Senin, 26 September 2011

Secangkir Kopi di Senja Kesekian

Aku menyeduh lalu mengaduk-aduk kopiku dengan perasaan yang teraduk-aduk. Bukan kenapa. Terkadang sesuatu yang mengganjal dan ganjil itu kian melesak. Memaksa hadir. Dalam setiap kesempatan yang tak pernah terencana. Dan kali ini, di sudut senja sebuah beranda. Aku hadir sendiri dengan secangkir kopi di genggaman.

Barangkali kalimat-kalimatku kadung berantakan semenjak awalan. Tak apa. Toh kalimat-kalimat itu tak pernah benar hendak kuhadir-hadirkan dari dalam sini. Ia hadir sendiri. Seperti perasaan yang mengaduk-adukku itu.

Pikiranku menyuruhku untuk berhenti dan sejenak duduk-duduk saja di sini. Menempati salah satu ruang yang selama ini terkunci. Ruang sunyi. Ya, ruang sunyi. Ruang yang menurutku menjadi tempat paling sahih untuk kembali. Ruang di mana aku bisa mengembalikan diriku seutuhnya. Tanpa sesuatu pun syarat kecuali lapang dada yang sepenuh hati.

Selepas ini, barangkali tak akan ada lagi sesuatu yang bertepi. Atas segala pertanyaan. Atas macam-macam pikiran. Atas segundah perasaan penyesalan. Hanya dibutuhkan kuat hati untuk menata-nata kembali. Lengkap dengan aksesoris yang mungkin pernah mati.

Dan, ketika tiba di ruangan ini. Sesuatu tengah berdebar dan menjentikkan nyeri. Tak apa. Barangkali ini yang diistilahkan masa inkubasi. Sebagaimana penyakit yang semestinya kita jauhi...


Sketsajagad, 26 September 2011

0 komentar: