Judul : Loge
Penulis : Mezra E. Pellondou
Penerbit : Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2008, 80 halaman
Sastra, dalam hal ini novel, kerap dipakai sebagai pemajang realitas yang tersamar, tak terkecuali realitas perempuan. Di sisi lain, kerap dijadikan sebagai realitas yang dibayangkan dalam bentuk narasi fiksi. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui sastra, sebuah potret resistensi perempuan seakan menemukan wadahnya meski sederhana. Seperti realitas yang mengisi lembar hidup perempuan berkalung adat. Menyorongkan realitas sosial dalam simbol bahasa sastra yang enak dibaca.
Pada tahun-tahun silam, kita mengenal karya sastra yang populer mengangkat sosok perempuan berlatar belakang belenggu adat. Perjodohan dan kawin paksa adalah serangkaian tema yang menggenang di ingatan masyarakat. Siti Nurbaya terbitan Balai Pustaka salah satu contohnya. Mengisahkan bagaimana perempuan dalam genggaman patriarki masyarakat adat, tetap harus tunduk dengan kehendak di luar dirinya. Tak peduli meski pendidikan si perempuan terbilang modern yang sejatinya bisa dijadikan alat perlawanan.
Kisah yang hampir senada ada dalam Loge. Tetapi Loge lebih berliku dari Siti Nurbaya oleh sebab peristiwa incest dan hubungan terlarang lain yang terjadi. Buku yang sangat tipis untuk ukuran sebuah novel ini mengangkat sosok perempuan bangsawan Sumba bernama Rambu Humba. Sebuah narasi besar melilit kehidupannya. Tidak saja persoalan perjodohan secara adat yang telah membuatnya tidak merdeka, tetapi bencana besar tengah mengintainya pada akhir cerita.
Rambu Humba menjalani cinta terlarang. Bukan saja karena laki-laki yang secara sadar dicintai dan dipilihnya menjadi suami adalah Loge, seorang hamba sahaya milik keluarganya yang jelas-jelas melanggar norma keluarganya dan terlarang, tetapi lebih dari itu, ternyata Loge adalah kakak kandungnya dari ibu yang berbeda.
Ibu Loge adalah budak keluarga bangsawan itu, yang dengan paksa telah dilubangi hidupnya oleh ayah Rambu, bangsawan Umbu Bira, hingga melahirkan Loge tanpa seorang pun tahu. Meski hidupnya hancur, budak perempuan itu tak memiliki pilihan selain tetap tinggal dan mengabdi di rumah besar bangsawan itu. Sambil terus menjaga rahasia yang meremukkannya, bertahun-tahun pula ia menjadi budak yang terus disembelih keperempuanannya. Rahasia besar itu menuai petaka karena Rambu Humba dan Loge yang telah lama menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi, melakukan kawin lari tanpa mengetahui bahwa mereka sesungguhnya saudara kandung.
Adat masih sangat kokoh mencengkeram Rambu Humba, meski perempuan bangsawan yang mencintai tanah dan patuh serta hormat pada adat itu sesungguhnya mengenyam pendidikan tinggi dan modern di sebuah universitas negeri di Kupang. Tergambar dari pengakuannya, ”... Kami berdua adalah orang-orang modern yang begitu rasional, tetapi mengapa ya adat tidak bisa menghempaskan kami begitu saja? Di sini, di Sumba ini kami berdua tetap manusia-manusia tradisional yang harus menjunjung teguh adat ...” (hlm. 37). ”Sebagian besar laki-laki dan perempuan Sumba, memegang adat leluhurnya dan selalu membawa langkah mereka kembali ke tanah leluhur ini, walaupun seringkali mereka menyangkalinya ..., cintaku pada tanah dan penghormatanku pada adat, sama bahkan sebanding dengan penyangkalanku terhadap keberadaanku ini, penolakanku serta pemberontakanku...” (hlm. 38).
Belenggu adat yang kian menekan, tak pelak melahirkan pemberontakan. Dua perempuan dalam novel ini memiliki karakter kuat dan radikal. Rambu Humba yang akhirnya memutuskan sendiri kelangsungan hidupnya bersama laki-laki yang dipilihnya dan Kalli, ibu Loge, seorang budak yang mengakhiri novel ini dengan melabrak dan melawan Umbu Bira dengan pedang.
Novel Loge ini sekali lagi meneguhkan persoalan adat yang masih membelit perempuan. Perempuan tetap menjadi warga kelas dua (meski perempuan itu bangsawan bahkan mengenyam pendidikan tinggi sekalipun). Nilai-nilai normatif adat beserta pengagungan terhadap leluhur tidak memberikan kuasa bagi perempuan mengarahkan laju kehidupannya. Ia tetap sebagai mansusia yang harus tunduk terhadap tangan-tangan yang menyetir langkah kakinya. Dan, novel ini berhasil meracik narasi fiksi dan memotret perempuan yang melakukan resistensi radikal akan sistem lokalitas dalam ranah adat yang menjerat kaku perempuan Sumba, negeri yang dikenal dengan sebutan bumi Sandelwood.
2 komentar:
om. mas, sodara...
salam minimalis universal!
dan merdeka buat kaum marginal dengankemakmurannya yang merata bagi negeri kita Indonesia.
kawan, sebelum lebih jauh saya mohon renaisancenya... sebenarnya resistensi itu apasih selain pada kamus inggris. makasih selanjutnya dan selamanya abadi buat yang telah mati. dameeeeee dan sejahtera buat kita semua.
hai kawan, sebelum lebih lanjut dan sebagainya saya minta renaisancenya mengenai resistensi selain pengertiannya yang cukup lapang sekai di kamus inggris yang saya baca.
salam minimalis. dan merdeka buat semua yang termarginal.
Poskan Komentar