--teringat denganmu
Satu set meja kecil telah dipilih
Seperti memilih hati kita yang kecil
Meski berdua saja mustilah sabar menunggu
Tempat yang ternyata tak pernah bisa menampung sepi dan rindu
Ditingkah gending karawitan yang adalah wajah masa lalu
Dan dihadirkan kembali
Untuk tak menawarkan apa-apa
Lagi kecuali
Dupa dan wewangi bunga sesaji ada di bawah sudut
Meja seolah mengeja
Jiwa kita yang tersudut
Oleh ragu dan sunyi
Setengah jadi
Sungguh selalu ada yang tak sabar
Untuk mendengar
Lipatan hari yang tertempuhi dalam diam
Simpan gugusan titik-titik susah ditebak
Pada mula mana ini semua tersibak
Apa menu makan malam kita kali ini?
Kerinduan lama yang tengah kita jajaki
Menjadi kalimat “barangkali..barangkali..”
Layaknya jiwa yang terbelah dan menganak sungai
Berbatang-batang dari negeri jauh, negeri Nuh
Sejauh dendang negeri para sufi
Lalu, kitab-kitab suci yang pernah kita pegang
Terbang
Tumbuhkan padang ilalang
Menyesatkanku dengan duri onak
Tajam menimbun luka yang terkuak
Maka, usai makan malam
Di kota yang mengecil dalam ceruk mataku
dan hanya mengekalkan sesuatu yang sejatinya tak ada yang baru
Aku menuliskan sejumput kalimat
Mungkin bisa kau sematkan dalam daftar menu
Makan malammu keesokan dan keesokan hari
Lagi dan lagi
Hingga waktu tak berpihak sama sekali
Untuk kita langsungi
Aku sendiri
Raminten, awal Oktober 2010
0 komentar:
Poskan Komentar