpung murah dan gratis” untuk menggunakannya dengan obrolan berjam-jam yang tidak penting. Aku jadi teringat Ondo yang bahkan mematikan HP ketika berbincang denganku. Aku salut sama orang yang menghormati orang lain (meski sesungguhnya aku tidak keberatan karena aku mafhum).&lt;br /&gt;So, maafkan aku, wahai Jeng Chyto?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKq9iYTmYI/AAAAAAAAAHM/i9V62lKCr30/s1600-h/P1090370.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKq9iYTmYI/AAAAAAAAAHM/i9V62lKCr30/s400/P1090370.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202408493743839618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hari Ketiga (kembali ke Jogja)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi jam sembilan aku dan Chyto bangun tidur. Tuan rumah sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi. Mengantar Putri yang anak TK itu piknik. Melani dan Nining juga baru bangun. Kami ketawa cekikikan menyadari situasi itu (tamu yang tidak sopan, hehe). Kami berempat menengok ruang makan. Mbak Sumana lagi-lagi masak banyak. Kali ini semur telur, tahu, dan tempe. Semur ikan kembung semalam juga masih ada. Aku dan Chyto sarapan duluan dan menyeduh kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Ary, Joxum, dan Sunlie datang bertamu. Kami ngobrol lama sebelum akhirnya berangkat bareng menuju lokasi diskusi. Kali itu temanya seputar proses kreatif dan mencari kebaruan puisi Indonesia. Aku tidak begitu menyimak perbincangan di sana. Aku sibuk mengambil gambar sana-sini. Juga rundingan sama Chyto. Kami memutuskan untuk kembali ke Jogja hari itu, meskipun acara baru akan ditutup malam harinya. Tapi aku memang ingin pulang duluan dan tidak menunggu sampai acara selesai. Sunlie sempat menahanku untuk kembali ke Jogja bareng-bareng dia juga teman yang lain di keesokan hari. Aku bilang aku ada sedikit urusan di Jogja. Kami berpamitan dengan semuanya. Jadilah siang itu kami dengan diantar Habib dan Bagong dari komunitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kias&lt;/span&gt;, menuju pemberhentian bus. Chyto kuminta menelpon Mas Darsono untuk pamitan. Kami kembali ke Jogja.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah sempat bermalam di Jogja, Senin pagi kami balik ke Wates. Saat tengah menunggu angkutan umum, seseorang menghampiri dan menyapa. Sachree! Kami ngobrol sebentar di pinggir jalan itu. Kata Sachree, hari itu tengah diadakan lomba puisi oleh Dewan Kesenian Kota Jogja di gedung Perjuangan. Mahwi yang jadi jurinya. Duh, sebenarnya kami ingin menonton. Tapi kami cukup lelah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKor-RQbBI/AAAAAAAAAHE/9oqPU8zy_bE/s1600-h/P1090254.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKor-RQbBI/AAAAAAAAAHE/9oqPU8zy_bE/s400/P1090254.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202405992969563154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-8023631520240205960?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/8023631520240205960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=8023631520240205960' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8023631520240205960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8023631520240205960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/05/gumaman-dari-sastra-balik-desa-semarang.html' title='Gumaman dari Sastra Balik Desa; Semarang 16-18 Mei 2008'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/SDKtud5RIiI/AAAAAAAAAH8/glK5vLPnGuA/s72-c/P1090374.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6019906000906270298</id><published>2008-05-14T20:50:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T20:59:34.772-07:00</updated><title type='text'>Musik Indie di Telingaku</title><content type='html'>Musik indie? Aih, kedengarannya seksi. Masa aku duduk di bangku sekolah dulu, hal-hal yang berbau indie terasa sebagai sesuatu yang “wah” karena ia menghadirkan sesuatu yang berbeda. Kerap juga dimaknai sebagai bentuk resistensi terhadap yang sentra. Karenanya, indie oleh beberapa orang juga dijuluki sebagai “kiri”, sebuah ikon anak muda yang memiliki letupan-letupan panas yang membakar dan anti-kemapanan, anti-wacana tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, yang tak pernah baca majalah musik, hanya mengandalkan ingatan yang tak valid. Berita-berita perihal musik pun tak pernah menjadi santapan saya. Entah. Mungkin karena selama ini sudah ”keenakan” menjadi pendengar musik saja. Bahkan, berbincang serius dan mendalam soal musik jarang saya lakukan. Ah, tapi mengapa saya ingin menulis tentangnya? Semoga bukan pemaksaan, namun murni keinginan—yang biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke awal paragraf ini, saya hanya bisa mengingat kira-kira medio 1996-an, telinga saya mulai terusik oleh musik indie ketika saya mengenyam bangku SMA (wah, saya sudah tua ya). Saat itu sebuah stasiun radio swasta di Kota Jogja menggelar program ”Ajang Musikal” (ajang musik lokal). Ya, dahulu dinamai musik lokal dan belum nge-tren term musik ”indie”. Tak saya ingat dengan pasti, musik yang saya dengar waktu itu. Tentu saja, di samping saya tak punya rekamannya, jajaran musik yang masuk di situ cepat berganti. Tinggal satu dua yang bertahan oleh &lt;em&gt;request&lt;/em&gt; pendengar. Saya ingat band Jikustik. Saya telah mengenal lagu-lagunya jauh sebelum mereka masuk pentas nasional dengan memiliki major label. Bahkan, saya masih ingat betul ada sebuah lagu yang tidak pernah masuk menjadi album Jikustik. Liriknya berbunyi demikian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Biarkan anganku melayang bersamamu&lt;br /&gt;Wujudkan satu keinginan&lt;br /&gt;Tuk Slalu berdua&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa apa judul lagu itu, padahal dulu saya hapal. Yang jelas lagu itu dinyanyikan oleh vokal Icha. Tapi sejauh saya mengikuti semua album Jikustik yang telah diedarkan di pasaran, tak satu pun album yang memuat lagu itu. Sayang sekali, padahal saya sangat menyukai lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang hampir berbarengan, sebenarnya ada juga Sheila on Seven yang masukkan demo di radio itu. Saya tidak tahu. Hanya seingat saya, kurang mendapat respon. Tapi tahu-tahu SO7 meledak di pasar rekaman dan saya hanya mendengar kabar bahwa mereka dilahirkan dari Ajang Musikal itu. SO7 menjadi band pertama asal Jogja yang masuk pentas nasional. Waktu itu ada sahabat saya yang pernah bertanya, mengingat saya termasuk orang Jogja sendiri, apakah saya menyukai SO7. Saya jawab; tidak. Biasa saja. Saya lebih suka Jikustik atau band lain asal Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, saya juga masih ingat ada sebuah grup musik yang masih saya sukai hingga sekarang. G-Tribe. Sebuah kelompok musik rap yang liriknya khas; berbahasa Jawa model Yogyakarta (menggunakan bahasa prokem khas anak muda Jogja). Lagu-lagu mereka pun khas bercerita tentang peristiwa-peristiwa lokal Jogja dus terjadi di lingkup rakyat kalangan bawah yang anak muda. Yang cukup lekat di telinga saya; &lt;em&gt;Watchout Dab, Jogo Parkiran &lt;/em&gt;(cerita tentang usaha menjaga parkiran di ajang Sekatenan), &lt;em&gt;Lek-Lekan, Jalangkung, Plorotan Jambe &lt;/em&gt;(panjat pinang). Ketika itu, G-tribe dan Jikustik-lah yang mendominasi kegemaran saya. Tapi beberapa tahun terakhir ini, saya sudah mulai kehilangan selera kepada Jikustik. Apalagi album terakhir yang sangat ”elektrik”, sungguh tak renyah di hati saya. G-Tribe, &lt;em&gt;Kaifa Haaluk? Hal antum bi khoir&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas SMA, awal-awal meneruskan belajar di Jogja, saya masih sempat mengikuti acara itu. Dan saya mulai mengenal lebih banyak. Teknoshit, band satu ini menurut saya, masuk kategori band idealis. Lahir saat masa-masa reformasi. Mengusung musik cadas atau kadang disebut musik underground. Lirik lagu-lagunya bertema kritik sosial. Oleh karena bit-nya yang kencang, barangkali agak susah didengar, pesan apa yang ingin disampaikannya. Hei, lepas dari itu saya sangat suka karena mereka memiliki karakter bermusik yang kuat. Hanya satu kali saya pernah menyaksikan aksi panggungnya di kampus saya saat pesta malam tahun baru. Ternyata aksi panggungnya atraktif sekali dengan penampilam mereka yang ”setengah punk”, tidak kalah dengan Armand Maulana jika berjingkrak-berteriak. Hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katja, band satu ini saya tahu vokalisnya satu kelas dengan kawan seperguruan saya. Kalau tidak salah nama vokalisnya Nurcholis, anak Bahasa Indonesia UGM. Dengar-dengar sih, band ini masih aktif sampai sekarang, tapi entah sudah bermajor label atau belum. Single hits-nya, Padamu Dinda, pernah menjadi favorit sahabat-sahabat seasrama. Durasi lagu itu 6 menit tujuh detik. Cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Chu Wa Wa Wa, band satu ini khas mengusung musik reggae. Mungkin Imanez-nya Jogja. Saya juga pernah sekali menyaksikan aksi panggungnya di kampus. Hingga sekarang saya masih menyukai mereka dan memiliki koleksi lagu-lagunya. Tapi lagi-lagi, sepertinya mereka hanya berjaya di seputar Jogja saja, artinya tak pernah saya dengar mereka masuk pentas nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shopie, band yang ini eksis di jalur musik pop. Hendra, sang vokalis, suaranya sekseh habis. Suatu ketika, saat saya dan kawan-kawan Jawa Timur ngopi bareng di Blandongan, saya dikenalkan dengannya sama Cak Badrun, pemilik Blandongan (Hei, Cak. Warung kopimu kusebut di blog-ku nih...bayar iklan ya...atau besok kalau aku ke Blandongan gratis ngopi ya. Hehehe...). Sayang sekali, waktu itu Hendra tidak hendak nyanyi karena ia justru jadi panitia pentas musik di Blandongan. Waktu itu sedang hits lagu mereka &lt;em&gt;Kenangan Menyakitkan&lt;/em&gt;. Lagu Shopie yang juga tenar dan menjadi ikon ”perjuangan meraih pasangan” khas anak muda waktu itu adalah &lt;em&gt;Pejuang Asmara&lt;/em&gt;, sebuah lagu dengan lirik meletup-letup mirip ”orasi demonstrasi”. Simak saja;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apapun yang akan terjadi&lt;br /&gt;Aku tak’kan pernah menyerah&lt;br /&gt;Meski harus berlumur darah&lt;br /&gt;Meski berlinang air mata&lt;br /&gt;Ku yakin&lt;br /&gt;Meraihmu hingga ujung langit&lt;br /&gt;Menggapaimu sampai dasar bumi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu yang beriringan dengan Shopie, ada Shofa, Mondays, dan Newdays. Shofa hanya saya dengar satu saja koleksi lagunya; Raih Rasa, entah bagaimana keberadaan mereka sekarang. Newdays kesohor dengan lagu-lagunya; Dimabuk Asmara dan Manusia tanpa Cinta. Saya pernah menyaksikan sekali pentas mereka di indoor aula kampus. Saat BEM KUI fakultas Syari’ah menggelar ulang tahun jurusan. Saat itu juga menandai ’bangkit’-nya tren budaya menggelar musik dengan mengundang band luar oleh anak IAIN. Sayang sekali, saya tak memiliki koleksi lagu Newdays ini di komputer saya. Tetapi koleksi Mondays yang dulu nama band ini adalah I Hate Mondays, saya punya; &lt;em&gt;Lebah, Sisi Baik, Maafkan Aku, Tiada yang Hilang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogiest dan Kintamani. Dua band ini termasuk band terakhir yang saya masih sempat ikuti waktu itu. Sayang sekali Jogiest yang ber-hits banyak kurang laku di pasaran padahal kudengar mereka sudah ber-major label.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar musik dan lagu band-band indie seperti tersebut di atas, memang satu sisi selalu mengantarkan saya pada kenangan, ketika saya masih harus berjuang menyelesaikan studi. Aura Kota Jogja dengan segenap keeksotisannya, kenangan bersama teman, kawan, sahabat, seseorang terdekat, dan juga banyak orang yang waktu itu baru kenal, begitu lekat dan kekal di ingatan melatari nada-nada dari band indie itu (wah-wah..saya sok romantis nih). Sisi lain, ada perasaan bangga oleh geliat anak band seperti mereka yang masih memiliki idealisme dalam bermusik yang ”Jogja banget” dan terus-menerus melakukan resistensi terhadap ”Jakarta-sentris”. Ada perasaan kagum juga kalau melihat penonton musik di Jogja. Kebanyakan dari mereka juga ”idealis” dalam menyaksikan pentas musik. Baru-baru ini saya mendengar kabar bahwa rata-rata penonton musik yang nota bene anak-anak muda di Jogja atau yang sudah ”nJog-Ja” memiliki sikap ’fanatis’ terhadap grup musik kesayangan mereka. Grup-grup musik yang kerap tampil di layar kaca, meski tenar di daerah-daerah lain, sering diputar di radio-radio, menghiasi media cetak, tetapi tidak termasuk band ”papan atas” (walah maksude opo iki?) konon tidak disukai oleh penonton Jogja. Penonton Jogja akan antusias kalau yang manggung adalah—meski tidak tenar di pentas nasional—grup musik dari Jogja kebanggaan mereka; Shaggydog dan Sri Rejeki, misalnya. Dua grup musik ini seakan-akan mewakili secara keseluruhan ikon anak muda Jogja. Di mana pun mereka pentas, entah gratis entah ber-HTM, bisa dipastikan penonton akan membludak. Dan ketika grup musik ini berbareng dengan grup lain dalam satu pementasan, misalnya Ungu, Peter Pan, Radja, Kangen, The Titans, bisa dipastikan penonton Jogja ”mengesampingkan” grup-grup musik yang saya sebut berurutan ini. Saya tidak tahu pasti adakah faktor kedaerahan berperan di sini. Tapi saya sering berkeyakinan; o, tidak. Penonton Jogja memang unik dan idealis. Seperti di awal-awal tadi saya tulis, mungkin bagi mereka ”indie” adalah lambang kebebasan (dan pembebasan?) dari segala yang ”Jakarta-Sentris”. Musik indie Jogja, seolah-olah kian menahbiskan penonton dus anak muda Jogja sebagai generasi ”bukan anak nongkrong MTV”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang dengan itu adalah akan halnya Dagadu Jogja dan banyak produk t-shirt lain di Jogja yang masih dianggap sebagai ikon resistensi lokal terhadap yang global. Tak heran jika di Jogja, berbarengan dengan munculnya grup dan musik indie, tumbuhlah gerai-gerai indie yang tren disebut DISTRO (distibution outlet) awal-awal tahun 2000-an, yang hanya menjual barang-barang berbau ”indie”, mulai dari film, kaset, rekaman, kaos, souvenir, pernak-pernik hingga buku dan majalah sastra, sosial, politik yang pastinya tidak akan Anda dapatkan di toko-toko mana pun. Lagi-lagi saya mencatatnya sebagai sebuah idealisme anti-kemapanan yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisan ini, saya menyimpan pertanyaan yang gamang, akankah masih, kekaguman saya itu ada, ketika Jogja nyatanya sekarang menjadi tertekuk oleh gempuran ’globalisme’ yang bertubi-tubi? Gaya hidup hedonis yang menelusup hingga ke kantong-kantong dunia ”eksotis”, seperti dunia mahasiswa dan anak muda Jogja dengan segenap romantikanya? Weh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berbicara yang Indie, Berbicara yang Seksi-Seksi&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6019906000906270298?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6019906000906270298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6019906000906270298' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6019906000906270298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6019906000906270298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/05/musik-indie-di-telingaku.html' title='Musik Indie di Telingaku'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-4248476792244581287</id><published>2008-05-12T18:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T18:14:38.357-07:00</updated><title type='text'>Suluh Untuk Nenek</title><content type='html'>Suluh itu kulihat menyala di tengah dusun&lt;br /&gt;Menerangi sepotong puisi yang telah larut di kali&lt;br /&gt;Menemani daun sirih, batu gamping dan injet yang kau kunyah&lt;br /&gt;Tak lupa tembakau paling gurih, oleholehku setahun silam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna merah yang keluar dari mulut yang kau sumpal dengan kinang itu&lt;br /&gt;Seperti puisi yang pernah kubaca&lt;br /&gt;Saat engkau sering mengajakku ke pematang sawah&lt;br /&gt;Mencari baitbait yang karam oleh kerentaan&lt;br /&gt;Tetapi aku telah mencatatnya diamdiam&lt;br /&gt;Dan kujadikan bekal mengadu peruntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku datang membawakanmu suluh&lt;br /&gt;Mungkin dapat menerangi ruang yang kusangka gelap itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merangkainya dalam lantunan sholawat dan tahlil seribu puisi&lt;br /&gt;Bagi mengenang tubuhmu yang tenang terbujur kaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini&lt;br /&gt;Di dalam tenda ini&lt;br /&gt;Kukumandangkan semuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Banguntapan-Bantul, 29 Mei 2006, 12:00&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-4248476792244581287?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/4248476792244581287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=4248476792244581287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4248476792244581287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4248476792244581287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/05/suluh-untuk-nenek.html' title='Suluh Untuk Nenek'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-1796522232568220954</id><published>2008-05-06T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-05-06T03:31:46.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sketsa pantai di hatiku'/><title type='text'>Pesisir Selatan, Suatu Hari Minggu</title><content type='html'>Suatu ketika. Jam menunjuk angka 5 pagi tepat. Aku sampai di pantai Bugel. Sekira 3-4 KM dari perempatan Nagung ke arah selatan. Hari itu hari Minggu. Perjalanan dengan kendara roda dua dari rumahku hanya ditempuh dengan waktu 10 menit-an. Dan pagi itu aku (tepatnya, kami) berlima. Aku, ibuku, Mbakyuku, dan dua keponakan perempuanku. Terus terang, selama hidupku yang sejatinya tidak begitu jauh dari Laut Selatan, baru sekali itu aku mengunjungi pantai Bugel yang masuk kawasan kecamatan Panjatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keberadaanku di sana pada saat itu pun sesungguhnya tanpa niatan sama sekali. Berbeda dengan ibuku yang sudah menjadikan ajang ke pantai Bugel setiap Minggu seusai sembahyang Subuh sebagai kegiatan rutin. Terapi kesehatan. Dengan diantar selalu oleh Mbakyuku, mereka berdua rutin setiap Minggu ke kawasan pantai Bugel. Jadilah aku di rumah berkutat di pekerjaan rumah yang ”khas” perempuan. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aroma segar luar biasa langsung mengisi rongga dadaku. Seketika begitu kami memasuki kawasan itu. Aku lumayan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;gumunan&lt;/span&gt; ketika kulihat ternyata banyak orang yang menuju tujuan sama. Bahkan, sisi utara pantai yang dijadikan sebagai tempat parkir terlihat penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rata-rata pengunjung yang kulihat adalah sepasang keluarga muda bersama anak-anak mereka yang masih balita. Konon, udara laut pagi hari baik bagi kesehatan balita. Konon, menyembuhkan penyakit asma yang banyak menyerang anak-anak usia balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada pemandangan yang berbeda dengan sisi pantai kawasan lain di Kulonprogo yang kudapati di pantai Bugel ini. Berjajar puluhan perahu nelayan pencari ikan.Dan pagi itulah kali pertama aku menyaksikan bagaimana nelayan Kulonprogo berangkat mengarungi laut. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sambatan&lt;/span&gt; menarik perahu menuju air. Menanti datangnya ombak yang datang, masuk ke laut bersama ombak yang datang kemudian. Cukup berbahaya sebenarnya dengan cara tradisional semacam itu. Meskipun mereka mengenakan pelampung, ombak yang tinggi bisa saja melibas semuanya. Ku berdoa semoga tidak terjadi. Dan pemandangan seperti itu menjadi santapan mataku yang mengasyikkan. Sejurus kemudian, aku pun tak luput dari bermain air. Ibuku yang sebelumnya tak pernah sekali pun bersamaku ke laut berkali-kali cemas mengingatkanku untuk tidak dekat-dekat ke air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mencari Undur-Undur laut. Tapi sumpah mati tak bisa kutemukan di sana. Tidak seperti ketika aku di pantai Glagah yang dengan mudahnya mendapati dan menangkapnya. Kata Bapakku, Undur-Undur laut pun memiliki musim. Dan ketika aku di pantai Bugel itu bukan musimnya. Entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oya, ada satu hal yang mengusik benakku ketika di sana. Sedikit ngobrol dengan Mbakyuku, terbersit tanya; mengapa seolah pengelolaan lahan pantai kawasan ini tak seperti lokasi wisata di tempat lain? Glagah atau Trisik misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, melihat antusiasme masyarakat yang mengunjungi pantai Bugel hari Minggu dan bisa dipastikan akan berketerusan seperti itu sangat disayangkan jika tidak terjadi pengembangan-pengembangan yang menunjang ”asyiknya” pelancongan. Yah, mungkin dengan diadakannya pasar tiban? Sarana olah raga? Tenda-tenda makan pagi dengan menu khas jajanan Kulonprogo? Atau juga warung kopi? (Wah, yang terakhir ini pasti akan kukunjungi jika memang ada. Hehehe...) Atau bisa juga dengan pertunjukan musik atau kebudayaan. Eit, tapi paling asyik musik kali ya.. aku membayangkan di sisi pantai pasir indah Bugel itu akan ada panggung besar yang memertunjukkan musik. Ingin rasanya menyaksikan Arul Efansyah dengan Power Metalnya mendebur pantai dengan musik rock-nya juga menyaksikan Armand Maulana berjingkrak heboh di panggung itu, atau Andi Riff/ atau mungkin juga unplugged The Corrs yang manggung dengan santai. Wah..wah..wah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak pernah puas menikmati laut. Rasanya enggan sekali beranjak kalau saja tidak diingatkan bahwa hidup butuh untuk dilangsungi tidak dengan berada di tempat yang sama. Ingin kurangkai puisi sebenarnya. Namun, menghirup udara dari laut yang besar seperti itu membuatku hanyut sendiri. Dan kata-kata menjadi sukar kutemukan. Barangkali saja aku tidak mau terlalu sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kulambaikan tangan pada laut ketika waktu menunjuk angka setengah tujuh. Kelak aku akan kembali. Mungkin sendiri. Mungkin bersama sahabat. Mungkin bersama kawan. Mungkin bersama kekasih. Mungkin juga bersama suami dan anak-anakku kelak. Cihuy? ngayal, Dab!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-1796522232568220954?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/1796522232568220954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=1796522232568220954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1796522232568220954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1796522232568220954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/05/pesisir-selatan-suatu-hari-minggu.html' title='Pesisir Selatan, Suatu Hari Minggu'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-3227858160623505817</id><published>2008-04-29T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-04-29T03:34:46.127-07:00</updated><title type='text'>Fenomena Perempuan dalam Film Ayat-Ayat Cinta</title><content type='html'>Bagi Anda yang pernah menonton film besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel Habiburrahman el-Shirazy dengan judul sama ini, pasti beragam komentar yang menyisa di benak. Semua orang seakan berdecak kagum oleh film yang konon ditonton lebih dari 3 juta orang ini. Tak kurang presiden SBY dan punggawa-punggawanya ramai-ramai nonton bareng. Bahkan, ketua MPR Hidayat Nur Wahid dalam sebuah kesempatan diwawancarai wartawan seputar apa pendapatnya mengenai heboh kasus film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fitna&lt;/span&gt; besutan seorang anggota parlemen Belanda beberapa waktu lalu mengatakan bahwa “…lebih baik nonton film AAC aja…”, dan gosipnya “proses ta’aruf” pak Hidayat dengan calon istri barunya (udah nikah belum ya) seperti dalam film AAC, ck..ck..ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capaian sukses film yang konon melampaui film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada Apa dengan Cinta&lt;/span&gt; ini praktis menjadi buah bibir di mana-mana (terutama penikmat film cinta). Nyaris semuanya (sebagaian besar) memuji-muji setinggi langit. Bahkan, dalam perdebatan di milis-milis internet tak jarang terlihat betapa haru-biru tanggapan masyarakat yang menyanjung meski tak sedikit pula yang sinis, mencibir bahkan mencaci maki. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa golongan yang kedualah yang justru sangat sedikit. Saya berpendapat bahwa jika golongan kedua dimaksud ini lebih banyak dan lebih seru, pasti film AAC akan lebih sangat laris, bahkan mungkin kesohor sampai mancanegara oleh sebab kontroversialnya. Syukur-syukur masuk Grammy Award. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallah…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rupanya penonton film di negeri ini masih banyak yang (bisa di) hanyut (kan) dan dibuai oleh film bertema cinta. Setali tiga uang dengan ucapan seorang kawan bahwa orang-orang Indonesia dus penikmat film cinta masuk kategori &lt;span style="font-style:italic;"&gt;orang-orang yang kekurangan cinta dan kasih sayang&lt;/span&gt;. Masih banyak penonton kita yang tergila-gila dengan tontonan yang mengumbar impian dan romantisme semu bertema cinta seperti dimaksud..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa saat lalu, seorang kawan menelpon dan meminta untuk menuliskan apa tanggapan saya setelah menonton film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/span&gt;. Saya bilang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malas&lt;/span&gt; (padahal saya memang tidak bisa karena saya bukan apresiator film yang baik dan tidak memahami teknika film). Seorang kawan tadi terus mendesak saya dengan alasan karena saya perempuan, sedang dia ingin saya menanggapi terkait fenomena perempuan dalam film itu dengan kaca mata perempuan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tidak paham musti menanggapi di ranah mana dan apa. Tetapi barangkali kawan saya itu tertarik dengan fenomena poligami (yang dilakukan oleh seorang anak muda, mahasiswa) dalam film itu dan pasti dia menyangka bahwa saya akan muak. Juga mungkin soal peran para perempuan-perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai seorang perempuan yang pernah menyaksikan film itu tanpa dilatarbelakangi oleh pembacaan terhadap novelnya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;terus terang saja saya tidak selera dengan tulisan-2 sang novelisnya karena sebelum novel AAC itu pun saya sudah membaca karangannya yang lain dan saya telah mengenal gaya tulisannya&lt;/span&gt;) saya hanya bisa berasumsi seperti paragraf di depan.&lt;br /&gt; Film itu—terlepas dari penghargaan saya terhadap karya orang lain, dalam bentuk apapun itu—secara tema dan isi bagi saya tak lebih dari sebuah “pembodohan”. Kalau boleh mengutip ucapannya Marianna Amiruddin (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jurnal Perempuan&lt;/span&gt;) dalam acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kongkow Bareng Gus Dur&lt;/span&gt; beberapa saat lalu, isi dari film itu telah kehilangan karakter dan tidak memiliki akar budaya nasional yang jelas (dalam arti luas). Termasuk peran para perempuan-perempuannya. Secara sempit saja misalnya, dengan penggunaan bahasa yang seolah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” tetapi campur aduk tidak karuan, padahal konon perempuan-perempuan itu ada “darah Indonesia”. Belum lagi penggunaan jilbab atau cadar yang tak mencerminkan keIndonesiaan sama sekali. Oh ya, bukankah itu “film Islami” sehingga sudah seharusnya berdemikian? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hehe&lt;/span&gt;, bagi saya; BUKAN ! Dan saya termasuk orang yang tidak suka mengategorikan “film Islami” dan “bukan Islami”. Yang ada bagi saya adalah film itu bagus dan tidak bagus. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembali ke tema tulisan ini, fenomena perempuan dalam film ini (khususnya perempuan-perempuan yang menjadi istri dan jatuh cinta kepada Fahri, tokoh utama) pun bagi saya sungguh tak masuk akal. Entah dengan maksud kepenulisan dalam novel aslinya. Saya tidak menampik kenyataan bahwa di lingkungan sekitar saya pun, pasti akan banyak yang jatuh cinta dengan sosok Fahri. Tapi bagi saya, biasa-biasa saja (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;justru sosok seperti Fahri bukan tipe yang saya selerai&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya tidak habis pikir kenapa musti ada poligami “atas nama kasihan/kamanusiaan”? Ada sikap keikhlasan yang disengaja dibuat-buat? Rasanya menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;garing&lt;/span&gt; dan maknanya menjadi dangkal. Hubungan cinta yang dijalin dengan “membawa embel-embel atas nama agama” dalam film itu bagi saya sungguh tak lebih dari “semu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya juga tidak habis pikir dengan sikap Aisyah, istri Fahri, yang “memaksa” Fahri untuk menikah lagi demi Maria yang tengah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;koma&lt;/span&gt;. Simaklah ucapan Aisyah ketika berdebat dalam keadaan genting itu dengan Fahri, suaminya: “…&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maria butuh kamu. Dan anak yang ada dalam kandunganku ini juga butuh kamu, ayahnya&lt;/span&gt;…” Sekali lagi saya juga tidak habis pikir kenapa seorang Fahri (yang tipikal intelektual-mahasiswa) mau melakukan itu. Sungguh tak masuk akal, mencari jalan keluar dari permasalahan pelik menyangkut kondisi nyawa seseorang dengan pernikahan! Persoalan simpati kemanusiaan yang dimiliki oleh seorang Aisyah terhadap Maria coba diselesaikan dengan “ikatan resmi” pernikahan. Dahsyat, Dab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi saya, tindakan Aisyah itu adalah tindakan bodoh yang justru menjerumuskan orang lain dalam kebodohan pula. Alih-alih “berbuat baik” menyelamatkan nyawa orang lain dengan “berbagi suami” dan memberi tempat untuk perempuan yang mencintai suaminya itu dalam satu biduk rumah tangga yang ada justru pemanjaan yang berlebihan terhadap perasaan Maria. Dan benar adanya, di bagian akhir film ini, sebelum Maria meninggal dunia, perempuan itu akhirnya sadar bahwa tindakannya itu memang bodoh. Simaklah ucapannya: “…Maafkan atas kebodohan saya. Akhirnya saya sadar, bahwa antara cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda…”&lt;br /&gt; Saya tak habis pikir, atas dasar apa Aisyah melakukan hal itu. Dan atas dasar apa Maria mau meneruskan situasi itu. Mengapa persoalan menghayati makna cinta musti mengorbankan diri dan pada saat yang sama mengorbankan orang lain? Mengapa untuk sampai pada kesadaran bahwa “a&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ntara cinta dan keinginan untuk memiliki adalah hal yang berbeda&lt;/span&gt;” musti menunggu sampai maut hadir di pelupuk mata? Apakah ajaran agung tentang cinta tidak didapat di perguruan tinggi paling bergengsi sekaligus tertua di dunia sekaliber “Al-Azhar”? Kalau boleh agak lebih jauh, apakah agama yang diyakini oleh sang tokoh mengajarkan seperti itu? Betapa kaku dan keringnya? (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wallahua’lam bis shawab-wallahua’lam bis shawab-wallahua’lam bis shawab&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah peran kedua perempuan cantik dalam film itu merupakan fenomena kebanyakan perempuan di Indonesia&lt;/span&gt;? Jangan-jangan iya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerusan budaya patriarki dan “monopoli tafsir keagamaan” serta keredaksian (bahkan pada ranah budaya sekalipun) di negeri ini masih tajam. Menyurukkan perempuan pada kondisi tidak berdaya dan hanyut dalam kebodohan yang melenakan. Tak berlebihan kiranya slogan satir yang mengatakan bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Habis Gelap Tak Kunjung Terang&lt;/span&gt;. Dan itulah yang sebenarnya terjadi di mayoritas entitas perempuan negeri ini. Alih-alih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sok romantis&lt;/span&gt; seperti adegan dalam film AAC, untuk bergulat dari kemiskinan dan kebodohan nyata sehari-hari saja perempuan negeri ini masih kalang kabut (?)&lt;br /&gt;Selanjutnya, saya selalu mengimpikan akan ada karya yang sekurang-kurangnya “antitesis” terhadap film ini. Sebuah film yang kalaupun terpaksa disebut sebagai “film Islami” adalah film yang mencerdaskan dan membebaskan perempuan. Yang memiliki akar budaya yang jelas. Tidak menjual mimpi dan kesemuan. Tidak mengumbar “romantisme beragama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang mengantar saya untuk sampai menulis ini menanyakan film apa yang paling saya sukai? Saya jawab: “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OSHIN&lt;/span&gt;”. Lainnya? Saya jawab: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Kingdom of Heaven&lt;/span&gt;”. Kalau film Indonesia? Dia melanjutkan tanya. Saya jawab: belum ada. Nah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, tapi semoga tulisan saya kali ini adalah bentuk kegelisahan yang salah alamat saja. Yeah..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-3227858160623505817?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/3227858160623505817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=3227858160623505817' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3227858160623505817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/3227858160623505817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/04/fenomena-perempuan-dalam-film-ayat-ayat.html' title='Fenomena Perempuan dalam Film &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/span&gt;'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-5485142893498860410</id><published>2008-04-16T19:27:00.000-07:00</published><updated>2008-04-16T19:30:18.437-07:00</updated><title type='text'>Slank dan Infotainment</title><content type='html'>Sebuah stasiun televisi swasta menayangkan acara infotainment. Headline pada gambar yang akan ditayangkan tertulis “Kritik Slank vs Kritik Istri”. Cukup membuat bibir tersenyum kecil. Tanpa bermaksud ‘meremehkan’ suatu program mata acara televisi, saya tidak tahu bagaimana musti menyikapinya. Tapi rasanya biasa sajalah, begitu kata hati selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kenapa. Tumben sebuah acara “hiburan” semacam infotainment membincang hal yang ‘rada’ serius. Meskipun semuanya tentu tak lepas dari objek yang tengah diperbincangkan, yakni kaum dari “hiburan” itu sendiri, selebritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita merebak ketika Slank yang beberapa saat lalu menyanyikan sebuah lagu berjudul Gosip Jalanan pada acara yang diselenggarakan oleh KPK memicu protes kalangan Dewan yang terhormat di Senayan. Konon, lirik di dalam lagu tersebut sangat menyinggung perasaan anggota Dewan yang terhormat. Terdapat kalimat atau kata-kata “….&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mafia senayan, kerjaannya tukang bikin aturan yang UUD, ujung-ujungnya duit&lt;/span&gt;…” Kabarnya Dewan Kehormatan DPR hendak melayangkan gugatan kepada Slank. Akan tetapi, ternyata hanya semudah membalik telapak tangan, niatan gugatan itu lantas dicabut kembali. Entah kebetulan entah tidak, pada saat yang hampir bersamaan seorang anggota komisi IV DPR, Al-Amin Nasution tertangkap tangan oleh KPK ketika tengah “melakukan transaksi” di sebuah hotel dengan pejabat daerah Bintan Kepulauan Riau. Gosip punya gosip transaksi uang yang berlangsung itu ada kaitannya dengan pemulusan kasus perijinan menggunakan lahan hutan untuk didirikan bangunan di Bintan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak berita infotainment tersebut bagi saya bisa disebut biasa-biasa saja. Persoalan kritik yang dialamatkan ke DPR, pedas atau tidak bagi saya sama saja. Toh, kuping anggota dewan yang katanya terhormat itu sudah kelewat bebal. Buktinya, perkataan yang dilontarkan Gus Dur beberapa tahun lalu bahwa anggota dewan seperti “Taman Kanak-kanak atau Playgroup” ternyata diam-diam banyak diamini orang. Meski tidak pakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;euphoria&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polah tingkah oknum anggota dewan (sayangnya, oknumnya banyak yang tidak ketahuan. Semoga saja cuma belum. Ayolah, KPK…kerja lebih giat lagi!) sangat memuakkan. Segelintir orang yang kedapatan “melanggar hukum” yang semakin menhabiskannya sebagai “anak-anak taman kanak-kanak” hanyalah isu-isu yang bagi saya sudah tidak menarik lagi. Bahkan saya kerap curiga, pem-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;booming&lt;/span&gt;-an berita kasus tersebut justru untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap masalah utama bangsa ini. Sekadar menghembuskan angin segar untuk mengipasi rasa gerah rakyat. Seolah-olah ada harapan yang bisa dihirup bahwa ada niat yang sungguh untuk menegakkan “kebenaran” oleh aparat hukum dengan berani menindak anggota dewan atau pejabat lain. Tapi nyatanya, tak ada yang memuaskan. Kemiskinan dan kesengsaraan rakyat masih melaju kian kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kalimat saya di paragraf atas, headline yang dipakai oleh redaksi acara infotainment itu serasa ganjil. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kritik Slank vs Kritik Istri&lt;/span&gt;. Kritik istri ini tentu saja dialamatkan kepada penthoalan grup band DEWA, Dhani Ahmad. Ketika Slank sibuk mengkritik anggota dewan yang terhormat melalui karyanya yang disebut redaksi infotainment itu sebagai “rasa nasionalisme Slank”, justru Dhani Ahmad disibukkan oleh persoalan pribadi yang menyangkut istrinya, rumah tangganya, isu perceraiannya, yang oleh redaksi infotainment itu dicatat sebagai “tidak ada rasa nasionalisme Dhani”. Hmm, itu tidak ada hubungannya, Dab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolonglah, kalau mau membuat berita, redaksinya yang oke dong. Tidak perlu memaksa diri menyambung-nyambungkan dengan yang jelas-jelas secara akal sederhana saja mudah dibaca sebagai sesuatu yang memang “tidak ada sambungannya”. Kalau hendak memuat berita perseteruan Slank vs Badan Kehormatan DPR buatlah redaksi itu saja. Kalau hendak menyampaikan kehebohan kasus Dhani Ahmad, buatlah naskah redaksi seputar itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menilai ada “gagap” yang menjangkiti keredaksian infotainment tersebut. Sekali lagi kalau boleh dikembalikan ke ‘siapa sih infotainment” itu (tanpa bermaksud meremehkan) akhirnya saya maklum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, kritik tetap ktitik. Hiburan tetap hiburan. Kecuali kritik terhadap hiburan atau hiburan yang mengkritik. Bentuknya menurut hemat saya mestilah sendiri-sendiri. Dan kritik terhadap lembaga dewan, dalam bentuk apapun menurut saya adalah sah. Slank tidak sendiri. Jauh di tahun-tahun kegelapan jaman Soeharto, Iwan Fals, Harry Roesli, Franky Sahilatua (untuk menyebut beberapa nama saja) telah menyanyikan lagu-lagu kritik sosial yang lebih menyengat daripada Slank (bahkan pada saat jaman yang lebih ‘garuh’ secara sosial-politik daripada sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, ‘tantangan’ menarik dari Ali Muchtar Nabalin anggota dewan perlu ditindaklanjuti; silakan Slank menyanyikan lagu itu di halaman gedung DPR. Hmmm….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-5485142893498860410?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/5485142893498860410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=5485142893498860410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5485142893498860410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/5485142893498860410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/04/slank-dan-infotainment.html' title='Slank dan Infotainment'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-4601825772592640042</id><published>2008-04-02T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T20:24:38.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Hujan Lebat di Suatu Siang</title><content type='html'>TAB.&lt;br /&gt;Jatuh di sebuah bayang. Sederhana. Kelewat sederhana malah. Berlangsung sekira beberapa detik. Cepat sekali menghilang. Secepat pula ia datang. Cukup membuatku agak gugup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di atas laju moda roda dua yang biasa kularikan cepat, kini menjadi pelan dengan pasti. Belum kutemukan alasan kenapa demikian. Aku mencium bau tanah persawahan pekat sekali. Sekali bertiup, seketika itu pula bayanganmu  mendadak menampar  ingatanku. Dan ketika hembusan itu berlalu, berlalu pulalah bayanganmu. Aku terhenyak beberapa saat. Inikah dunia yang bernama kenangan itu? Yang telah membuat banyak orang seperti dibuntuti masalah besar? Yang telah menginspirasi banyak orang untuk berkarya? Atau justru sesuatu yang telah menjadikan seseorang merasa tak berarti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kian gugup tatkala cuaca mendadak gelap. Barangkali ocehan dari ahli cuaca yang sering bicara di media itu ada benarnya. Badai Jacob tengah melanda negeri sejuta bencana ini. Sesungguhnya tak penting badai apa. Yang jelas bencana bertubi-tubi telah mendera tak ada bosannya. Tak sedikit yang berkait angin maupun cuaca. Semua sama. Membuat jiwa meradang karena derita datang lagi dan lagi. Ah, aku sok peduli. Aku mulai melantur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengarahkan laju ke Perpustakaan Umum kota kecilku - Wates - ini. Sekalian numpang berteduh pikirku, karena hujan lebat benar-benar turun. Aku jadi ingin meneguk kopi panas. Tapi mana mungkin bisa terjadi di tempat seperti ini? Ini bukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Coffee Shop&lt;/span&gt; bukan pula kedai persinggahan minum. Ini Perpustakaan Umum! Tiba-tiba aku sedih karena bibirku pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kukibaskan sedikit kerudungku untuk mengusir rasa gerah dan lembab yang biasa mengiringi saat-saat awal hujan turun. Aku memilih tempat duduk di sudut ruangan. Perpustakaan ini begitu sepi. Tak seramai biasanya. Mungkin karena gelap dan hujan, sehingga orang-orang lebih memilih hengkang pulang. Aku memandang keluar jendela. Hujan kian menderas. Seolah menderaskan air mata dalam hatiku. Seketika aku kembali gugup. Duh Gusti, ini sungguh tak biasa. Bukankah selama ini aku telah terbukti kuat melawan badai itu? Bukankah waktu yang berlalu di depan hidungku dapat kugelindingkan dengan ringannya? Lantas kenapa detik ini menjadi sedemikian runyam? Duh, aku jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kubuka-buka mingguan Tempo, kubuka-buka pikiranku. Kubolak-balik halamannya. Kubolak-balik perasaanku. Kacau. Kugeletakkan bacaan itu kemudian. Kembali kupandang luar jendela. Sekelebat senyum manismu menabrak mataku. Kualihkan pandang ke petugas Perpus. Ia tersenyum. Kuitarkan pandang ke sekeliling, beberapa nampak jelas suntuk dengan bacaannya masing-masing, tak ada yang pantas dimaksudnya kecuali aku. Sialan, senyum itu untukku! Untunglah aku cepat menguasai diri. Tapi kenapa mendadak peduli dengan senyum dari seorang lelaki asing? Meski akhir-akhir ini aku menangkap tak sekali-dua lelaki petugas Perpus itu mencuri perhatianku dengan senyum agak bermakna itu, namun tak sedikitpun mengusik hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cukup sering aku mendengar, membaca, dan bertanya; terbuat dari apakah makhluk bernama kenangan itu? Kenapa akhirnya aku sendiri pun harus berurusan dengannya? Betul-betul sial siang ini; aku kacau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuambil telepon genggam. Kupencet ”buku telepon”. Pada sebuah nama, jemariku berhenti. Secepat kilat kuhapus nomor itu. Legakah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada yang menusuk ulu hatiku. Sakit sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Sungguh engkau belum mengerti aku. Kalau engkau keliru kuanggap wajar, karena itulah dirimu yang akan memahami aku. Aku serius denganmu.” Kalimat lugas itu terucap di ruang tunggu Bandara Adi Sucipto, menjelang kepulanganmu ke Banjarmasin. Lantas selarik puisi satir karyamu sendiri engkau bacakan untukku. Aku seperti halaman buku yang hilang, hingga halaman sebelum dan sesudahnya berjarak teramat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tersadar dengan yang terjadi kemudian. Ketika kompromi antara kita tak satu hati. Ketika jaman menjepitmu menjadi orang suci. Ketika kita semakin berjauhan pandangan, ketika itu pula hubungan kita telah tak punya masa depan.&lt;br /&gt;Kunyatakan padamu saat itu bahwa aku tidak bisa melanjutkan kayuh pada dua arah berbeda haluan. Engkau marah dan menyatakan kemarahanmu dengan kemarahan khas seorang lelaki. Menuduhku tidak rasional. Tidak berani berpikir kritis. Tidak sungguh-sungguh memperjuangkan idealisme sebuah hubungan. Kekanak-kanakan. Juga pengkhianat. Lalu siapa sesungguhnya di antara kita yang pengkhianat, ketika kini engkau telah berdiam di rumah cinta bersama perempuan bukan diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon genggamku tiba-tiba berbunyi. Di layarnya terpampang sebuah tanda memanggil dari nomor yang tadi kuhapus. Aku kembali gugup luar biasa.&lt;br /&gt;”Ndari, aku di Jogja sekarang. Bisa kita ketemu? Atau aku boleh main ke Wates?”&lt;br /&gt;”Apa kau bersama istrimu?”&lt;br /&gt;”Tentu saja tidak.”&lt;br /&gt;”Aku tak mau bertemu denganmu jika istrimu tak kaubawa serta.”&lt;br /&gt;”Ayolah, Ndari .. kuminta pahami posisiku. Ini tak ada kaitannya dengan istriku. Sungguh, aku hanya ingin bertemu denganmu.” Mendengarmu mengucap kata ”istriku”, telingaku seperti teriris.&lt;br /&gt;”Dewan Daerah Kal-Sel mengutusku mengikuti Konggres di Jogja. Kami bersiap untuk Aksi menentang kedatangan tim WTO  yang akan singgah di kota ini pekan depan.”&lt;br /&gt;”Sekarang siapa sesungguhnya yang kekanak-kanakan?”&lt;br /&gt;”Kumohon, Ndari. Jangan sinis begitu. Aku betul-betul ingin bertemu denganmu. Entahlah, aku masih menyimpan ruang itu dan aku menginginkanmu. Kau pasti tahu, perasaan tentangmu tak bisa kuenyahkan. Atas nama apapun.”&lt;br /&gt;”Maaf, aku tidak mau!” Kumatikan telepon genggam. Aku merasa semua mata yang ada di ruangan ini melihat ke arahku. Tak terkecuali lelaki petugas  Perpus yang masih tersenyum meski mendapati tegangnya wajahku. Aku melangkah keluar. Hujan masih lebat. Melihat langit yang menghitam seperti itu bisa dipastikan hujan masih akan lama. Aku bimbang sekaligus mengutuki diri. Begitu saja mudah dipancing emosi? Tidakkah akhirnya aku juga yang  kekanak-kanakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyalakan musik dari MP4 sekedar mengurangi sesakku. Suara sedikit serak dan melengking dari Iwan Fals memanduku melagukan ”Nyanyian Jiwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sering ditikam cinta&lt;br /&gt;Pernah dilemparkan badai&lt;br /&gt;Tapi aku tetap berdiri...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngestiharjo, 2 April 2007, 7:13 AM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dimuat di Antologi Bersama ”crt2 yg dcrtkn pncrt2 lk2 &amp; pncrt2 prmpn” terbitan Gerilya Peradaban Solo&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-4601825772592640042?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/4601825772592640042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=4601825772592640042' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4601825772592640042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4601825772592640042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/04/hujan-lebat-di-suatu-siang.html' title='Hujan Lebat di Suatu Siang'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-4169086101817401230</id><published>2008-03-25T19:59:00.000-07:00</published><updated>2008-03-25T20:06:43.879-07:00</updated><title type='text'>Tradisi yang Menyegarkan</title><content type='html'>Aku ingin menulis ini. Sebuah tradisi yang menyegarkan di tempat aku biasa bergiat untuk belajar banyak hal baru. Sebuah penerbitan buku. Ada direktur selaku pemimpin perusahaan, bagian Umum, Keuangan, Gudang, Pemasaran, Percetakan, OB, juga bagian keredaksian. Aku belajar dan bergiat di bagian keredaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap bulan, diadakan rapat karyawan. Semua unsur yang kutulis di atas tergabung menjadi satu dalam satu tempat. Biasanya diungkap hal-hal yang berkait dengan pekerjaan dan hal-hal lain terkait mengenainya. Ada agenda lain yang tak kalah penting, yakni presentasi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi buku wajib dilakukan oleh semua karyawan tanpa kecuali. Dalam setiap kali rapat karyawan yang sebulan sekali ini, tiga orang berkewajiban mempresentasikan buku yang sudah dibacanya. Tiga orang yang lain berkewajiban menjadi komentator masing-masing pembaca. Istilahnya satu lawan satu. Pemilihan karyawan yang maju pada saat itu adalah dengan undian seperti arisan, memutar terus begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang dipresentasikan diserahkan ke masing-masing presentator, namun harus berbeda. Buku yang pernah diulas/dipresentasikan karyawan lain pada kesempatan lalu tidak boleh dipresentasikan ulang. Artinya, benar-benar buku baru yang belum pernah dibicarakan di rapat karyawan. Tidak ada ketentuan buku yang khusus. Semuanya bebas baik buku terbitan kami sendiri atau terbitan penerbit lain, baik yang tipis atai tebalnya mirip bantal, baik yang harganya murah sampai yang mahal sekalipun (biasanya berkisar ratusan ribu), baik buku paling lawas atau terbaru. Buku yang dipilih oleh presentator akan gratis menjadi miliknya seusai dia mempresentasikannya. Hmm...lumayan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang disediakan adalah satu jam untuk ketiga karyawan dan komentatornya. Meski modelnya tidak seperti ”bedah buku” sungguhan, namun tidak mengurangi keseriusan menyikapi sebuah buku. Presentator musti membaca dan mempelajari buku itu, begitu pula sang komentator. Sehingga saat presentasi tiba, presentator dapat mengisahkan hasil membaca bukunya itu. Begitu pula sang komentator. Hal yang membuatku tersenyum adalah di sini diberlakukan sistem ”her”. Layaknya anak sekolah yang musti ”her” atau mengulang bila tak lulus ujian, karyawan yang presentasi di sini juga musti ”her” atau mengulang presentasi di kesempatan berikutnya jika ”sidang baca buku” atau sang komentator memvonisnya ’tidak berhasil’ dalam mempresentasikan. Tapi anehnya, tidak ada kewajiban ”her” bagi komentator yang tidak berhasil mengomentari. Hi hi hi... entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setiap karyawan (penjaga gudang, pemasaran, bagian produksi, yang tukang bikin minum, penjaga kantor, OB, resepsionis, keuangan, redaksi, sopir) di tempat kami suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, terpaksa atau tidak terpaksa harus menjadikan tradisi membaca buku sebagai sikap hidup keseharian. Membaca buku yang tentu saja tidak berhenti hanya di sebatas membaca, namun harus mampu ”membacakannya” di hadapan kami, karyawan lain. Sebuah tradisi yang menurutku bisa membikin hidup lebih hidup. Yeah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan aku masuk di salah satu bagian keredaksian. Khusus di bagian ini, hampir pasti ada kegiatan diskusi setiap bulan yang tidak mempresentasikan buku, namun diskusi langsung dengan para penulis buku yang diterbitkan oleh kami. Kadang kami juga mengundang tokoh intelektual/cendekiawan yang kesohor pikiran-pikiran atau pandangannya. Kadang juga dari kalangan budayawan, seniman, pekerja film dan sebagainya. Lagi-lagi sebuah tradisi yang menyegarkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bilik Rasa, 26 Maret 08&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-4169086101817401230?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/4169086101817401230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=4169086101817401230' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4169086101817401230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/4169086101817401230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/tradisi-yang-menyegarkan.html' title='Tradisi yang Menyegarkan'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-7134396545560191435</id><published>2008-03-18T02:30:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T02:32:46.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kawan'/><title type='text'>Tentang Seorang Kawan</title><content type='html'>Seorang kawan tiba-tiba menelpon. Membagi kabar terbaiknya untukku. Meski baru sekali kami bertemu, seutas tali bernama nadi itu masih indah tersambung. Seorang kawan yang jauh, seorang kawan dari jauh; Makassar. Tetapi begitu dekat di hati. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapakah yang mampu menjauhkan kawan baik dari hatinya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengingatnya, mengingatkan pertemuan kami beberapa tahun silam. Di suatu siang yang bergetar karena kemarau seperti gelisah menanti hujan. Dia datang dari Semarang, kota tempatnya menempuh studi. Kami bertemu di kedai kampusku saat itu (dan aku merekamnya di salah satu sajakku berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lelaki Asing yang Datang dari Kota Asing&lt;/span&gt;). Rambutnya telah dipotong pendek tidak lagi seperti di kaver depan bukunya yang bergambar dirinya sendiri. Bagiku, sayang sekali. Seorang lelaki seperti dia, menurutku, lebih menarik kalau dibiarkan gondrong. Entahlah, barangkali aku saja yang suka melihat lelaki berambut gondrong. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan dalam pertemuan itu berlangsung dari jam setengah satu siang sampai jam setengah enam sore. Ya, saling bercerita selama lima jam! Cukup panjang untuk sebuah obrolan yang hanya di satu tempat tanpa terputus. Tapi aku merasa tak mampu berbuat banyak untuk menjamu kedatangannya yang mendadak saat itu. Banyak sekali yang  ia ceritakan. Begitu pula beberapa malam lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menelponku jam 11 malam. Dan, kami ngobrol hingga pukul 4 pagi. Ya, malam itu kami berbincang di udara selama lima jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, yang seorang penyair, membacakan sajak-sajak pengembaraan yang bagiku luar biasa itu. Ada sejarah yang ia telah toreh dalam perjalanannya itu. Tentang shock culture yang sulit dihindari. Ya, tapi sah ketika dijadikan sebagai bagian dari kenangan hidup seorang anak manusia. Ia seperti ruang dengan jendela dan pintu yang banyak. Tak terhindarkan kemudian ketika udara menjadi silih berganti. Sana-sini. Kurasakan diriku seperti tengah membuka sebuah buku tebal. Lantas kubuka lembaran demi lembaran yang telah ditulisinya dengan kisah. Ada kalanya aku berhenti di sebuah lembaran. Mengeja, membaca dengan teliti, kuberi syarah sendiri, dan mulai menerjemah. Ada kalanya kubuka-buka dengan cepat lembaran demi lembaran itu untuk kemudian balik lagi ke lembaran-lembaran terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanku yang satu itu pandai sekali berkisah. Seluruh kisahnya seperti sajak-sajak yang menyembur begitu saja dari sebuah kedalaman. Seperti sajak-sajak yang pernah ditulisnya dalam buku yang sebenarnya; ”Orkestrasi Kehidupan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mampu menjadi seorang sahabat pendengar yang baik saja, tidak lebih. Biasanya memang seperti itu, kapasitasku hanya sebagai pendengar. Tapi bodohnya diriku, lupa kucatat. Aku tak memiliki catatan apa pun tentangnya, kecuali yang tengah kutulis ini. Dan sesuatu yang kutarik sebagai pelajaran berharga di sini. Di dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan tertinggi kusampaikan untuknya. Juga untuk sahabat-sahabat yang lain. Yang hebat. Yang luar biasa mengarungi hidupnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam untukmu, wahai!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-7134396545560191435?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/7134396545560191435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=7134396545560191435' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7134396545560191435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/7134396545560191435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/tentang-seorang-kawan.html' title='Tentang Seorang Kawan'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-1727733182859271348</id><published>2008-03-13T05:29:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T05:30:46.598-07:00</updated><title type='text'>Perempuan yang Menulis Sajak</title><content type='html'>Sekerat kata tersungkur di landasan, menggumpal&lt;br /&gt;Tercelup di rinai tinta&lt;br /&gt;Tak mengabarkan apaapa&lt;br /&gt;Tak seperti biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pipimu leleh&lt;br /&gt;Menjelma keterasingan yang di luar dugaan&lt;br /&gt;Hempaskan lekuk hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukubuku yang berserakan mewadahi kalimat resahmu&lt;br /&gt;Berhamburan menyatakan dendam&lt;br /&gt;Tak terobatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nologaten, Maret '08&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-1727733182859271348?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/1727733182859271348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=1727733182859271348' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1727733182859271348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/1727733182859271348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/perempuan-yang-menulis-sajak.html' title='Perempuan yang Menulis Sajak'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6997001336332679348</id><published>2008-03-13T05:27:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T05:29:05.579-07:00</updated><title type='text'>MALAM DENGAN NADA DASAR GERIMIS</title><content type='html'>Aku telusuri saujana di tubir nirwana&lt;br /&gt;Menggelar peristiwa yang tersesat dalam ceruk mata&lt;br /&gt;Bergumam tentang ketakjuban hati&lt;br /&gt;Kala memandang ke atas langit♫&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mengeja rintik gerimis&lt;br /&gt;Yang menjuntai ritmis&lt;br /&gt;Jangan menafsir! Ucapku seolah pada diriku sendiri&lt;br /&gt;Jutaan serbuk itu bukan jarum yang ‘kan menusuk ranum duniaku&lt;br /&gt;Toh aku hanya memerlukan sedikit nuansanya&lt;br /&gt;Untuk menggenapi kuasi malam yang kuseduh dalam secangkir kopi&lt;br /&gt;Karena aku yakin mendung dan gerimis memiliki alasan terbaik untuk bersetia&lt;br /&gt;Hanya dalam bahasa mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngestiharjo, 6 januari 2006&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6997001336332679348?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6997001336332679348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6997001336332679348' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6997001336332679348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6997001336332679348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/malam-dengan-nada-dasar-gerimis.html' title='MALAM DENGAN NADA DASAR GERIMIS'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6390430193296024685</id><published>2008-03-13T05:22:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T05:24:22.359-07:00</updated><title type='text'>Sampai Kapan Kita Akan Menuliskan Sajak Cinta</title><content type='html'>Sampai kapan kita akan menuliskan sajak cinta&lt;br /&gt;Menyapa setiap kelabu jiwa&lt;br /&gt;Mengukir rona yang beranjak senja&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tergugahkah mentari untuk menjemput sesegera?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Iringan itu menghantar hingga ke padang savana&lt;br /&gt;Tiada bernama&lt;br /&gt;Tak jua alamat yang mengantarkan sendiri surat-suratnya&lt;br /&gt;Ia, menjadi sedemikian sesak&lt;br /&gt;Menyesak hingga ke ujungujung&lt;br /&gt; Relung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kudengar tentang kemerdekaan&lt;br /&gt;Nun jauh di belakang abad yang kian karam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini kemerdekaan itu coba kau rajut dengan benang kusutmu&lt;br /&gt;Juga jarum dan kain yang kau ambil dari bagian terdalam igamu&lt;br /&gt;Ah, apa itu artinya kemerdekaan bagi kita&lt;br /&gt;Yang masih berlumur darah penjara kemunafikan yang telanjang&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Serta ratapan aneh yang kian vulgar?&lt;/em&gt; Enyah proklamasi itu&lt;br /&gt; Sampai, sajak cinta kita temukan lagi&lt;br /&gt;dalam keadaan terbenam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngestiharjo, medio Juli ’07&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6390430193296024685?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6390430193296024685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6390430193296024685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6390430193296024685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6390430193296024685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/sampai-kapan-kita-akan-menuliskan-sajak.html' title='Sampai Kapan Kita Akan Menuliskan Sajak Cinta'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-833278410982832621</id><published>2008-03-13T05:04:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T05:20:32.324-07:00</updated><title type='text'>Jalanan Masih Basah</title><content type='html'>&lt;em&gt;teringat engkau&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kau tahu&lt;br /&gt;Bahwa laut terkadang tidak menyimpan segalanya?&lt;br /&gt;Apakah kau juga tahu&lt;br /&gt;Bahwa aku terkadang menyimpan segalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, kau, dan laut kerap bergelut&lt;br /&gt;Masing-masing menyimpan gemuruh&lt;br /&gt;Yang pecah menjadi ombak&lt;br /&gt;Deburannya menerjang jalanan yang kita lalui&lt;br /&gt;Jalan misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini&lt;br /&gt;Ketika aku telah tiba di kota ini&lt;br /&gt;Di mana pelabuhan tak akan karam&lt;br /&gt;Jalanan masih basah&lt;br /&gt;Persis saat kita dulu pertama kali&lt;br /&gt;digali parit sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Salakan Baru, 21 September 2007&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-833278410982832621?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/833278410982832621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=833278410982832621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/833278410982832621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/833278410982832621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/jalanan-masih-basah.html' title='Jalanan Masih Basah'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-6403488967531252724</id><published>2008-03-02T19:25:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T19:39:06.786-08:00</updated><title type='text'>ROMANSA</title><content type='html'>lentik jemari tergenggam&lt;br /&gt;oleh daun senja, rekah seperti adonan kue&lt;br /&gt;keluar dari panggangan&lt;br /&gt;biasan cahaya remahnya&lt;br /&gt;membuatku, tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rasuk&lt;br /&gt;dan merasuk di sebalik waktu gigil&lt;br /&gt;bawa sebuntal gundah&lt;br /&gt;tak terjamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin kusentuh wajahmu&lt;br /&gt;kutelusuri dengan lentik jemari&lt;br /&gt;sejarah likuan hidupmu&lt;br /&gt;berjenjang&lt;br /&gt;terjal&lt;br /&gt;dan berlubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah sepotong sayapmu telah tertinggal di cawan takdir?&lt;br /&gt;Adakah sorot cahayamu lupa terbentuk di sisi tangkai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;radja-warung antar net, 3-03-08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-6403488967531252724?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/6403488967531252724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=6403488967531252724' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6403488967531252724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/6403488967531252724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/03/romansa.html' title='ROMANSA'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-2056118535395131636</id><published>2008-02-25T02:04:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T02:15:58.870-08:00</updated><title type='text'>Mblayang Nuju Pegunungan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R8KVNrAuAcI/AAAAAAAAAFI/9FsyAXfYrl0/s1600-h/Puncak-Suroloyo-4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R8KVNrAuAcI/AAAAAAAAAFI/9FsyAXfYrl0/s400/Puncak-Suroloyo-4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170859384291328450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang ingin kukisahkan di Jumat lalu. &lt;/span&gt;Tentang laju roda duaku. Sembilan tigapuluh pagi, berangkat berdua dengan Izur, aku pegang kemudi depan. Merangkai musik sepanjang jalan.&lt;/span&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Pertama ke gedung panitia perhelatan “pesta demokrasi” rakyat. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Menjumpai sahabat kami. Rupanya dia sedang tidak berkantor. Sengaja kami tidak mengontaknya. Bukankah, kadang susuatu urusan perjumpaan lebih asyik jika tiba-tiba? Ah tidak juga, hari sebelumnya sebenarnya Izur sudah berkabar akan kedatangan kami. Tapi? Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Laju kami teruskan ke Wates. Menjumpai seorang sahabat kami lainnya. Seorang perempuan penulis sajak. Kami menjumpai dia tengah berdua bersama suaminya, mungkin ngobrol serius mungkin romantis, entahlah kami tak tahu. Mudah-mudahan kedatangan kami tidak begitu mengganggu, sebab menit berikutnya sang suami meluncur menjemput anak mereka yang bersekolah di TK Pembina. Sedikit berbasa-basi sebentar tentang rencana kepergian kami, juga tentang ’pesanan’ sajak-sajak. Hmm...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sesaat ketika motor hendak kami arahkan ke jalan raya, kami menjumpai parkir mobil berderet-deret di depan Bank Pasar jalan Khudlori. Duh, padat parkir yang kebetulan pas dengan jalan yang menyerong itu mengganggu mata dan keselamatan kami. &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Kami rasa tidak berlebihan kalau kami katakan seperti itu. Entah ini persoalan apa. Manajemenkah? Badan jalan yang sudah sempit dan berkondisi serong, digunakan untuk parkir. Belum lagi kalau mengingat itu jalan propinsi (jalur utama Selatan). Kami tak tahu musti bersuara apa dan bagaimana. Kami sering terlalu tak peduli (tapi sering memaki). Izur berseloroh, &lt;i&gt;wah rasanya perlu ditulis aja di surat pembaca&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Kami memarkir motor di depan sebuah toko bernuansa ’kapitalis’ (hehe) mencari barang yang atas alasan pragmatis bisa kami dapatkan di tempat ini. Tidak lebih dari lima menit, kami keluar dan meneruskan laju ke arah utara. Melajui jalanan di atas roda dua dengan mengobrol adalah tradisi yang sulit lekang, hingga kami (tepatnya aku) tidak menyadari jika seseorang tengah melaju pula di depanku. Pelan kualihkan jalan menjauh. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Eh, pas tiba di dekat rel Wetan kami ketemu lagi. Dengan diplomatis diriku terhadap diri sendiri, kulalui saja menit-menit itu tanpa seseorang itu mengetahui keberadaanku (&lt;i&gt;I’m sorry, Bos! In another time, right?&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Sepeda motor kularikan agak cepat terus ke arah utara. Kami hendak menuju Girimulyo. Sebuah daerah pegunungan seju&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;k dengan menempuh perjalanan kira-kira 20-30 menit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Selama tempuhan perjalanan kami yang ke sekian kali itu, lagi-lagi kami hendak menahbiskan diri sebagai orang Kulonprogo yang &lt;i&gt;gumun&lt;/i&gt; melihat alam Kulonprogo. Bukan kami mendramatisir. Tapi cobalah kau susur jalanan ke perbukitan utara Kulonprogo, eksotis habis!! Kami yang biasanya &lt;i&gt;hanya&lt;/i&gt; sedikit akrab dengan daerah pegunungan Kokap dus waduk Sermo-nya, kini &lt;i&gt;mblayang&lt;/i&gt; ke daerah perbukitan dan pegunungan Girimulyo yang indah tak sudah-sudah. Sebelumnya kami juga pernah merambahi pegunungan Samigaluh dengan nuansa eksotis yang tidak berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Kondisi roda dua yang agak payah membuatku musti menyetel gigi satu di jalanan tanjakan sekira 45 derajat sepanjang 100-an meter (aku tak tahu pasti kebenaran ukuran itu,  hanya saja rasaku demikian). Syukurlah, kami selamat. Setelah tanjakan 45 derajat kemiringan itu kami masih harus menempuh jalan yang naik-turun berkelok. Hingga ketika kami tiba di wilayah tujuan, jalanan terjal tidak beraspal juga licin tak bisa dihindari. Semuanya tak membuat lelah sama sekali. Lanskap hijau alam Kulonprogo-ku meruahkan segalanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sahabat yang kami tuju baru saja melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama ”Raihan Dhiya’ul Haqq”. Sayang sekali, saat itu kami tak menjumpainya. Dia tengah berada di rumah mertuanya. Rumah yang ada di depan kami pun kosong, tak ada sesiapa (sahabat kami itu anak semata wayang). Setelah sejenak kami berkontak via telepon genggam, kami memutuskan untuk istirahat dengan duduk-duduk di teras rumahnya. Memuaskan pandangan mata kami ke nun bawah dan sekitar rumah yang sungguh-sungguh asri. Pegunungan seperti &lt;i&gt;’abqoriyyin &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;is&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ân&lt;/i&gt; (permadani indah dalam QS. Ar-Rahman). Beberapa petak terlihat berbentuk &lt;i&gt;terasering/sengkedan&lt;/i&gt;, tapi pepohon jati besar-besar juga tak kalah menghias di pegunungan ini. Izur sempat bertanya, milik siapakah gerangan pepohon jati yang ’wah’ itu. Kujawab saja &lt;i&gt;milik Gusti Allah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Bapak sahabat kami itu pulang dari gotong royong kampung. Kaget melihat kedatangan kami, sementara si ibu masih di hutan sebelah (jangan salah duga, kalimat ”hutan sebelah” jika ditempuh bisa memakan waktu setengah sampai satu jam jalan kaki). Mungkin mencari kayu bakar mungkin juga menengok nenek mereka yang tinggal seorang diri di hutan. Aku teringat cerita bahwa di kampung ini ada seorang Kepala Dusun yang memiliki &lt;i&gt;turangga&lt;/i&gt;; kuda. Sang Kepala Dusun akan menunggang kuda ketika menyusur wilayah kekuasannya, mungkin berpatroli (mungkin seperti prajurit kavaleri). Mengingatnya membuat aku iri. Sedari kecil, aku memang menginginkan suatu saat aku bisa menunggang kuda. Seperti para pendekar yang kudengar dari dongeng-dongeng masa kecil atau yang pernah kulihat dalam serial kolosal di tipi-tipi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Usai berbincang sebentar dengan bapak yang ramah bukan main itu, kami mohon diri melanjutkan perjalanan menuju kampung sebelah di mana rumah mertua sahabat kami berada. Letaknya jauh di ”bawah”. Namun meskipun dikatakan ”bawah” ternyata rumah itu berada di ketinggian pula. &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Kami bisa menyaksikan kejauhan Laut Selatan yang terlihat kecil dari sana. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Whuhhh..menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sayang berjuta sayang bermalang-malang, berkali-kali kami melakukan perjalanan ke daerah seperti itu, kami tak pernah ingat untuk membawa alat pengabadian gambar. Ya! Kami tak menenteng kamera dan kami tak memiliki gambar satu pun! Mau gimana lagi, kami tak punya kamera baik digital maupun biasa pun tak punya hape yang berkamera. Tak ada uang untuk membelinya (karena uang lebih berat untuk &lt;i&gt;nempur &lt;/i&gt;beras, hehe...).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-bottom: 0in;font-family:trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Ketika aku berkesempatan memangku bayi mungil itu, aku teringat sehari sebelumnya. Aku juga berkesempatan memangku bayi mungil laki-laki di Yogyakarta, anak seorang sahabat dekat pasangan Lamongan-Surabaya, yang diberi nama ”Ilalang Kafabillah”. Mendengar nama ”Ilalang”, aku jadi teringat Mbah Im dengan ”Ilalang Berisik, eh Berbisik”-nya. Hehe...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Aku ingin menulis tentang bayi dan anak kecil. Mungkin juga tentang sang Ibu yang telah melahirkannya ke dunia. &lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Sepertinya romantis...(eit, bukankah perempuan kadang dikatakan romantis ketika dia menjadi seorang Ibu?)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Yup, &lt;i&gt;lain kali...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-2056118535395131636?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/2056118535395131636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=2056118535395131636' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/2056118535395131636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/2056118535395131636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/02/mblayang-nuju-pegunungan.html' title='Mblayang Nuju Pegunungan'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R8KVNrAuAcI/AAAAAAAAAFI/9FsyAXfYrl0/s72-c/Puncak-Suroloyo-4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9101482359469776760.post-8281886986941922782</id><published>2008-01-16T01:14:00.001-08:00</published><updated>2008-01-16T01:24:57.550-08:00</updated><title type='text'>Mendiang Sahabat, Aku Rindu Kau....</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R43L_4ejBQI/AAAAAAAAACQ/sIxq91vA6x4/s1600-h/Almarhumah+Ainul+Izzah....jpg"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156001446761792770" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R43L_4ejBQI/AAAAAAAAACQ/sIxq91vA6x4/s320/Almarhumah+Ainul+Izzah....jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;September 2003&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Didahului kisah di bulan-bulan sebelumnya. Kita tengah ditinggalkan tiga sahabat kita (Zur, Umsal, dan Indah) ber-KKN. Dua di Kulonprogo dan satu di Piyungan Bantul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika itu tinggal kita berempat (aku, kau, Iis, dan Amelia). Dengan tempat tinggal masing-masing yang berbeda-beda. Kita baru saja mulai kost terpisah. Masing-masing mengejar tugas agar segera tertunai. (tahukah kau, setahun kemudian aku baru berhasil meloloskan diri dari kampus, dengan nilai nyaris &lt;em&gt;cumlaude&lt;/em&gt; tapi di bawah ’ancaman’, hehe. Kau pasti tahu, perjalanan skripsiku terlunta-lunta di Jakarta. Karena aku lebih suka menghabiskan waktu jalan-jalan di Jakarta daripada menyegerakan diri bertemu orang nomor dua di Surat Kabar Nasional itu, demi kepentingan skpripsiku)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku tentu masih mengingatnya. Banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Ibunda Iis di Pandeglang yang baru saja meninggal, sementara Iis masih bersama kita di Jogja, bersiap pendadaran skripsi. Kita semua hanya bisa pasrah tak bisa hadir di Banten. Iis mengajari kita bagaimana menjadi yatim-piatu di tengah keterbatasan-keterbatasan. Lantas kita pun mulai berpisah tempat tinggal di saat sahabat kita pergi KKN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku tahu, itu adalah masa sulit bagi dirimu. Dirimu yang tidak boleh sendirian dan kesepian. Kami ber-enam mengetahuinya. Kami ber-enam berusaha. Apapun yang sekiranya membuatmu senang coba kami lakukan, meski kadang tak rasional sekalipun. Kami tak ingin kau sakit lagi. Kami tak ingin melihatmu menderita dengan penyakit anehmu itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kau ingat? Saat-saat itu kita bertujuh masih kerap menjadi aktivis "angkutan umum". Hanya Iis yang memiliki sepeda motor, itu pun musti bergantian dengan Eduin, adiknya. Aku, barangkali masih beruntung karena diantara kita bertujuh hanya akulah yang memiliki SIM. Jika sewaktu-waktu musti berkendara, aku nyaman. Aku menjadi ’kurir’ yang setiap saat siap mengantar kalian ke mana saja. Eh, kadang SIM-ku juga dipinjam sama Amelia atau Apriliana. Hehe..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Antara kita berempat sulit sekali mencari kesempatan dan kesepakatan untuk bertandang bersama ke tempat KKN mereka. Saat itu aku masih terikat kontrak dengan jadual ketat (tak bisa ditinggalkan), membawakan acara diskusi "Gardu Perempuan" di sebuah stasiun radio swasta lokal di Wates. Aku juga masih ingat, betapa di antara kita saling menjaga perasaan masing-masing, dengan misalnya secara khusus pamit jika terpaksa berangkat ke lokasi duluan. Kita berempat tak pernah bisa pergi bersama-sama. Jarak dan kesibukan rupanya terlalu kencang mengikat kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Suatu ketika, entah ada ide dari mana. Tiba-tiba kita memutuskan pergi ke lokasi KKN Zur dan Indah di Glagah Kulonprogo bersama Cak Muk dan Cak Jun. Saat itu kita memang tengah sama-sama dekat dengan keduanya. Sebagai saudara sesama warga Weha. Kita berempat. Betapa senangnya Zur kita datangi. Ditambah Kang Sholeh ndalem, kita berenam lantas main ke pantai Glagah saat terik menurunkan senja. Duh...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Keakraban kita dengan Cak-Cak itu berlanjut saat mereka berdua kebetulan wisuda bersama. Kau, aku, Zur, dan mereka berdua beranjangsana ke Bulaksumur di Minggu pagi. Sehari usai mereka berdua wisuda. Aku jelas sekali mengingat, tiba-tiba kau menangis dalam derai tawa kerasmu. Ada apa, wahai Ainul Izza? Kedua Cak itu mungkin tak melihatmu atau tak menyadarimu. Tapi aku iya. Dan tidak terbersit sedikitpun bahwa tidak lama setelah itu kau meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Usai kita menghabiskan waktu dengan bubur ayam, soto, es teh, es jeruk, teh panas dan beberapa tusuk Tempura goreng juga aneka peristiwa yang dikisahkan dari mulut masing-masing di lesehan Bunderan UGM, kau tiba-tiba punya ide memberi cindera mata untuk Cak Jun dengan foto yang berpigura. Foto di blog ini adalah foto itu. Foto terakhir kita. Tepat sepuluh hari sebelum kepergianmu untuk sepanjang lamanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Aku menuliskan segores sajak di pigura kayu itu. Dan kau menyalinnya diam-diam. Waktu itu kita tengah di warnet Merapi. Kau bilang suka kata-kataku di pigura itu. Lagi-lagi aku tidak menyadarinya. Padahal, sesungguhnya itu teramat aneh bagiku karena kutahu kau tidak begitu suka puisi, apalagi kata-kataku. Senin malam, Cak Jun boyong ke Jatim. Dia tak akan pernah bertemu denganmu lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selasa dan Rabu, menjadi dua hari rehatku. Selama dua hari itu tak ada yang bertandang ke kostku. Aku sendirian. Umi dan Zur tengah disibukkan oleh kelompok KKN masing-masing; menyusun laporan dan aneka kehangatan kelompok yang coba dikekalkan usai masa KKN berlalu. Tradisi KKN kawan-kawan UIN sangat khas sekali. Kebersamaan yang tak pernah lekang meski bertahun berlalu, bahkan hingga telah berkeluarga dan jauh. Dua hari itu aku betul-betul kesepian di kost. Aku menghabiskan waktu dan melupakan kesepianku dengan membuat kliping. Koranku yang bertumpuk kupilih, kupisahkan, kuguntingi, dan kurekatkan di kertas dengan lem. Musik dari suara bariton radio kecilku berdendang sendu. Hanya ada segelas teh panas menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Saat-saat terakhir bersamamu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Rabu petang. Kesepianku tak bisa dibendung. Ingin ke Weha tak memungkinkan, jadual masih libur dan orang-orang masih banyak yang di rumahnya. Ingin ke Karangmalang, tempat kost Amelia dan Indah, jauh jika musti kutempuh dengan mengayuh sepeda federal merah itu. Dari sekian yang paling dekat dan memungkinkan ternyata; kau! Diiringi rasa kangen dan sepi aku mengayuh roda dua menujumu. Tepat di sisi Timur KFC, kita bertemu. Kita berdua tertawa ngakak. Ternyata kita sama-sama kangen dan ingin menuju tempat masing-masing; aku hendak menujumu dan kau hendak menujuku. Kau, yang sebelumnya tak ada niat bermalam di kostku, akhirnya mengambil keputusan itu. Kau ingin bermalam di kost dan menghabiskan malam bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memintaku mengantar ke asrama Seroja, menemui Hamid kawan sekelasmu. Kau bilang esok pagi mau pulang ke Demak (aku kaget. Kau biasanya mengatakan lebih dulu padaku jika memang hendak pulang ke rumah, jauh-jauh hari. Tidak mendadak seperti ini). Hamid kaget pula. Dia menerima buku yang kau kembalikan. Berikut KRS-mu yang kau titipkan Hamid untuk diselesaikan administrasinya. Aku sempat terbengong, karena biasanya kau selalu membicarakannya denganku pun soal urusan KRS-mu; mau mengambil mata kuliah berapa SKS semester ini, apa saja mata kuliahnya, de el el. Kau bahkan tak segan ancang-ancang meminjam referensi kepunyaanku untuk bahan kuliahmu. Di Seroja, kita agak lama berbincang dengan Hamid. Tantu saja gelak tawamu selalu membahana di sana. Itu ciri khasmu. Tapi aku cukup senang melihatmu begitu, dibanding melihatmu masam dan berwajah tak baik, aku takut. Sayang sekali, waktu itu kita tidak bertemu Anto (sahabat dekat kita juga) di sana. Karena kau pun biasanya akan tergelak-gelak jika sudah berbincang dengan Anto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya kau memintaku menemani ke Kopma Kampus. Kau perlu bekal jajan untuk pulang ke Demak. Aku menurutimu. Kebetulan, saat itu cafetaria Kopma baru saja grand opening pujasera. Kita sama-sama tertarik untuk mencobanya. Kau memesan bakso. Waktu itu jam telah menunjuk jam 8 malam. Kita masih punya waktu satu jam di sana. Aku tak begitu ingat pasti, selama kita menikmati bakso itu, berapa panjang hal yang kau kisahkan padaku. Tentang dirimu. Tentang cintamu. Tentang kekasihmu. Tentang keluargamu. Tentang kampungmu. Aku terbiasa menjadi pendengar yang baik, kudengarkan saja. Sesekali kutimpali dengan candaku dan kau pasti akan tertawa keras. Betapa aku tak menyadari bahwa rupanya kau seperti "ingin menuntaskan" segala sesuatunya. Beberapa dari kisahmu aku pernah mendengarnya dan kau tak sadar telah mengulangnya. Beberapa yang lain adalah hal baru bagiku. Kalau tak salah kau sempat pula balik bertanya padaku; tentang seseorang yang bersembunyi di hatiku. Aku katakan padamu saat itu; "aku tidak tahu". Lalu kau beralih tanya ke seseorang yang kau curigai tengah mendekatiku, aku bilang "kami tak ada apa-apa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menikmati bakso, kita hendak beranjak pulang. Saat melintasi Tangga Demokrasi, tiba-tiba kau ingin kita duduk di sana. Melanjutkan obrolan yang terputus di cafetaria Kopma. Aku sedikit tergeragap ketika kau mengisahkan sebuah persoalan asmara seorang sahabat kita. Kau memintaku untuk "membantunya". (Hingga sekarang permintaanmu itu tak bisa kupenuhi. Maaf, aku tidak berani. Lebih tepatnya, itu bukan urusan kita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setengah jam saja kita berbincang di Tangga Demokrasi. Kita berjalan kaki menyusuri jalanan sampai tiba di kostku. Aku sempat mengulang keherananku dan menanyakan padamu mengapa kau pulang ke Demak cepat-cepat? Biasanya rencana ada di jauh-jauh hari. Kok ini mendadak? Kau jawab mau selesaikan urusan ijin penelitian skripsimu. Aku sempat teringat, akankah kau berobat lagi? Tapi urung kutanyakan padamu. Di kamar kostku kau tambah lagi kisah yang sengaja ingin kau perdengarkan kepadaku. Hingga malam benar-benar larut dan kita tertidur. Tidur ditemani kau untuk paling penghabisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya, usai sembahyang Subuh, kau tidur lagi. Kau bilang masih ngantuk. Sesungguhnya aku sudah merasa ganjil dengan keseriusanmu untuk pulang hari itu ke Demak. Kau bilang mau pulang, tapi kau tampak santai-santai saja, bahkan seperti enggan pulang. Tidak sesegera mungkin berkemas, mengingat perjalananmu yang jauh dan memakan waktu. Kau bahkan tertidur pulas. Akhirnya aku ikut tidur lagi. Kira-kira jam setengah sepuluh kita bangun. Beres-beres dan bersih-bersih kamar, kau sempat mengambil sebuah buku dari rakku (Jurnal Perempuan edisi "Ibu dan Anak Perempuan") untuk kau pinjam bawa pulang. Aku menyilakan. Kau berkemas mandi dan bersegar diri. Aku menjerang air panas. Kuseduh kopi dua gelas. Kupesan soto pak Min depan kost, diantarkan ke kamarku. Lalu kita sarapan pagi itu dengan soto dan dua gelas kopi panas. Ditingkahi lagi-lagi kau yang pandai berkisah. Keherananku waktu itu tak terbendung. Akhirnya keluar juga pertanyaanku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau jadi pulang ke Demak nggak sih? Bukan aku mengusirmu. Tapi bukankah sekarang sudah jam sepuluh? Bagaimana mungkin kau akan pulang ke Demak. Aku tak yakin kau berani pulang jika di perjalanan keburu gelap"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau hanya tersenyum dan mengatakan padaku; "tahu nggak, Mbak. Aku di kost masih punya seember rendaman pakaian yang belum kucuci". Aku terperangah. Orang satu ini! Kau memang tidak mengatakan mengurungkan niatmu pulang hari itu, meski aku melihatmu serius sekali ingin segera pulang. Dan benar adanya, yang kudengar setelahnya kau memang mengurungkan niatmu pulang karena Umsal tengah membutuhkanmu. Kau mengundur sehari kepulanganmu.&lt;br /&gt;Tepat jam setengah sebelas siang, kau pamit. Di depan pintu kostku, kita berhenti sejenak. Berhadap-hadapan. Kau tersenyum-senyum menatapku, lama. Seperti masih ingin bicara tapi kata-kata seperti bersembunyi entah di mana. Sesungguhnya aku merasa ganjil, "ada apa denganmu, wahai?". Kata-kata pamit muncul dari mulutmu. Kau seperti ingin sekali memelukku. Tapi ragu-ragu. Entahlah detik-detik terakhir adegan kita di depan pintu kostku, sulit kulukiskan keganjilannya. Teriring salamku untuk kedua orang tuamu dan berhati-hati di jalan, kau cium pipiku kanan-kiri, mengucap salam dan berlalu. Saat itulah terakhir kali kita bertemu. Terakhir kali. Terakhir kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suatu Senja yang Buram&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lima hari setelahnya, senja yang murung di hatiku karena saat itu pulalah berbarengan dengan sesuatu menimpa keluargaku, aku menerima telpon dari Milzamah. Mengabarkan kau berpulang ke hadirat-Nya siang tadi. Aku tak tahu. Langit-langit rumah seperti roboh. Aku tidak menangis. Tapi wajahku bingung. Bingung. Bingung. Sejurus kemudian, aku telah berada di tengah sahabat-sahabat yang berkumpul. Semua bermuram. Tidak ada tangis karena memang hanya kebingungan dan ketidaktahuan. Aku bergegas menuju kostmu di Komplek Polri Gowok dibonceng Anto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana tak jauh berbeda ada di kostmu. Kau penghuni baru di sana. Kawan-kawan kostmu tak berani masuk kamarmu. Akhirnya aku masuk (saat itu aku juga mendapat mandat untuk mengambilkan ATM-mu. Adikmu akan menggunakannya). Aku buka-buka semua almarimu, baju-bajumu, jilbab-jilbabmu, peralatan sembahyangmu, buku-bukumu (tak ada bukuku yang kau pinjam itu, ternyata bukuku benar-benar kau bawa pulang ke Demak), kertas-kertasmu yang berserakan di lantai. Aku menemukan kertas-kertas bertuliskan hatimu. Kubawa pulang. Tiba di kamar kost, kuperiksa semuanya. Semuanya ganjil! Kau tak pernah menceritakannya! Kau tulis semua sajak-sajakku yang kutulis di bukuku. Kau masuk dalam sajak-sajak itu. Kau merangkai kata-kata yang tidak aku kenal. Wahai, maafkan kami yang terlambat memahamimu! Ditemani Iis yang akhirnya bermalam di kostku, aku menangis panjang. Aku menangis. Aku menangis...&lt;br /&gt;Aku tak peduli Iis yang bersungut. Ia bingung sekaligus marah oleh keadaan. Sesungguhnya kedatangan Iis pada waktu itu adalah untuk sebuah agenda perpisahan boyongnya ke Banten, tentu saja kau juga menjadi bagian dari agenda terpentingnya, karena kita bertujuh!&lt;br /&gt;Iis bilang padaku bahwa ia sedih sekaligus sakit; pertama, ia baru saja kehilangan ibu di saat kuliah di ujung wisuda, kedua, ia tengah mempersiapkan sebuah "agenda perpisahan" yang tak kalah menyakitkan; berpisah dengan kita semua karena hidup musti dilanjutkan di Banten, sendirian, ketiga, belum sempat bertemu denganmu, kau sudah pergi tak akan kembali, keempat, keadaan yang sempit dan tidak memungkinkan membuat Iis tak bisa hadir di acara pemakamanmu (Iis pasti sangat menyesal). Sekarang aku baru sadar, saat itu barangkali Iis-lah yang paling terpuruk oleh kenyataan di senja yang semakin hitam. Semakin hitam. Semakin hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, jika saja di alam kau berada sekarang ada warung internet, kuingin kau bertandang ke blog-ku dan baca tulisanku ini. Kau baca. Kau baca. Kau baca. Bacalah kerinduanku. Mungkin juga kerinduan semua sahabat-sahabat di sini. Hadirlah dalam mimpiku kembali. Tertawalah keras. Berkisahlah lagi tentang banyak hal; kesendirianmu, kesepianmu, sakitmu, bahagiamu, obsesimu, "Pristi-wa"mu, dan apapun yang kau mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terngiang nyaring dan melengking suaramu, tawa kerasmu. Di sini. Di sini. Di sini...&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Khushûshon lirûhihâ, al-Fâtihah...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9101482359469776760-8281886986941922782?l=sketsajagad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sketsajagad.blogspot.com/feeds/8281886986941922782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9101482359469776760&amp;postID=8281886986941922782' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8281886986941922782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9101482359469776760/posts/default/8281886986941922782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sketsajagad.blogspot.com/2008/01/mendiang-sahabat-aku-rindu-kau.html' title='Mendiang Sahabat, Aku Rindu Kau....'/><author><name>Nda Ree</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15111612902822212694</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://2.bp.blogspot.com/-mQ_kse7ql24/TiETrM_CCzI/AAAAAAAAAUg/4NAguUp7dZ4/s220/IMG_0039.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L4wXm2BhNnA/R43L_4ejBQI/AAAAAAAAACQ/sIxq91vA6x4/s72-c/Almarhumah+Ainul+Izzah....jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
